![]() |
| sumber gambar: google |
Mayu’s Love
story
(I’m not
stupid just innocent)
By:
Indra Lestari
(Tokyo, musim semi)
Hari ini
cerah, kompak dengan suasana hatiku yang juga cerah :D Aku Mayu 20 Tahun.
Sedikit gambaran tentang diriku, banyak yang bilang Aku ini bodoh, tapi ini
bukan bodoh melainkan innocent :D hari ini Aku begitu semangat menuju stadion sepak
bola kampus. Akan ada pertandingan persahabatan antara sepak bola jurusan hukum
melawan tim sepak bola jurusan seni. Tentu saja Aku mendukung teman-temanku
dari jurusan hukum, apalagi Sano sang kapten adalah pacarku. Aku berjalan
menuju ruang ganti membawa sebotol minuman untuk sano. Pertandingan akan
dimulai kurang dari 30 menit lagi. Tapi, begitu sampai ruang ganti aku tak
melihat Sano disana. Mataku kembali menyapu seluruh ruangan, benar-benar tak
ada sosok Sano. Aku menghampiri Uehara, salah satu teman sano dalam tim. “kau
melihat Sano?” tanyaku. “tadi dia keluar, tapi tidak tau kemana” jawabnya. “oh
begitu yah. Ok, trimakasih” Aku berjalan keluar dari ruang ganti,. Aku berpikir
mungkin saja Sano sudah kelapangan lebih dulu. Botol minuman yang aku bawa
masih ku genggam. Aku berputar menuju lapangan, dan shok! Langkahku terhenti,
mataku terbelalak, botol minuman yang tadi kugenggam erat terjatuh. Aku tak
percaya dengan apa yang aku lihat. Itu memang Sano. Aku marah, dan tangisku
pecah, seakan ingin teriak tapi aku menahan suaraku dan menutup mulutku dengan
kedua telapak tanganku. Sano mencium seorang gadis, gadis itu tidak asing. Dia adalah
anak baru dijurusan hukum. Aku tak percaya, Sano yang 5 bulan ini bersamaku,
dia selalu bersikap manis, membuatku berpikir dia sangat sayang padaku. Tapi,
mungkin aku terlalu bodoh, kali ini aku tak akan berlindung pada kata
“innocent”. Dengan tangis yang masih belum bisa ku hentikan,, aku mundur
perlahan bermaksud pergi begitu membalikan badan buukk! Aku menabrak seseorang.
Sekian detik aku terdiam memperhatikan orang yang aku tabrak sambil terisak. Tubuhnya
jangkung, hidung mancung dan rambut orange.
Seperti itulah gambaran orang yang aku tabrak. “maaf” ucapnya. Aku tak
menjawab, dan langsung lari membiarkan botol minuman yang aku bawa tetap
tergeletak ditanah. Tempat sepi dibelakang stadion kampus menjadi pilihanku.
Rasanya sesak, sangat sulit menarik nafas. Tak pernah menyangka Sano akan
seperti itu. Aku tertunduk membiarkan airmataku keluar. 10 menit berlalu, Kriiing
kriiiing… Handphoneku bordering. “halo” jawabku. “Kau dimana? Pertandingannya
sudah mau mulai” suara Ami diujung telepon. “ohh,, ok” Jawabku lirih, lalu
memutuskan teleponnya. Aku bangkit, berjalan menuju kursi penonton dengan mata
sembab. Dari kejauhan aku sudah bisa melihat Ami, dan langsung menghampirinya. “Kau
dari mana, kenapa lama sekali? Sudah bertemu sano?” tanya Ami. Aku menggeleng
pelan kemudian duduk tepat disampingnya. “Kau kenapa?” tanya Ami lagi, sadar
kalau aku ada yang tidak beres. Aku menggeleng lagi. “Kyaaaaaaaaaaaaa” suara
sorakkan penonton pecah saat dua tim kesebelasan masuk lapangan. Aku menatap
Sano dingin, Ami tampak bingung. Lalu mataku tertuju kekapten kesebelasan tim jurusan
seni. Tidak asing. Aku sedikit terkejut, orang yang tadi aku tabrak ternyata
kapten tim jurusan seni. Suara sorakan kembali pecah. Nama Sano dan Takuma
paling banyak diteriakan oleh penonton khususnya penonton-penonton wanita. “siapa
Takuma?” bisikku. Dengan cepat Ami menjawab “Kapten tim jurusan seni”. Aku
melihat Sano melambai kearahku sambil tersenyum, tapi entah kenapa kali ini
terasa sangat sulit membalas senyumnya. Mataku menangkap sosok wanita yang tadi
dicium Sano. Dia tersenyum menatap kearah Sano. Aku melihatnya sinis, ingin
rasanya menghampiri kemudian menampar wajahnya, tapi tidak kulakukan. Pertandingan
dimulai, tapi pikiranku tak terfokus kepertandingan. Yang aku pikirkan hanya
tentang hubunganku dengan Sano. Tidak lagi! Tidak akan ada lagi hubungan antara
aku dengan Sano. Aku tidak akan memaafkan perbuatanya. Pikiranku melayang
kemana-mana sampai tidak terasa pertandingan sudah selesai. Pertandingannya
berakhir seri 2-2.
Penonton
mulai berhamburan keluar, Aku dan Ami juga ikut bangkit dari kursi penonton.
“Aku duluan yah. Kau temui Sano dulu. Sepertinya ada masalah antara kalian
berdua” ujar Ami, yang bisa mengerti tanpa aku harus menjelaskan. Aku hanya
mengangguk lalu pergi. Lagi-lagi aku melihat gadis itu, gadis yang tadi dicium
Sano. Dia terlihat begitu semangat menceritakan sesuatu pada teman-temanya
kemudian sek-sekali terbahak. Entah apa yang dia ceritakan, mungkin menceritakan
pengalamannya di cium Sano, entahlah. Sano dan teman-temannya masih telihat berkumpul
dipinggir lapangan. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya memutuskan
untuk menghampirinya. Saat akan masuk kearah lapangan aku berpapasan dengan
orang yang tadi aku tabrak “Thanks” ucapnya sambil tersenyum seraya mengangkat
botol minuman. Itu? Iya benar, itu botol minuman yang tadi aku jatuhkan, dan ternyata
dia mengambilnya. Aku sedikit heran, tapi kemudian pikiranku kembali terfokus
pada Sano. Sano yang sudah melihatku dari kejauhan langsung datang mendekat. “hei,
dari mana saja? Tadi aku menunggumu diruang ganti” katanya seraya memegang
wajahku dengan kedua telapak tangannya seperti tidak ada apa-apa. Aku diam,
lalu dengan cepat melepaskan tanganya. “kenapa?” Tanyanya. Aku berpikir, kenapa dia masih bisa bersikap
semanis ini setelah apa yang sudah dia lakukan. “Mayu ada apa?” tanyanya lagi.
“aku tadi keruang ganti, tapi kau tidak ada” jawabku. “Apa?” Sano seperti
terkejut. “Aku melihat kau dengan anak baru itu!” ucapku tegas. Dari
ekspresinya, aku bisa melihat Sano sangat terkejut. “ii,,itu… aku bisa
jelaskan” Sano terbata-bata. “kau tidak perlu menjelaskan apapun”. Tegasku.
Sano terdiam. “aku sudah bilang sebelumnya, tidak akan ada maaf untuk yang
seperti ini” sambungku. Suaraku bergetar menahan agar aku tidak menangis
didepannya. akan sangat memalukan jika sampai menangis di tempat ini. “Mayu,
ini tidak seperti yang kau pikirkan” Sano mencoba membela diri. “lalu seperti
apa? yang aku lihat sudah cukup menjelaskan semua. Kau menciumnya!”. “Mayu,
akuuuu” belum sempat Sano menyelesaikan kalimatnya, aku memotong “kali ini aku
tidak bisa memaafkanmu” ucapku. “kak sanooo….” Tiba-tiba seseorang terdengar
memanggil sano. Aku menoleh, sulit di percaya bahkan saat aku disinipun gadis
itu berani terang-terangan datang menemui sano. “pacarmu datang. Aku rasa semua
sudah jelas” kataku kemudian pergi. Sano masih mencoba mencegah tapi sama
sekali tak kupedulikan. Aku mencoba terlihat tegar dihadapan Sano, padahal
sesungguhnya ini menyakitkan. Setelah yakin sudah menghilang dari pandangan
Sano barulah aku benar-benar menangis. berpisah seperti ini sangat berat sampai
membuat lututku gemetar tak mampu berdiri. Sakitnya tak bisa dijelaskan. Aku
duduk dibangku dekat parkiran. berpikir, sejak kapan aku dibodohi oleh mereka
berdua. Aku tertunduk, selanjutnya aku harus bagaimana saat nanti bertemu Sano.
Aku harus berkata apa saat tiba-tiba berpapasan denga Sano yang sedang
bergandengan dengan gadis itu? Memikirkannya saja sudah sangat sesak.
Brum… brum… seseorang yang mengendarai
sepeda motor tiba-tiba berhenti didepanku. Aku mengangkat wajahku, dia memakai
seragam kesebelasan tim jurusan seni. Perlahan dia membuka helmnya, dan
ternyata dia kapten kesebelasan tim seni, orang yang juga tidak sengaja aku
tabrak tadi. “sepertinya kau memiliki
hobi menangis ditempat sepi. Itu sungguhan atau sedang berlatih drama? Mana ada
orang yang menangis sesering itu, ditempat umum pula” katanya dengan ekspresi
datar. Ini memalukan mendengar dia berkata begitu. Aku tak menjawab, hanya
buru-buru bangkit dari bangku tempatku duduk kemudian pergi.
Malam
harinya aku menceritakan semuanya kepada Ami melalui telepon, dan hari itu
hubunganku dengan Sano benar-benar sudah berakhir. Hari kedua, ketiga, keempat,
sampai akhirnya genap seminggu sejak aku putus dengan Sano. Kampus masih
menjadi tempat yang tidak nyaman untuk aku datangi. Harapan satu-satunya saat
sedang dikampus adalah semoga tidak bertemu Sano, Aku bersyukur setidaknya kami
tidak sekelas. Menurut rumor yang beredar sekarang Sano pacaran dengan gadis itu, bukan hal yang muda menerima itu
tapi setidaknya harga diriku terselamatkan karena aku yang pertama memutuskan
Sano. “Mayu, setelah ini mau kemana?” tanya Ami. “entahlah, mungkin akan
langsung pulang” jawabku seraya membereskan buku-buku kuliah. “yaaahh,, jangan
pulang dulu. Temani aku yah, aku dengar diujung jalan sana ada café yang baru
buka. Aku ingin lihat tapi tidak mau kalau harus pergi sendiri. Temani aku yah”
Ami memohon, dan sulit rasanya menolak permintaan sahabatku “Baiklah” Jawabku.
Setelah semua buku-buku dibereskan dan dimasukkan kembali kedalam tas, kamipun
meninggalkan kelas. Jarum jam menunjukan pukul 4 sore. Saat berjalan di koridor
dari kejauhan aku melihat Sano. Dia tersenyum tipis, tapi aku memalingkan wajah
seolah tak melihat. Masih butuh waktu buatku sampai benar-benar bisa
memaafkannya dan menerima dia sebagai teman. 10 menit berjalan kaki, sampailah
kami di café itu, tidak begitu jauh dari area kampus. Tempatnya tidak begitu
besar tapi lumayan bagus untuk tempat berkumpul. Begitu masuk kedalam sudah
lumayan banyak pengungjung yang datang. Beberapa diantaranya teman-teman dari
kampusku. “waaahh,, tempatnya bagus” Ami terlihat sangat menyukai tempatnya.
Ami menarikku menuju meja yang jaraknya kira-kira 5 meter dari panggung, lalu
memesan minuman. Panggung itu masih kosong, hanya ada beberapa ada alat musik
disana. “kau suka tempat ini?” tanya Ami. “Hmm… iyah. Tempat ini lumayan”.
“hah, baguslah kalau kau suka. Aku akan sering-sering mengajakmu kesini” lanjut
Ami sambil tersenyum lalu meraih ponselnya yang ada di tas. Dia terlihat begitu
semangat menulis pesan “kau mengirim pesan kesiapa?” tanyaku. “kenalan”
jawabnya. “pacar?” tanyaku lagi. Ami terihat sedikit berpikir sebelum akhirnya
menjawab “bukan pacar, tapi teman dekat. Dia anak jurusan seni, katanya dia dan
bandnya kerja paruh waktu di café ini” Ami menjelaskan. “huft, pantas kau
begitu semangat kesini”. Hampir 15 menit duduk di café ini, perlahan-lahan
mulai biasa dengan suasananya dan aku cukup menyukainya.
“selamat
sore semua” suara terdengar berasal dari arah panggung. Semuanya menoleh.
Disana telihat seorang pria yang berusia sekitar 40an. “saya mengucapkan
terimakasih untuk respon positif para pengunjung sekalian , dan mulai hari ini
akan ada band lokal yang akan menghibur
kalian disini. Semoga kalian menyukainya. Dan inilah mereka, D’reD!!!”, dari
caranya berbicara sudah jelas itu pemilik café ini. Semua bersorak saat nama
Band itu disebutkan. “Ahh, itu dia”. Ami menunjuk kearah Drumer band itu. Suara
sorakan semakin kencang saat gitaris sekaligus vocalist naik keatas panggung. Aku
terdiam, sedikit tidak percaya denga apa yang aku lita. Lagi-lagi dia. Orang
yang waktu itu tidak sengaja aku tabrak. Kapten kesebelasan sepak bola tim jurusan
seni. Suara sorakan semakin menjadi-jadi saat lagu mereka mulai dimainkan.
Kebanyakan pengunjung yang datang adalah anak-anak dari jurusan seni. Sepertinya
band mereka cukup terkenal dikalangan anak-anak jurusan seni.
Saat D’reD
selesai perform, semua personilnya turun panggung dan memilih meja yang tidak
jauh dari meja kami. Seketika beberapa cewek langsung datang menghampiri
mereka. Kalau diperhatikan dari 4 personil band itu sang covalislah yang lebih
banyak dihampiri para cewek. Tak lama
kemudian si drummer datang menghampiri kami. “tadi itu pertunjukan yang hebat”
Ami memuji. “begitu yah? terimakasih pujiannya” jawab si drummer sambil
tersenyum lebar. “oh iya kenalkan, ini sahabatku Mayu” aku tersenyum “Senang
bertemu. Aku mayu”. Jawabku memperkenalkan diri. “senang bertemu, Namaku Ryu”.
Drummer itu juga memeperkenalkan diri. Dia sepertinya orang yang periang,
selain itu juga sangat ramah. Kriiing
kriiing, ponselku tiba-tiba berdering. Itu telepon dari ibu. “halo ibu”.
Aku mengangkat telepon. “um baiklah, aku pulang sekarang”. Sambungku lalu
memutuskan telepon. “ada apa?” tanya Ami. “Aku harus pulang sekarang” jawabku.
“ohh, ya sudah ayo kita pulang”. “ehh tidak usah, aku pulang sendiri saja.
Ryukan baru saja datang, kalian ngobrol saja dulu” kataku. “Mayu, kau yakin tidak
apa-apa harus pulang sendiri?”. Ami kelihatan ragu utnuk membiarkanku pulang
sendiri. “um, tidak apa-apa” jawabku mencoba meyakinkan, lalu perlahan bangkit
dari tempatku duduk. “Ryu, aku duluan yah. Aku titip Ami” pamitku. Ryu
tersenyum lebar sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan. Akupun berjalan keluar
dari café itu. Aku baru memperhatikan papan nama café itu, dan disana tertulis Le’Luna café nama yang sedikit aneh, entah
apa artinya. Dari café itu aku harus berjalan kurang lebih 100 meter menuju
halte bis, baru setengah perjalanan langkahku terhenti karena suara klakson
motor yang tiba-tiba berhenti didepanku. Pengendara motor itu membuka kaca
helmnya. Itu sang vocalis, alias kapten kesebelasan tim sepak bola jurusan seni
alias orang yang waktu itu tak sengaja aku tabrak. “Naiklah!” serunya. Aku
terdiam, sedikit bingung dengan apa yang aku dengar. “kau teman Ami kan? Ami
memintaku untuk mengantar kau sampai rumah” sambungnya. Aku masih berpikir, tak
berani mengambil keputusan. “Mmmm… tidak usah, Aku pulang sendiri saja”
jawabku. “tenang saja, aku jamin kau sampai rumah dengan selamat. Anggap saja,
ini ucapan terimakasih karena waktu itu kau sudah memberiku minuman” katanya
lagi. Pikiranku melayang kewaktu itu, waktu dimana aku menjatuhkan minuman itu.
Aku sama sekali tak pernah berpikir akan memberikan minuman itu padanya,
huffttt orang aneh. Tapi, karena melihat niatnya tulus akhirnya aku memutuskan
untuk ikut. “oke. Pastikan kau mengantarku sampai rumah dengan selamat!” akupun
berjalan kearahnya kemuudian naik kemotornya. Dia tersenyum tipis, kemudian
memberiku helm. Akupun meraih helm itu dan langsung memakainya. Lama tak pernah
naik motor, begitu naik motor lagi rasanya sedikit tegang. Aku menarik kencang
jaketnya, sambil menutup mata, tak berani melihat sekeliling saat motor itu
melaju cukup kencang. Tiba-tiba aku merasakan tangannya, meraih tangaku yang menarik
kencang jaketnya, kemudian melingkarkannya kepinggangnya. Suasananya berubah
canggung. Yang aku pikirkan adalah, aku ingin cepat-cepat sampai rumah supaya
bisa keluar dari suasana canggung seperti ini, dan yippiiii! Kurang dari 15 menit aku sampai rumah. “Terimakasih
Takuma” kataku. Dia kelihatan sedikit terkejut karena aku tau namanya. “Saat
pertandingan waktu itu banyak yang meneriakan namamu, tadi waktu di Le’Luna café juga seperti itu jadi bukan
hal yang sulit untuk mengingat namamu” jelasku. Dia tersenyum. “begitu yah”
katanya. “oh iya, soal dramamu semoga berhasil yah” sambungnya lagi. Agak lucu
mendengarnya. Dia masih mengira kalau waktu itu aku sedang berlatih drama. “um,
trimakasih” aku mengangguk sambil menahan tawa. “kalau begitu aku pergi sekarang,
aku harus kembali ke Le’luna café”. “ok,
sekali lagi terimakasih” jawabku. Diapun kembali meng’gas motornya kemudian
melaju kencang sampai akhirnya menghilang dipembelokan. Such a nice guy J akupun bergegas masuk kerumah.
Hari-hari
berlalu, tak terasa bunga sakura mulai bermekaran. Bagian yang paling aku suka
dari musim semi adalah bunga sakura yang bermekaran. Seketika membuat kota
seperti berwarna pink. Hari ini aku ada rencana keperpustakaan tapi Ami tak
bisa menemani. Akhir-akhir ini dia sedikit sibuk dengan Ryu. Tapi aku
memaklumi, sebagai pasangan baru mereka pasti ingin lebih banyak menghabiskan
waktu berdua. Aku berjalan menyusuri koridor menuju perpustakaan universitas.
Tapi saat sampai dipintu perpustakaan langkahku terhenti ketika menatap sosok
yang sama sekali tidak ingin kulihat ada ditempat itu. Sano dan anak baru itu
sedang duduk berduaan di salah satu bangku perpustakaan. Aku mengurunkan niatku
untuk masuk, tidak mungkin aku bisa berpura-pura tidak melihat mereka,
sementara jika aku memutuskan untuk masuk keperpustakaan jelas aku harus lewat
tepat didepan tempat mereka duduk. Aku terdiam sejenak, berpikir harus seperti
apa. Tapi kemudian aku dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menggandeng
tanganku lalu menarikku masuk keperpustakaan. Aku menoleh dan itu Takuma. Aku
melihatnya bingung, dan dia hanya tersenyum. Senyum yang hangat, seperti
membuatku merasa tentram. “bersikap biasa saja, dan tersenyumlah” bisiknya
sambil terus menggandengku melewati Sano dan gadis itu. Dan thank god aku terselamatkan. Setidaknya
aku tak terlihat seperti pecundang khusunya didepan gadis itu. Kami duduk agak
jauh dari tempat Sano duduk. “kau, kenapa bisa ada disini?” tanyaku. “aku harus
mencari bahan untuk tugas. Aku melihat kau seperti ragu untuk masuk jadi kuputuskan
untuk menarikmu” jelasnya sambil tersenyum. “mmmm,, aku akan mencari beberapa
buku yang kubutuhkan”lanjutnya. “oh iya, akau juga akan mencari beberapa buku
yang aku butuhkan” jawabku lalu ikut bangkit menuju rak buku. Sebenarnya Aku
bertanya-tanya, kenapa dia melakukan itu, apa mungkin dia tau masalahku dengan Sano,
atau mungkin tadi itu hanya kebetulan. Katanya dia menarikku masuk karena
melihatku seperti ragu-ragu untuk masuk. Tapi apapun itu aku tetap
berterimakasih. Beberapa jam berlalu. Jam tanganku menunjukan pukul 5 sore.
Sano dan gadis itu juga sudah tak terlihat lagi. “sepertinya sekarang aku harus
pergi” kata Takuma. “aku juga, aku harus pulang sekarang” jawabku. Kami mulai
merapikan beberapa buku yang berserakan diatas meja sebelum akhirnya keluar
dari perpustakaan. Kami berjalan menyusuri koridor “Terimakasih untuk hari ini”
kataku. “trimakasaih untuk apa?” tanyanya. “Entahlah, yang jelas hari ini aku
berterimakasih” jawabku. Dia tersenyum lagi kemudian berkata “baiklah, walaupun
aku tidak tau itu terimakasih untuk apa, tapi sama-sama, Mayu-chan”. J oke, cowok
ini memiliki bakat untuk membuat cewek jatuh cinta hanya dengan melihat
senyumnya. Senyumnya benar-benar menghangatkan. “Kau mau langsung pulang?”
tanyanya. “um!” aku mengangguk. “mau aku antar?” “oh, tidak usah. Inikan
waktunya kau ke Le’Luna café”.
Jawabku. “kau yakin?” “um” aku mengangguk lagi. “pergilah, nanti kau bisa
terlambat” sambungku. “baiklah. Sampai jumpa lagi”. “sampai jumpa” jawabku,
sambil membiarkan mataku melihatnya yang berjalan menjauh.
Beberapa
hari berlalu. Aku merebahkan tubuhku sambil menatap langit-langit kamarku, hal
yang selalu aku lakukan ketika sedang tidak ada kerjaan. Pikiranku melayang
kekejadian diperpustakaan itu. Bukan ketika aku melihat Sano dan gadis itu,
tapi ketika Takuma menggandeng tanganku. Aku merasa seperti ada yang
menggelitik setiap kali mengingat kejadian itu. Takuma. Dia cowok yang baik,
tapi akan berhadapan dengan puluhan bahkan mungkin ratusan cewek penggemarnya
jika memutuskan untuk suka sama dia. Huffttt, kali ini pikiranku benar-benar
mulai kacau. Kriiiiing kriiiiiing! Lagi-lagi
ponselku tiba-tiba berdering, seketika membuatku tersadar dari lamunan yang
mulai mengarahkan kepemikiran gila. Dan itu pesan dari Ami –Datanglah ke Le’Luna café, hari ini aku
sedang bahagia jadi aku yang traktir J- ku lirik
jam, pukul 18.30. Kebetulan aku sedang bosan dirumah, jadi memutuskan untuk
pergi. 30 menit kemudian, here I am at
Le’Luna café. Begitu masuk aku langsung melihat Ami yang duduk sendirian.
Takuma, Ryu dan dua temanya sedang menghibur para pengunjung dengan lagu-lagu
mereka. “Mayu” Ami melambai dari kejauhan, akupun langsung berjalan menghampirinya.
“hei, apa yang membuat kau bahagia? Ryu melamarmu?” tanyaku menggoda. “Haahh,,
kau ini. Mana mungkin” Ami mengkerling. “tidak ada alasan khusus yag jelas hari
ini aku sedang bahagia” sambung Ami. “hah,, kau ini” Kali ini aku yang
mengkerling, kemudian mencicipi minuman yang sudah dipesan Ami. “haiii Mayu”
suara yang tak asing terdengar memanggilku. Aku menoleh, dan itu Sano. “Boleh
aku duduk disini?” tanyanya. Aku heran, kenapa bisa dia ada disini, tapi
kemudian aku berpikir sampai kapan aku harus terus marah dan menghindarinya.
Kejadian itu sudah lebih dari sebulan, mungkin sebaiknya aku mulai belajar
memaafkan, dan menerima Sano sebagai teman. “um, silahkan” jawabku. Ami
menatapku penuh tanya, dia terlihat kesal, aku hanya membalasnya dengan senyum.
“kenapa kau bisa ada disini?” tanyaku. “beberapa temanku bilang akan kesini,
tapi sepertinya mereka sudah pergi” jawab Sano. Ami hanya diam, terlihat tak
begitu tertarik untuk bicara denga Sano. “Mmm,, kenapa sendirian? Kau tidak
bersama… siapa namanya?” tanyaku lagi. “Namanya Rieka”. Jawab Sano cepat.
“sepertinya dia sedang banyak tugas jadi tidak bisa ikut” sambungnya. “oh,
begitu yah”. Aku tersenyum. “ehem, Mayu aku ketoilet sebentar” Ami memotong.
“oh, baiklah” jawabku. Ami pun bergegas pergi dan tinggalah Aku bersama Sano. Wajahnya
berubah serius. “Kau ingin pesan minum?” tanyaku. “ohh tidak usah, aku tidak
akan lama” jawabnya. “Mayu… karena aku bertemu kau disini, aku sekalian ingin
meminta maaf karena sudah menyakitimu” sambung sano. Aku sedikit terkejut mendengarnya
berkata seperti itu. Aku menarik nafas panjang, mengingat kejadian itu memang
membuatku sedikit kesal tapi yang sudah lalu biarkan saja berlalu. “sudahlah,
lupakan saja. Aku sudah tidak marah. Baik-baiklah pada gadis itu” aku mencoba
bijak, tapi jujur aku memang sudah bisa mengikhlaskannya. Sano hanya tersenyum
dan tak berkata apa-apa lagi. D’reD selesai perform, dan Ryu langsung datang
mengampiriku. “Ami mana?” tanyanya. “ketoilet” jawabku. Aku menoleh kearah Takuma,
dia masih diatas panggung, terlihat mengotak atik gitarnya, wajahnya terlihat
kusut tidak seperti biasanya, tapi aku tak berani menanyakannya pada Ryu. Tak lama
kemudian Ami datang “Haahh,, sepertinya popularitas D’reD cukup berhasil
menarik cewek-cewek untuk datang, sampai-sampai antrian toilet hrus sepanjang
itu” keluh Ami. Ryu hanya tersenyum, sepertinya dia sudah mulai terbiasa dengan
sikap Ami yang selalu mengeluh walaupun Cuma karena hal-hal kecil. “Hmm… kalau
begitu aku pergi sekarang. Aku tak ingin mengganggu acara kalian” ujar Sano,
“um, sampai jumpa” jawabku. Sanopun kemudian pergi. “Apa yang dia katakan?” Tanya Ami ingin tau.
“Tidak ada, dia hanya minta maaf” ‘”hah, masih berani dia minta maaf setelah
apa yang sudah dilakukan padamu. Berselingkuh dengan anak baru yang bahkan
tidak lebih baik darimu”. Kali ini Ami terlihat emosi, seperti biasanya selalu
dia yang lebih menggebu-gebu. “sudahlah, kejadianya sudah lumayan lamakan? Aku
juga perlaha-lahan sudah mulai lupa”. “Haahh,, kau ini” Ami masih kesal,
kemudian dia mengalihkan pandanganya kearah Ryu “Kalau kau berani selingkuh aku
akan membunuhmu!” sambungnya. “heii,
heiii,, tenang saja aku bukan orang yang seperti itu” jawab Ryu tenang, aku
hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
Aku kemudian
menoleh kearah Takuma. Dia terlihat sibuk meladeni para cewek yang mengajaknya
berfoto bersama. Aku bisa melihat matanya yang sek-sekali melihat kearahku,
tapi malam ini dia agak aneh. Dia tidak tersenyum seperti biasanya saat menoleh
kearahku. Ryu kemudian bangkit dari kursinya dan kembali keatas panggung.
Waktunya D’reD membawakan lagu yang berikutnya. “kenapa dia?” tanyaku. “siapa?”
Ami balik bertanya, tak mengerti siapa yang aku maksud. “Takuma. Dia agak aneh,
tidak seperti biasanya”. Jelasku. “masa sih?” Ami bingung. “aku tidak melihat
ada yang aneh. Dia masih seperti biasanya.” Sambungnya. “begitu yahh?”.
Walaupun Ami bilang tidak ada yang aneh,
tapi tetap saja aku merasa cara Takuma melihatku berbeda dari biasanya. Huffttt,,
tak seharusnya hal yang seperti ini mengganggu pikiranku.
Hari ini
tepat dua bulan sejak aku putus dengan Sano dan Tepat dua bulan saat pertama
kali aku bertemu Takuma. Anehnya, Sano sekarang lebih sering terlihat sendiri
dibandingkan bersama gadis yang bernama Rieka itu. Tapi terserahlah toh itu
juga bukan urusanku. “Mayuuu” panggil
Ami yang baru saja tiba diruangan tempat aku duduk. “Sedang apa kau
disini?” tanyanya. “Apa tidak bosan membaca terus?” tanyanya lagi seperti sudah
tau apa yang sedang aku lakukan. Aku menggeleng sambil tersenyum. “haaahh,, kau
ini. Ayo ke Le’Luna” Ajaknya. Aku
menggeleng lagi. “Ahhh,, Mayu ayoooo” kali ini Ami mulai memaksa. “beri satu
alasan kenapa aku harus ikut kau ke Le’Luna?”
Ami terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab “karena kau rindu
Takuma jadi kauh harus ke Le’Luna
agar bisa melihatnya” :D “Apa???” aku terkejut mendengar jawaban Ami.
“sudahlah, jangan banyak bicara ayo pergi”. Ami seperti tak lelah membujukku.
“hmmm,, baiklah. Tapi kau kesana duluan, aku harus mengembalikan buku
keperpustakaan nanti setelah itu aku akan menyusul”. Jawabku. “oke, sampai
ketemu disana. Jangan lama-lama yah?”. Ami bergegas pergi dan akupun bergegas
menuju perpustakaan. Setelah
mengembalikan buku, Aku berjalan menuju Le’Luna
café. Aku melirik jam tanganku, pukul 18.00. begitu sampai disana, aku
melihat Takuma berdiri di depan Le”Luna
café, awalnya aku ingin langsung menghampirinya, tapi ternyata dia tidak
sendiri. Langkahku terhenti setelah tau dia bersama seorang gadis. Dan gadis
itu tidak asing, itu Rieka. Aku tau ini tidak sopan, tapi aku penasaran ingin
tau apa yang mereka bicarakan, karena itu aku tetap bersembunyi dibalik tembok
dan mencoba mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. “Kenapa kau
memanggilku kesini?” tanya Takuma. “maaf, Namaku Reika. Aku sudah lama menyukai
kak Takuma. Maukah kak Takuma jadi pacarku?” Aku bertanya-tanya, bagaimana
mungkin? Bukannya Reika itu pacar Sano? Takuma terdiam, mungkin berpikir harus
menjawab seperti apa. Aku bergegas pergi meninggalkan tempat itu, aku tidak
tertarik lagi untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Aku marah walaupun tau aku
sama sekali tak punya hak untuk marah. Tidak hanya Sano, tapi cowok manapun
pasti tidak akan bisa menolak kalau didekati cewek yang cantik seperti Reika. Terus
terang Aku merasa sedih, walaupun tak bisa menjelaskan kenapa aku sedih. Aku
menahan agar air mataku tidak jatuh, Akan sangat memalukan kalau air mataku
harus jatuh karena suatu hal dimana aku tidak memiliki hak untuk menangisinya.
Aku tau alasannya kenapa aku merasa seperti ini, tapi tidak mudah mengungkapkan
perasaan dan menjelaskan alasan itu. Kriiing
kriiing! Ponselku berdering, telepon dari Ami. “Mayu, kau dimana? Kenapa
lama sekali?” Tanya Ami diujung telepon. “Ami maafkan Aku, sepertinya Aku tidak
bisa kesana. Tiba-tiba ada hal penting yang harus aku kerjakan”. “Loh,, hal
penting apa? Kaukan sudah janji akan datang” Ami terdengar kecewa. “Maaf yah
Ami, lain kali saja. Aku harus pergi sekarang” Tit! Aku memutuskan teleponnya.
Keesokan
harinya. Aku datang kekampus lebih cepat dari biasanya, tapi tak lama kemudian
Ami juga datang. “Mayu, kenapa kemarin tiba-tiba menghilang tanpa kabar?”
Tanyanya. “maaf, Ibuku tiba-tiba menelpon”, jawabku mencari alasan. “Haah, kau
ini. Padahal kemarin Takuma menunggumu” sambung Ami. “oh ya, kenapa?” jawabku
lirih. “heii,, ada apa? Kenapa jawabanmu dingin seperti itu?”. Ami sepertinya
menyadari kalau ada sesuatu. “Mayuu” Seseorang tiba-tiba memanggilku, dan
ternyata lagi-lagi itu Sano. “Haii” Sapaku. Ekspresi Ami tiba-tiba berubah
begitu melihat Sano. Ponselnya juga tiba-tiba berdering. “Aku keluar sebentar
yah, ada telepon dari Ryu” Ami pun kemudian berlari keluar ruangan. “Bagaimana
kabarmu?” Tanya Sano. “Baik. Kau sendiri?” Aku balik bertanya. “Baik juga”.
Jawabnya. Jujur saja aku sedikit penasaran ingin tau bagaimana hubungannya
dengan Reika, tapi aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakan hal itu. “Akhir-akhir
ini kau terlihat lebih manis” katanya tiba-tiba. Dia menatapku dalam, membuatku
merasa canggung. “dua bulan terakhir ini, apa kau baik-baik saja?” Tanya lagi.
“um, aku baik-baik saja. Kenapa bertanya seperti itu?”. “Tidak apa-apa. Aku
hanya berpikir, mungkin akan lebih baik jika………” belum sempat Sano meneruskan
kalimatnya Ami tiba-tiba kembali. “Mayu, sore ini kau ada waktu?” ami memotong
pembicaraan Sano. “Sore ini aku ada janji dengan Ibu. Ada apa?” Tanyaku. “dua
hari lagi Ryu ulang tahun, Aku ingin meminta kau menemaniku mencari kado, tapi
kalau kau tidak bisa tidak apa-apa. Aku akan pergi sendiri”. “Maaf yah Ami”.
Ucapku. “Tidak apa-apa J”. Aku kembali fokus ke Sano. “oh ya, tadi
kau mau bilang apa?” Tanyaku. “Mmm… tidak apa-apa. Lupakan saja” Jawab Sano.
“sepertinya Aku harus kembali kekelasku sekarang” sambungnya. “oh, baiklah.
Sampai jumpa”. “Sampai jumpa” jawabnya, lalu pergi. Ami menatap sinis kearah
Sano yang berjalan menjauh sebelum akhirnya menghilang dari pandangan kami
berdua. “dia bilang apa?” Tanya Ami. “Tidak ada. Dia hanya menyapa, dan
bertanya apa aku baik-baik saja”. Jelasku. “hah,, untuk apa dia bertanya
begitu?”. Ami mulai sinis. “Entahlah. Sudah tidak usah dibahas. Ayo duduk,
sebentar lagi pelajaran akan dimulai!”.
Malam
harinya. Tugas kampus tidak begitu banyak sehingga Aku memiliki waktu untuk
membantu ibu menyiapkan makan malam. Sejak Ayah dan Ibu bercerai kami hanya
tinggal berdua, sedangkan ayah pindah ke cina dan membuka usaha disana. “Sudah
lama Sano tak pernah datang lagi kesini, kalian bertengkar?” Tanya Ibu
tiba-tiba. Aku memang tak pernah sekalipun menceritakan tentang masalahku
dengan Sano pada Ibu. Ibu juga belum tau kalau Aku dan Sano sudah putus. Tapi,
setelah dipikir-pikir aku memang tidak bisa terus-terusan menyembunyikan hal
itu dari ibu, karena cepat atau lambat dia pasti akan tau. “Mayu, kenapa diam
saja?” Tanya ibu lagi, karena aku tak juga menjawab. “Hmm,, Aku dan Sano sudah
putus Bu”. Jawabku. Ibu sedikit terkejut. “Apa? Kenapa bisa?”. “Sepertinya kami
kurang cocok dalam beberapa hal, tapi kami tetap berteman”. Aku berpikir tidak
mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya pada ibu, lagipula itu sudah cukup
lama, jadi sebaiknya tidak usah diungkit-ungkit lagi. “Hmm,, begitu yah. Ibu
tidak mau terlalu banyak ikut campur dalam urusan kau dan Sano. Kau sudah
dewasa, jadi sudah pasti bisa mengambil keputusan sendiri”. “um, iya ibu”. Kriiiiiing…kriiiiing!
Ponselku berdering lagi. Aku memperhatikan layar, Sano calling! Aku sedikit bingung, ini pertama kalinya Sano
menelponku semenjak kami putus. “Halo” Akhirnya kuputskan untuk menjawab
teleponnya. “Mayu…” Suara Sano diujung telepon. Tapi suaranya sedikit aneh, dia
terdengar terbata-bata dalam berbicara ditambah lagi suara gaduh disekitarnya
membuatku semakin sulit untuk mengerti apa dia katakan. “Sano? Ada apa?”
tanyaku. “Mayu, aku mohon kau datanglah kesini” pintanya. “kau dimana?”
“Le’Luna” Sambung Sano dan teleponnya pun terputus. Aku sedikit panik, suaranya
terdengar aneh. Tidak biasanya dia seperti itu. “Ada apa?” Tanya Ibu. “Ibu, aku
harus pergi sebentar”. Jawabku kemudian secepat mungkin berlari keluar rumah
dan menuju halte bis. Ibu sama sekali tak mencegahku, sepertinya dia tau kalau
ini benar-benar darurat. Sekitar 15 menit kemudian aku sampai di Le’Luna café. Tanpa pikir panjang aku
langsung masuk kedalam. Sempat berhenti sebentar didepan pintu, melempar
pandangan keseluruh ruangan mencari sosok Sano. Kebetulan saat itu D’reD sedang
tampil. Tapi, mataku kemudian terfokus ke Sano yang duduk sendirian dimeja yang
penuh botol alkohol, sepertinya dia mabuk. Aku menghampirinya. “Sano? Kau
kenapa?” Terus terang aku sedikit terkejut melihat Sano dalam keadaan seperti
ini. Sebelumnya dia tak pernah minum alkohol sampai semabuk ini. Sano
memandangku, sepertinya melihatpun dia agak sulit, terlihat jelas saat dia
berusaha mengenaliku. “Mayuuu” suaranya terbata-bata. Aku sedikit pusing dengan
kegaduhan di tempat di Le’Luna. D’reD
yang sedang tampil, ditambah suara sorakan gadis-gadis fans mereka, dan aku
harus berusaha keras untuk mengerti perkataan Sano yang tidak begitu jelas.
“Mayuuu” ujar Sano lagi. Kali ini dia memegang wajahku dengan kedua telapak
tangannya. Situasinya canggung. “Sano, kau tidak seperti biasanya. Kenapa minum
sebanyak ini?” aku berusaha melepaskan tangannya dari wajahku. “Mayuu,, maafkan
Aku. Aku pikir putus darimu itu sebuah kesalahan. Kembalilah Mayu”. Sano
tiba-tiba memelukku erat. “Jangan seperti ini Sano, lepaskan aku” “Mayu, aku
mohon”. Dalam suasana gaduh aku berusaha keras melepaskan diri dari pelukan
Sano, tapi pelukannya malah semakin erat. Jujur saja aku marah, dan terus
berusaha melepaskan diri. Namun kegaduhan tiba-tiba berhenti, saat Takuma
tiba-tiba berhenti menyanyi, melepas gitarnya lalu turun dari panggung café dan
berjalan cepat kearahku, menarik Sano dan Bukkk!!! Satu pukulan didaratkan
tepat diwajah Sano sehingga membuat Sano terpental kelantai. Suasana tiba-tiba
hening. “Apa-apaan kau?!” Aku reflek mendorong Takuma. Hidung sano berdarah.
“Kau tidak apa-apa?” tanyaku, tapi Sano tak menjawab, dia hanya menggeleng
pelan. Aku menatap Takuma tajam “Apa masalahmu? Kenapa kau tiba-tiba
memukulnya?” Tanyaku sinis. “Si brengsek itu memang pantas aku hajar. Dia
berbuat tidak sopan padamu” Takuma menjelaskan. “Itu bukan urusanmu!”. “Takuma,
sudahlah”. Ryu datang menenangkan Takuma. Aku bisa melihat jelas, kalau Takuma
benar-benar sedang emosi. Dia kemudian berjalan keluar café tanpa mengatakan
apapun. Untuk beberapa saat, semua pandangan para pengunjung tertuju pada kami.
“Mayu, kau butuh bantuan?” Tanya Ryu. “Tidak usah, aku akan menelpon kakaknya
untuk menjemputnya”. Jawabku, lalu meraih ponsel disakuku dan menghubungi kakak
Sano.
Sekiatar 30
menit kemudian, kakak laki-laki sano datang kemudian memapah sano menuju mobil.
“Mayu, maaf merepotkanmu” katanya. “Tidak apa-apa kak”. Jawabku. “Baiklah,
kalau begitu aku pergi sekarang”. Aku mengangguk, kakak Sanopun bergegas masuk
mobil dan pergi. Hufffttt,, malam yang melelahkan dan sedikit memalukan. Aku
baru teringat, aku bahkan belum makan malam. Aku bermaksud untuk langsung
pergi, tapi aku terkejut melihat Takuma yang sedang duduk didepan café. Dia
melihat kearahku, tapi aku sedang tidak ingin bicara padanya. Aku memutuskan
untuk terus jalan dan bersikap seolah tidak melihatnya. “Mayu!” dia tiba-tiba
memanggiku. Aku terus jalan, tak memperdulikannya. “Mayu!” kali ini dia
mengahmpiri dan menarik tanganku. Dengan cepat aku melepaskan tanganku. “Aku
ingin bicara” katanya. “Aku sedang tidak punya waktu untuk bicara denganmu” Aku
bermaksud langsung pergi, tapi tiba-tiba dicegat lagi olehnya. “Sebentar saja”.
Katanya. “hah,, cepat katakan!”. “apa Aku punya salah?” tanyanya. “Apa???”. Aku
terkejut dengan pertanyaannya. “Akhir-akhir ini aku merasa kau menghindariku.
Apa aku punya salah?”. Lanjutnya. Aku berpikir, akhir-akhir ini aku memang
sedang mengindar agar tidak bisa bertemu dengannya. Tapi… Takuma sebenarnya
tidak punya salah, yang salah itu aku. “Tidak. Kau tidak salah apa-apa” Jawabku
akhirnya. “Kalau begitu berhentilah menghindariku!”. aku terdiam, tak
mengatakan apapun kemudian langsung pergi. “Mayu!” Panggil Takuma lagi. Aku
menoleh, “Untuk saat ini, kau satu-satunya orang yang paling tidak ingin
kutemui!” kataku lalu benar-benar pergi, dan Takuma tak lagi menghentikanku.
Aku dan Ami
berjalan menyusuri koridor menuju kelas, tiba-tiba kami melihat Rieka sedang
berduaan dengan cowok lain. “haaahh,, dasar genit! Dia tak bisa bertahan lama
pada satu cowok” ujar Ami melihat sinis kearah gadis itu. Aku sedikit bingung,
kenapa dia bersama cowok lain lagi, seharusnyakan dia bersama………. Tak berani
menyebut nama meski hanya dalam pikiran, aku kemudian bertanyaa pada Ami.
“Kenapa dia bersama cowok itu?” tanyaku. “maksudmu gadis itu? (Rieka)”. Ami tanya
balik. “Um, sekarang dia pacar Takuma kan?”. Jawabku. “Apa???” Ekspresi Ami
tiba-tiba berubah serius. “maksudnya?”. Ami kembali bertanya. Akupun mencoba
menjelaskan. “Aku pernah tidak sengaja melihat mereka berduaan di Le’Luna. Dan waktu itu, gadis itu bilang
kalau dia menyukai Takuma”. Jelasku. “Apa???” Ami akhirnya tertawa. Aku
bingung, menurutku sama sekali tidak ada yang lucu. “Jadi si genit itu bilang
kalau dia menyukai Takuma?”. Tanya Ami lagi. Aku hanya mengangguk mengiyakan. “Jadi
kau tidak tau?” kali ini aku yang kembali bertanya. Ami menggeleng. “Takuma
sama sekali tidak pernah mengungkit soal gadis itu. Aku pernah beberapa kali melihat
si genit itu datang ke Le’Luna tapi
Takuma tak pernah sekalipun mengajaknya ngobrol, bahkan menoleh kearahnyapun
tidak sama sekali” jelas Ami. Wah, yang benar saja?! Gumamku. Apa mungkin
selama ini aku yang salah sangka,, berpikir kalau Takuma sama saja kayak cowok
lain yang langsung lemas ketika melihat cewek cantik. “hey, Mayu…” Ekspresi Ami
kembali serius “Jadi itu alasannya? Kau menghindari Takuma karena mengira dia
pacaran sama si genit itu?” tanya Ami. Dan bingo!
Tepat sekali. Itu dia alasannya. Tapi sangat memalukan kalau harus mengakui itu
didepan Ami. “Aku tidak menghindar”. Aku mencoba menyelamatkan diri dari rasa
malu yang dalam, dan untungnya Ami tidak terlalu memaksaku untuk mengakui
kesalahan. Thanks Ami ! “Takuma itu
bukan orang seperti yang itu” sambung Ami. “dia bukan tipe cowok yang langsung
tertarik ketika melihat cewek cantik. Kalau diperhatikan, selama ini ada banyak
sekali wanita yang mengejarnya tapi tak satupun ditanggapi dengan serius” Ami
menjelaskan. “begitu yah?”. Mendengar perkataan Ami, aku jadi merasa bersalah.
Tapi tidak mungkin aku mengatakan pada Takuma bahwa selama ini aku bersikap
seperti itu karena mengira dia pacaran dengan Reika, itu memalukan! Lebih baik aku
melompat dari gedung 20 lantai dari pada harus berkata seperti itu.
Pukul 4
sore, pelajaran selesai. Aku sibuk merapikan buku-bukuku sementara Ami sibuk
dengan ponselnya yang terus saja berdering. “Eh, kau mau ikut?” Tanyanya
tiba-tiba. “kemana?”tanyaku balik. “kefakultas seni” jawabnya. “Fakultas
seni???” “um. Ryu menyuruhku kesana begitu kuliah selesai. Mereka sedang
latihan membawakan lagu baru, sebelum ditampilkan ke Le’Luna mereka ingin tanya pendapat kita dulu”. Ami menjelaskan.
“tapi, kenapa harus kita?”. Tanyaku. “Sudah, tidak usah banyak tanya, ayo pergi
sekarang”. seperti biasanya, Ami memaksaku untuk ikut dan akhirnya sampailah
kami di fakultas seni. “Ruang latihannya dilantai 3” Ami terus menggandengku,
satu persatu menaiki anak tangga. Beberapa orang yang berpapasan dengan kami
sekian detik menatap aneh mungkin karena mereka tau kami bukan anak seni. Setelah
berjalan menyusuri koridor sampailah kami didepan ruang latihan D’reD. Begitu
mau masuk, Ami tiba-tiba berhenti. “Aku ketoilet dulu, masuklah duluan”
Katanya. “perlu kutemani?” “tidak usah! Kau masuk saja duluan, aku tidak akan
lama. Aku pergi yah,, cepat masuk sana!”. Amipun berlari menuju toilet.
Sepertinya dia benar-benar sedang kebelet. Huffftt,, dasar. Melihat pintu ruang
latihan, aku sedikit ragu untuk masuk. Aku terdiam sesaat didepan pintu,
sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk. Clek
!!! Aku membuka pintu. Aku terkejut. D’reD tidak sedang latihan, hanya ada
Takuma disana yang sibuk berlatih dengan gitarnya, dan langsung berhenti saat
melihatku. “maaf. Aku kesini bersama Ami, tapi karena dia harus ketoilet dia
menyuruhku kesini lebih dulu” aku mencoba menjelaskan kenapa aku bisa sampai
muncul diruang latihan mereka. Lagi-lagi aku terjebak dalam suasana yang
canggung seperti ini. Takuma tersenyum tipis, “apa aku harus keluar?” tanyanya
tiba-tiba. “apa???” aku agak bingung. “waktu itu kau pernah bilang, kalau aku
satu-satunya orang sedang tidak ingin kau temui, jadi aku akan keluar sampai
latihan benar-benar akan dimulai agar kau merasa nyaman” jelasnya sambil terus
tersenyum, kemudian bangkit dari tempatnya duduk lalu bermaksud untuk pergi.
“Takuma!” reflek aku menghentikannya sambil menarik tangannya, tapi langsung
melepaskannya lagi setelah memastikan dia menghentikan langkahnya. “Soal
kata-kataku yang waktu itu,,, aku minta maaf.” Kalimat itu akhirnya keluar dari
mulutku, setidaknya membuat rasa bersalahku sedikit berkurang. Aku mengangkat
wajahku memberanikan diri menatap wajahnya. Tampan! Satu kata yang
menggambarkan sosok Takuma. Dia menatapku tanpa berkata apapun, membuatku gugup
sampai lututku gemetar. Aku berpikir seandainya aku sedang berdiri dibibir
jurang aku tidak akan ragu untuk melompat asal terlepas dari suasana seperti
ini. “Mayu” panggil Ami yang tiba-tiba masuk bersama Ryu juga Soji dan Taru dua
personil D’reD lainnya. “kalian sudah baikkan?” tanya Ami tersenyum licik. Aku
mulai menyadari, alasannya ketoilet itu hanya trik. Mereka sudah mengatur agar
aku bisa berduaan dengan Takuma disini. Seharusnya aku sudah tau sejak awal
-___-“ “Amiiiiii !” Aku menatapnya tajam “maaf, tak ada cara lain” jawabnya
seakan bisa tau maksudku hanya dari tatapan mataku. “Takuma, selama ini Mayu
mengira kau pacaran dengan gadis yang bernama Reika, karena itu dia
menghindarimu. Sepertinya dia cemburu”. Sambung Ami. Ryu dan yang lainya hanya
tertawa geli. “Aiisshhhh,, Ami !!!” hah,, ini memalukan. “Apa??? Reika???”
Takuma tampak bingung, mencoba mengingat sosok yang bernama Reika, sebelum
akhirnya ikut tertawa geli. Benar-benar memalukan, seperti ingin menangis, tapi
akan lebih memalukan lagi kalau sampai menangis dihadapin mereka. Takuma menatapku
lagi, aku hanya melihatnya dengan wajah innocent.
Sekali lagi kutegaskan, innocent bukan bodoh! “Ayo ikut aku” Takuma tiba-tiba
menarik tanganku menuju ruangan disebelah ruang latihan dan menutup pintu. Aku hanya
diam, tidak tau harus bilang apa. Masih dengan wajah innocent tentunya. “Jadi
karena itu akhir-akhir ini kau menghindar?” Tanyanya, sambil menahan tawa. Kali
ini aku pasti benar-benar terlihat lucu dihadapannya. Kalau tau akan seperti
ini, aku tidak akan menerima ajakkan Ami untuk datang ketempat ini. “Kau
cemburu?” Tanyanya lagi. Aku diam, tak mengiyakan tapi juga tidak menyangkal. Wajah
Takuma berubah serius “Rieka itu, gadis yang waktu itu bersama Sano dibelakang
ruang gantikan? Sampai membuatmu menangis”. “jadi, waktu itu kau juga lihat?” tanyaku.
Dia tersenyum, “Apa kau masih berpikir kalau aku benar-benar mengira kau sedang
latihan drama?” benar sekali, seperti itulah yang aku pikirkan. “Dasar bodoh!”
sambungnya, seperti bisa mendengar apa yang aku pikirkan. Aku hanya berdiri
mematung, aku pasti benar-benar terlihat bodoh didepannya, bukan innocent. Dia
melirik jam tangannya, “Aku harus latihan sekarang” katanya, kemudian berjalan
menuju pintu bermaksud kembali keruang latihan, sebelum akhirnya dia berbalik
mendekat kearahku, medekatkan wajahnya kewajahku, menatapku tajam sekian detik
sebelum akhirnya mendaratkan satu ciuman lembut. “Jangan pernah dekat-dekat
dengan Sano atau cowok manapun, karena
aku akan marah!” Ujarnya lalu benar-benar kembali keruang latihan sambil
melempar senyum, yang aku artikan sebagai senyum kemenangan. - THE
END -
