ARTIKEL

Selamat datang

follow blog-ku yach,,, dan jangan lupa beri komentar ... thanks ^_^

Sabtu, 10 November 2012

just me

mooooach :*

:))

at office :D

Jumat, 01 Juni 2012

CerpenQuw


Complicated thing called love
(I’m fall in love with my best friend)
               By: Indra Lestari 
sumber gambar: google

(Tokyo, Musim panas)
Yang paling aku sayangi didunia ini selain keluargaku adalah kedua sahabatku, Haru dan Kido.  Sejak duduk  dibangku sekolah dasar sampai sekarang kami selalu menghabiskan hari-hari bersama.  Mereka dua orang yang beda karakter yang membuat hari-hariku jadi lebih seru. Haru, pribadi yang lembut, sikapnya penuh kehangatan dan sangat pintar. Sejak duduk dibangku sekolah dasar dia selalu menjadi siswa dengan nilai terbaik. Sedangkan Kido, anak yang periang, walaupun agak bodoh dan uring-uringan tapi dia seperti malaikat pelindung bagiku. Berada diantara mereka, dua cowok keren membuatku merasa beruntung, bahkan sampau membuat cewek-cewek disekolah merasa iri J. Namaku Yuri, 18 Tahun siswa kelas 3 disalah satu SMU yang cukup popular di Tokyo, dan aku sekelas dengan Haru dan Kido. Entah itu kebetulan atau takdir, tapi kami memang selalu sekelas sejak dibangku sekolah dasar hingga sekarang.
Lari uring-uringan, berebut makanan, bahkan menjadi korban kejahilan mereka berdua sudah menjadi bagian dari keseharianku. Tapi sesering apapun mereka menggangguku atau menjadikanku bahan ejekkan aku tetap suka karena aku tau itu salah satu cara mereka menunjukan rasa sayang. “hey Yuri, sepertinya aku tidak heran kalau sampai sekarang kau belum punya pacar. Dilihat dari sudut manapun kau memang tidak punya daya tarik kewanitaan” seperti biasa saat sampai dikelas Kido mulai mengataiku sambil mengunyah permen karet. Kebiasaannya memang suka mengunyah permen karet bahkan saat pelajaran berlangsung. Aku mengkerling, “makanya lihat pake mata, orang butapun akan tau kalau aku ini seksi” jawabku lalu kembali fokus mengerjakan PR. Menyontek punya Haru tentunya. Haru tersenyum “Hanya kau sendiri yang bilang kalau kau itu seksi. Seksi itu seperti dia” Lanjut Kido sambil menunjuk Uehara Mika, salah satu siswi dikelasku yang terkenal dengan bodinya yang aduhai, dada besar dan pinggul besar. “seperti itulah gadis impianku” sambung Kido lagi, dengan ekspresi yang mulai berlebihan (mata melotot memandangi satu arah dengan air liur yang mulai menetes) “Dasar mesum!” teriaku lalu melemparkan pulpenku kearah Kido dan “aarrrrggghh…!!!” bingo!!! Mendarat tepat di jidatnya. Kido meringis kesakitan. “Hah, rasakan itu” aku tertawa puas merasa menang, sebelum akhirnya Haru menarik pipiku “cepat selesaikan tugasmu” Ujarnya, sambil tersenyum. Senyum yang hangat seperti biasanya. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Berbeda sekali dengan Kido yang uring-uringan, kalau Haru pembawaannya lebih tenang hingga terkesan berwibawa. “Aiiisssshhhh” Kido masih meringis kesakitan, aku menoleh lalu menjulurkan lidah meledeknya kemudian kembali fokus ketugasku.
Pukul 4 sore, bel panjang berdering menunjukan waktu pulang telah tiba. Rumahku, Rumah Haru maupun Kido tidak begitu jauh dari sekolah hanya sekitar 15 menit berjalan kaki, karena itu setiap pergi maupun pulang sekolah kami memilih untuk jalan kaki, begitu juga sore ini. Lagi-lagi kido mulai jahil dengan cara sek-sekali mengangkat ujung rok sekolahku dengan dahan kering yang dipungutnya dijalan. “Kidoooooooooooooo….!!!” Teriakku kesal. “Hah! hampa tak ada apapun didalam” ujar kido memasang tampang yang seolah kecewa. “isssshhhh” aku menatapnya sinis. “Apa? Memang itu itu kenyataannya” Kido masih memasang wajah kecewa dan itu membuatku sangat kesal. Tanpa ragu aku melepaskan sepatuku dan dengan cepat melemparkannya kearah Kido, dan Bukkk! Tepat mengenai jidatnya. Kido meringis, aku tertawa puas kemudian kembali mengambil sepatuku dan memakainya “hahah, masih berani kau sekarang?” kataku, balas meledek kido. Haru tertawa melihat tingkah kami “tadi itu hebat sekali” katanya tiba-tiba. Aku agak bingung “lemparanmu” sambungnya yang kemudian membuatku mengerti apa yang dia maksud. “hebat apanya? Wanita perkasa seperti dia tidak heran sampai sekarang belum punya pacar” sambung Kido kembali menyindir. Aku hanya menatap sinis dan kembali melanjutkan perjalanan dan tak memperdulikan perkataan Kido yang masih saja terus meledek. 15 menit kemudian, sampailah aku di depan rumah. Rumah Kido dan Haru masih beberapa blog lagi dari rumahku. “Aku duluan yah” pamitku ke Haru, karena masih kesal aku tidak menegur Kido. “um, salam untuk ibumu” jawab Haru, aku hanya mengangguk kemudian berjalan masuk kerumah. Begitu sampai kamar, aku terdiam sejenak memandangi foto dimeja belajarku. Itu fotoku bersama Haru dan Kido. Aku tersenyum, ada kebangaan tersendiri memiliki dua sahabat yang tampan. :D
Aku duduk ditaman sekolah, menatap kosong kearah lapangan. Diam-diam, sejak SD aku memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat pada Haru, tapi tak pernah kuceritakan pada siapapun. Ingatanku kembali melayang kemasa dimana pertama kali aku mulai menyukai Haru, saat itu kelas 5 SD. Waktu itu aku dan Haru sedang berada di kebun sekolah merawat beberapa bunga dan tanaman lainnya, sampai tiba-tiba Pot yang letakknya sedikit lebih tinggi dari kami tiba-tiba terjatuh dan nyaris mengenai kepala kepalaku tapi langsung di dorong oleh Haru sehingga dialah yang terkena pot itu. Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya aku melihat darah mulai mengalir dari kepalanya. Saat itu aku menangis histeris melihat darah, tapi dia hanya tersenyum dan bilang “tidak apa-apa”. Saat itu aku merasa dia sangat keren. “Sedang apa disini?” tanya seseorang, yang langsung membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ternyata itu Haru. Aku tak mau terlihat canggung, akupun berusaha bersikap biasa. “cari udara segar” jawabku. Haru kemudian duduk disampingku. “Kido mana?” tanyaku kemudian. “Sedang sibuk tebar pesona” jawab Haru sambil tertawa. Aku juga ikut tertawa, kali ini selera humornya bagus. Mataku kemudian tertuju kebagian belakang kepalanya. Disana masih terlihat bekas luka waktu itu. “Apa?” tanya Haru yang sepertinya menyadari kalau aku sedang memperhatikan bagian kepalanya. “bekas luka itu, seharusnya ada disini” jawabku sambil menunjuk bagian belakang kepalaku. Jujur saja sampai sekarang masih ada sedikit rasa bersalah. “kau bicara apa?” Haru tertawa, sepertinya merasa lucu dengan apa yang aku katakan. “bekas luka ini keren, aku suka bekas luka ini” sambungnya masih sambil tersenyum. “benarkah? Jujur saja, aku sedikit merasa bersalah. Kalau saja waktu itu aku lebih hati-hati” belum sempat menyelesaikan kalimatku, Haru tiba-tiba mencubit pipiku dan menariknya. Aku bisa merasakan kalau wajahku pasti terlihat aneh. “sudahlah, tidak usah dibahas” katanya, kemudian kembali tertawa, sepertinya merasa lucu melihat wajahku dengan pipi tertarik. Walaupun tidak seorangpun tau perasaanku tapi aku sudah cukup senang dengan keadaan seperti ini, bisa selalu berada didekatnya dan di sayangi walaupun cuma sebagai sahabat.
Liburan musim panas sebentar lagi, dikepalaku di penuhi banyak rencana untuk liburan. Aku berjalan menyusuri koridor sambil terus memikirkan tempat yang bagus untuk liburan sambil mencari Haru dan Kido. Aku ingin membahas rencana liburan dengan mereka berdua tapi tak satupun dari mereka yang kelihatan batang hidungnya. Aku sampai dikelas, disana ada tas Haru. Itu artinya dia sudah ada disekolah. Aku berpikir untuk mencarinya diperpustakaan, dan benar dia ada disana. Aku bermaksud langsung mau menghampirinya tapi langkahku terhenti. Ternyata Haru tidak sendirian. Dia bersama seorang cewek, dan mereka terlihat sangat akrab. Aku mengurunkan niat, dan kembali ke kelas. Terus terang aku merasa sedikit tidak suka saat melihat Haru begitu akrab dengan cewek lain, karena selama ini dia tidak pernah sedekat itu dengan seorang cewek selain aku. “Selamat pagi” Kido tiba-tiba datang dan langsung duduk dibangku tepat didepan tempat dudukku. Aku tak menjawab. Kido menoleh, memperhatikanku “heiiiii,, kau kenapa? Kenapa murung?” tanya Kido sambil mendorong jidatku dengan telunjuknya. Seperti biasa dia mulai cari gara-gara lagi, tapi aku tetap tak menjawab. Wajah Kido berubah serius “Ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya lagi. Aku tersenyum, kemudian menggeleng. “Kau yakin?” Walaupun kadang menyebalkan tapi Kido ini sebenarnya orang yang sangat peduli. Aku mengangguk meyakinkan. Haru tiba-tiba datang, sambil tersenyum dia duduk dibangkunya yang berada tepat disampingku. “kau dari mana saja?” tanyaku pura-pura tidak tau. “Tadi keperpustakaan mengembalikan buku, tapi karena bertemu teman jadi ngobrol sebentar” jawab Haru. “teman wanita atau pria?” timpal Kido dengan nada menggoda. Haru tersenyum tak menjawab. “Hah, dari wajahmu jelas pasti dia wanita” sambung Kido lagi, dan Haru hanya tersenyum. Aku tak bicara, hanya memperhatikan mereka berdua. Jelas sekali dari wajahnya, Haru sepertinya sangat senang bertemu gadis itu.
Akhir-akhir ini pikiranku terganggu dengan sosok gadis yang waktu itu bersama Haru di perpustakaan. Aku tidak rela kalau sampai dia merebut perhatian Haru dariku. Huffftt,, memikirkannya saja sudah membuatku marah, hingga reflek aku menutup loker dengan sangat keras. Semua menoleh, aku jadi merasa tidak enak :p “Jangan sampai lokernya rusak” suara yang tidak asing terdengar berasal dari belakangku. Aku menoleh dan itu Haru. Aku tersenyum malu, lalu mengikutinya berjalan menuju kelas. Ingin sekali aku menanyakan soal gadis yang waktu itu bersamanya di perpustakaan tapi sedikit ragu. Aku menguatkan hati dan memutuskan untuk bertanya. “oh ya, cewek yang waktu itu diperpustakaan,, siapa?” Akhirnya perntanyaan itu keluar dari mulutku. Sambil terus melangkah Haru menjawab “oh Dia anak kelas 1, aku mengenalnya karena kebetulan kami kursus ditampat yang sama”. “ohh, begitu yah” jawabku datar. Haru tiba-tiba menoleh dengan wajah serius “Bagaimana menurutmu?” kali ini gantian Haru yang bertanya. “apanya?” aku sedikit bingung dengan maksud pertanyaannya. “bagaimana menurutmu tentang gadis itu? Dia cantik tidak?” sambung Haru. Sepertinya aku mulai tau apa maksudnya, dan ini menyakitkan. “Kenapa diam saja?” “dia,, cantik” jawabku singkat. “tapi sepertinya kau tidak senang” kata-katanya tepat! Tapi tidak mungkin aku mengakuinya. “Aku senang kalau kau senang” akhirnya aku menyangkal. “Kau suka padanya?” Tanyaku. Senyumnya mengembang, aku tidak pernah melihat senyumnya yang seperti itu. Itu seperti senyum malu bercampur senang “Entahlah” jawabnya sepertinya kurang yakin. “Dia pintar, aku suka cewek pintar. Dia juga suka baca buku sama sepertiku. Dan dia ceria sama sepertimu” sambugnya, dan dengan hanya melihat senyum Haru aku bisa tau kalau dia mengangumi gadis itu. Aku terdiam, dan bertanya-tanya apa aku benar-benar harus berbagi perhatian Haru dengan gadis itu, gadis yang bahkan aku tidak tau namanya.
Aku sampai rumah, dan langsung disambut oleh ibu. Aku bermaksud ingin langsung ke kamar tapi ibu menghentikan, katanya ada yang ingin dibicarakan. Dengan masih berseragam lengkap akupun duduk diruang keluarga bersama ibu. Wajahnya terlihat serius “ada apa bu?” tanyaku. “Sepertinya dalam waktu dekat kita harus pindah” Aku terkejut mendengar apa yang ibu katakan “Pindah? Maksudnya pindah kerumah lain?” Aku masih sedikit bingung. “Ayahmu akan ditugaskan di kantor kedutaan di swiss, jadi kita harus pindah kesana” sambung ibu “Swiss? Aku tidak mau pergi!” aku bangkit dari kursi tempatku duduk dan langsung pergi menuju kamar. Ibu tidak mencegah, sepertinya dia mengerti kalau aku butuh waktu untuk sendiri. Begitu sampai dikamar aku langsung menjatuhkan tubuhku ditempat tidur. Swiss??? Tempat itu sangat jauh. Aku suka Tokyo, aku suka berada disini. Aku suka rumahku yang sekarang, suka sekolahku yang sekarang dan dua sahabatku, aku tidak bisa kalau harus jauh dari mereka. Tanpa sadar aku mulai menangis, aku benar-benar tidak ingin pindah.
Hari berikutnya, sebelum kesekolah seperti biasa aku sarapan bersama ayah dan ibu. Mereka saling melihat sebelum akhirnya ayah mulai bicara “Ibu sudah bilangkan tentang rencana untuk pindah?” Aku hanya mengangguk lalu mulai menyantap sarapanku. “Mulailah persiapkan diri” sambung ayah. “berapa lama kita akan disana? Tanyaku. “sampai kontrak ayah habis, sekitar 7 tahun.” Aku benar-benar tidak ingin ikut, tapi aku tidak memiliki pilihan. Kata-kata ayah masih terus mengganggu pikiranku, bahkan ketika aku sudah disekolah. 7 tahun itu bukan waktu yang singkat . Aku duduk sendiri dikelas, dan berpikir untuk tidak memberitahu Haru ataupun Kido soal rencana kepindahan itu. Tiba-tiba Haru datang “baguslah kau disini” katanya. “ada apa?” tanyaku. Haru memperhatikan sekitar sebelum akhirnya mulai bicara “Aku….Mmmm,, kaukan tau, sebelumnya aku tidak pernah sekalipun mendekati seorang cewek. Jadi aku ingin meminta bantuanmu” aku mulai mengerti arah pembicaraan Haru, dan ini menyakitkan. “cewek yang waktu itu yah? Tanyaku, Haru hanya tersenyum. “Namanya Nana. Aku tidak tau bagaimana cara mendekatinya, karena kau juga cewek aku ingin minta saran darimu”. Aku berusaha tersenyum, lalu mengiyakan untuk membantunya. “cewek itu suka dilindungi, suka diberi hadiah, cewek juga suka diperhatikan walaupun Cuma hal-hal kecil  misalnya merapikan rambutnya yang berantakan atau mungkin membenarkan dasinya yg miring” jelasku. Aku menjelaskan itu sambil memikirkan hal-hal yang pernah dilakukan Haru padaku. Melindungiku dari pot bunga yang jatuh, memberi hadiah saat aku ulang tahun, merapikan rambutku yang sedikit berantakan dan membenarkan dasiku yang miring itu selalu dilakukan Haru. “Yang terpenting bersikap baiklah padanya, dan tetap jadi dirimu sendiri. Kau sangat baik, cewek manapun pasti akan menyukaimu”. Haru tersenyum, dan mengelus kepalaku “terimakasih” katanya. Aku selalu suka setiap kali dia mengelus kepalaku dan aku akan sangat merindukan hal itu ketika aku sudah pindah nanti. Haru kemudian memperhatikan buku yang ada dimejanya, aku tau apa yang dia pikirkan. Gadis itu pasti ada diperpustakaan “Pergilah, temui dia” seruku, sambil terus berusaha tersenyum. Haru mengangguk lalu meraih buku dimejanya dan langsung pergi. Walaupun tidak begitu rela, tapi sepertinya aku memang harus belajar untuk melupakan Haru. Mungkin hubungan kami berdua cuma bisa sebatas sahabat dan tidak lebih dari itu. Tiba-tiba Kido muncul dengan wajah datar tanpa ekspresi. Dia tidak seperti biasanya, yang selalu langsung meledekku begitu dia datang. “Heiiii,, kau kenapa?” tanyaku seraya menunjuk-nunjuk punggungnya dengan telunjukku. Dia menoleh dengan wajah yang serius “seharusnya aku yang tanya ada apa denganmu” aku bingung dengan perkataan Kido “Soal apa?” tanyaku lagi. “tadi aku dengar apa yang kau bicarakan dengan Haru” Jawab Kido. “trus,, apanya yang salah? Aku hanya memberi saran”. Hufttt,, Kido mengehmbuskan nafas panjang. “Kau menyukai Haru kan?!” ujar Kido tiba-tiba. “Aku sudah tau sejak lama”, Sambungnya. “apa? Ha ha, jangan bercanda, mana mungkin” Aku mencoba mengelak tapi sepertinya tidak berhasil. “kau mungkin bisa membongi orang lain, tapi kau tidak akan bisa bohong padaku”. Aku terdiam, tidak tau harus bilang apa lagi. “sejak kapan kau tau itu?” tanyaku. “sejak insiden pot bunga itu” jawab Kido. “Wahhh,, kau hebat. Ternyata kau tidak sebodoh kelihatannya” aku mencoba mencairkan suasana dengan mengajaknya bercanda, tapi tak ada respon darinya. Kido menatap seperti marah, kemudian wajahnya berubah sedih “katakan saja pada Haru” “apa?” “katakan pada Haru kalau kau menyukainya!” “itu tidak mungkin!” timpalku tegas. “aku tidak ingin merusak persahabatan kita. Aku sudah cukup senang bisa dekat dengannya walau hanya sebagai sahabat”. Sambungku. “Jadi kau akan membiarkannya dekat dengan gadis lain?” sepertinya Kido mulai emosi. Aku mengangguk pelan “asal dia bahagia, aku akan baik-baik saja. Aku mohon jangan beritau Haru tentang ini” “Asihhhh,, kau ini” “Aku mohon!”. Walaupun awalnya sulit, tapi akhirnya Kido mengangguk dan berjanji tidak akan memberitau siapapun tentang ini.
Hari demi hari berlalu, Haru dan Nana kelihatan semakin akrab. Disekolah mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Mereka memiliki banyak kesamaan jadi pasti tidak akan sulit menyesuaikan diri. Aku berjalan menuju lapangan basket untuk mencari Kido sebelum akhirnya tak sengaja melihat Nana sedang menggadeng Haru. Cara dia menggandenganya sama persis seperti aku biasa menggandeng Haru. Jauh didalam hati aku tak rela, aku merasa seperti posisiku sebagai orang yang selalu bersama Haru tergantikan. Rasanya sesak tapi aku berusaha agar tidak menangis. aku membantalkan niat untuk kelapangan basket, dan memutar arah menuju taman belakang sekolah. Aku duduk dibangku lalu menghembuskan nafas panjang, mengatur perasaan sambil menatap kosong kearah lapangan. inilah yang ku inginkan. Aku ingin Haru bahagiah, dan sepertinya dia cukup bahagia saat bersama Nana, dan seharusnya itu melegahkan. Seseorang tiba-tiba datang dan duduk tepat disampingku. Itu Kido. Aku menoleh kearahnya dan mencoba tersenyum. Seperti biasanya dia selalu tau perasaanku tanpa aku harus menjelaskannya. Dia kemudian menarik kepalaku dan menyandarkannya didadanya. “tidak usah ditahan, menangislah” serunya. Dan tak ada kata-kata lagi, tangiskupun pecah dalam pelukan Kido. Aku meluapkan semua perasaan sakit dan sesak yang selama ini aku pendam. Aku bersyukur disaat-saat seperti ini masih ada Kido yang selalu bisa diandalkan.
Malam harinya, aku membantu ibu membersihkan beberapa perabotan rumah yang tidak akan dibawa dan memasukannya kedalam kardus. Hanya tinggal seminggu lagi sebelum keberangkatan kami ke swiss. Ting tong ! bel tiba-tiba berbunyi, ibupun langsung bangkit dan berjalan menuju pintu sedangkan aku masih lanjut dengan pekerjaanku. Samar-samar aku mendengar suara dari depan, itu seperti suara Kido. Akupun langsung bangkit dan berlari menjuju depan. Kido menatapku, dia seperti marah. “Kido duduklah, tante akan ambilkan minum” kata ibu lalu meninggalkan kami berdua. “Ibumu bilang kalian sedang sibuk mengurus kepindahan. Apa maksudnya? Siapa yang mau pindah?” Kido mulai menyerangku dengan banyak pertanyaan. Aku terdiam sesaat. Kido kelihatan semakin marah. “Yuri ayo jawab!” sambungnya lagi. “Mmmm,, Sebenarnya, ayahku akan ditugaskan di kantor kedutaan jepang di swiss, jadi kami harus pindah kesana” dengan hati-hati aku mencoba menjelaskan. “maafkan aku, karena tidak memberitahumu sebelumnya”. Kido kelihatan terkejut, dia kemudian duduk mencoba meyakinkan diri dengan apa yang didengarnya. Akupun ikut duduk  disampingnya. “Apa? Lalu, kenapa kau tidak bilang sebelumnya?” Aku diam tak menjawab sepatah katapun. “kapan kau akan pergi?” tanyanya lagi. “minggu depan” jawabku. “Ini serius? Lalu bagaimana dengan sekolahmu? Bagaimana rencana liburan musim panas kita? Bagaimana dengan Haru?”  “jujur saja, sebenarnya aku juga tidak ingin pergi, tapi tidak ada pilihan lain. Maaf tidak bisa melewatkan liburan musim panas bersama kalian” L Kido keliahatan sedih, tapi tak ada yang bisa aku lakukan. “Jangan katakan apapun pada Haru” Pintaku. “Kenapa?”. “Aku tidak ingin mengganggu pikirannya. Biarkan saja dia tau setelah aku berangkat nanti” jelasku. Walaupun awalnya ragu tapi akhirnya Kido mengiyakan.
Sehari sebelum keberangkatanku, Haru masih belum tau. Kido memang selalu bisa dipercaya dalam hal menyimpan rahasia. Aku kembali memeriksa barang-barang yang akan kubawa, dan memastikan tidak ada yang ketinggalan, temasuk fotoku saat bersama Haru dan Kido. Kring kring! Ponselku berdering, dan ternyata ada pesan dari Kido –Kau ceroboh, aku hanya ingin mengingatkan jangan sampai ada yang ketinggalan- akupun langsung membalasnya –iyah aku tau. Jangan lupa besok pagi kerumahku, aku tidak mau kau mengantarku kebandara, nanti aku akan sedih. dan jangan sampai Haru tau sebelum aku berangkat – Beberapa menit berlalu, tapi belum ada balasan dari Kido. Aku berpikir mungkin dia sedang menangis karena sedih aku akan pergi… hehe,, aku akan sangat merindukan saat-saat dia meledekku. Dan Haru, aku akan sangat merindukannya lebih dari kata-kata yang bisa aku ucapkan. Kriing kriing! Ponselku berdering lagi, aku pikir itu balasan pesan dari Kido tapi ternyata itu pesan dari Haru. – Sepertinya aku butuh saran lagi darimu, malam ini kau punya waktu?- walaupun aku tau dia pasti akan membahas soal Nana lagi tapi aku sangat senang menerima pesan darinya. –ok, kerumahku setelah jam makan malam J- balasku. Aku senang masih akan bertemu dengannya sebelum aku berangkat. Setelah makan malam, aku menunggunya didepan rumah. Aku tak mau membiarkannya masuk kerumah karena pasti dia akan tau setelah melihat perabotan rumah yang sudah dipindahkan. Hanya sekitar 5 menit menunggu Haru muncul. Dia selalu terlihat lebih keren saat sedang tidak mengenakan seragam sekolah. Dia sedikit bingung karena aku menunggunya didepan rumah “Malam ini kau boleh minta saran tapi sambil mengajakku jalan-jalan” jelasku. Haru tersenyum mengiyakan. Sudah lama sejak terakhir kali aku keluar menikmati suasana kota dimalam hari, dan aku senang karena bisa merasakannya kembali ditemani Haru. Kami duduk di bangku taman kota yang dipenuhi lampu warna-warni. Ada banyak pasangan kekasih yang juga sedang duduk disana menikmati suasan taman yang cukup menyenangkan. “Hmmm,, jadi bagaimana kelanjutan antara kau dan Nana?” Aku mencoba membuka percakapan. “Kami sudah cukup dekat, tapi aku belum bilang kalau aku menyukainya. Sepertinya aku belum yakin” jawabnya. “Kenapa belum yakin? cewek itu tidak suka menunggu lama. Kalau kau suka padanya kau harus cepat-cepat memberi tau dia”. Walaupun mungkin aku tidak bisa memiliki Haru sebagai pacar, aku bahagia saat dia begitu bahagia. Dia selalu tersenyum setiap kali berbicara tentang Nana, dan aku akan ikut tersenyum bersama dia. “jadi begitu yah?!” Haru tersenyum lagi. “Kalau begitu Aku akan bilang padanya besok” sambungnya. “saat akan mengutarakan perasaanmu padanya, jangan lupa bawa coklat atau bunga. Dia pasti akan suka”. Haru tersenyum malu kemudian mengangguk. Aku mengalihkan pandanganku darinya, memandang keatas langit yang penuh bintang. Aku berdebar-berdebar, tidak seperti biasanya. Aku kembali melihatnya dan bertanya “Apa kau berdebar-debar?” Haru kelihatan bingung dengan pertanyaanku. “saat bersama Nana, apa kau berdebar-bedebar? Orang bilang, kita akan berdebar-debar saat sedang bersama orang yang kita suka” sambungku menjelaskan. “Hmmm,, entahlah. Aku senang kalau bertemu dia, tapi sepertinya tidak sampai berdebar-debar”. “hmmm,, begitu yah. Kau anehhh” Ledekku. Aku mengajaknya untuk keliling taman, duduk disatu tempat cukup membosankan sementara taman kota ini sangat luas. Aku berjalan sambil menggandenganya seperti biasa. Mungkin ini yang terakhir kali aku menggadenganya, dia juga sek-sekali mengelus kepalaku seperti biasa. Hampir setangah jam berkeliling kakiku pegal dan memutuskan untuk kembali duduk dibangku dekat air mancur. “kau lelah?” tanyanya. “um, kakiku lumayan pegal” jawabku. Lalu dengan cepat dia mengangkat kakiku kepangkuannya dan mulai memijatnya. Hahhh,, tidak heran aku sampai jatuh cinta padanya, sikapnya yang perhatian dan hangat seperti ini tidak akan bisa di tolak oleh gadis manapun. “Besok kau harus semangat, jangan sampai terlihat gugup di hadapannya” kataku lagi mencoba mengingatkan, namun tujuan sebenarnya aku berkata seperti itu adalah agar tidak terlihat canggung.  “iya, aku tau” jawabnya sambil terus memijat kakiku. Suasana sempat hening beberapa detik. “Haru…” panggilku kemudian. “Apa?” “Setauku kau belum pernah mencium cewek, iyahkan?” beberapa detik Haru menghentikannya pijatannya, melihat kearahku kemudian kembali memijat kakiku tanpa menjawab sepatah katapun. “Saat menciumnya jangan sampai terlihat gugup” kataku lagi. “iyah akan aku usahakan” jawabnya santai tanpa melihatku. Aku sedikit tidak rela membayangkan dia akan mencium gadis lain. Aku segera menarik kakiku yang sedang dia pijat “sebagai latihan coba lakukan padaku!” seruku. “apa???” Haru terkejut. “Coba lakukan padaku, latihan” sambungku saraya menjunjuk bibirku sambil tersenyum. Aku tau ini memalukan, tapi sudah terlanjur ku katakan. Haru masih terdiam, saat itu jantungku berdetak sangat kencang seperti akan melompat keluar tapi aku tetap berusaha bersikap biasa. Aku masih menatap kearah Haru, tapi dia keliahatan ragu untuk melakukannya. “saat kau akan melakukannya, bersikaplah biasa seperti ini” aku mendekatkan wajahku kearahnya. Aku bertingkah seolah tau cara melakukannya padahal sebenarnya ini juga yang pertama buatku. Dag dig dug dag dig dug… detak jantungku semakin kencang saat wajahku semakin dekat kearahnya, aku juga bisa dengar suara detak jantungnya yang cepat. Dia terlihat gugup tapi tak menghindar sampai akhirnya bibirku benar-benar menyentuh bibirnya. My first kiss! Akhirnya kuberikan pada Haru. Hari semakin malam, akhirnya Haru mengantarku pulang. Agak canggung, tapi sebisa mungkin aku bersikap biasa dengan terus mengajakknya ngobrol. Tidak terasa, kami sampai didepan rumahku. “masuklah!” serunya. “Um. Hati-hati. Salam sama ibumu” jawabku. “kau lebih tampan saat sedang tersenyum, jadi banyak-banyaklah tersenyum. Jangan terlalu serius dengan pelajaran, sek-sekali ajak Kido dan pergilah menghibur diri” sambungku. Haru tersenyum lalu mengangguk. “jaga kesehatan, dan makan tepat waktu” “iyaaahhh” spontan dia menarik pipiku. “kau banyak bicara seperti biasanya” sambungnya sambil tertawa. “sudah sana masuk!” katanya lagi, akupun berjalan masuk kedalam rumah. Itu akan jadi kali terakhir aku bertemu Haru sebelum berangkat ke swiss. Aku mencoba merelakan tempatku digantikan oleh Nana sebagai orang yang selalu ada disamping Haru. Dan besok, saat aku pergi dalam waktu yang bersamaan Haru akan mengatakan perasaannya pada Nana. Aku akan berdoa untuk kebahagiaan mereka, dan aku, sudah cukup bahagia pergi setelah berhasil mencuri ciuman pertama Haru.
Keeseokan harinya. Pukul 8 pagi, taxi sudah menunggu didepan rumah. Ayah dibantu supir taxi mulai memasukan tas dalam bagasi. Kido terlihat sedih. “Disana kau harus jaga kesehatan. Makan yang banyak biar badanmu lebih berbentuk. Kalau masih kurus seperti itu mana mungkin ada yang menyukaimu” seperti biasa saat aku akan pergipun dia masih sempat-sempatnya meledekku. Aku memeluknya dan mulai menangis. “Kau juga jaga kesehatanmu, perhatikan makananmu. Jangan suka makan sembarangan, dan tetap akurlah dengan Haru”. “iya pasti, kau jangan khawatir. Setelah disana, jangan sering menangis lagi” aku mengangguk mengiyakan. “Yuri, kita harus berangkat sekarang” panggil ibu. “iya bu” jawabku. “Kido, aku pergi yah. Aku akan kirim email J” akupun berjalan masuk kedalam Taxi yang kemudian melaju kencang semakin jauh dari rumahku, sampai akhirnya tidak lagi terlihat.
Tokyo, 7 Tahun kemudian. Saat kontrak ayahku telah berakhir akhirnya kami kembali lagi ke Tokyo, kerumah kami yang dulu. Begitu turun dari Taxi, aku terdiam sejenak menatap rumahku yang sudah 7 tahun kami tinggalkan. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Ingatanku melayang kemasa dimana aku, Haru dan Juga Kido sering mengerjakan tugas bersama dirumahku. Aku melangkah masuk, dan langsung menuju kekamarku. Tidak ada yang berubah, hanya saja sebagian perabotannya masih ditutupi kertas. Aku mengambil ponselku dan mengirim pesan ke Kido, mengajaknya bertemu di café diujung jalan. Sore harinya, aku menunggunya di café itu. Kurang lebih 10 menit menunggu, Kido datang. Dia terlihat lebih dewasa, dan lebih rapi. “Yuriiiiiiiiii” panggilnya lalu bergegas mengampiriku. Aku tertawa melihat tingkahnya, dia selalu heboh seperti biasanya. “Kido, aku hampir tidak mengenalimu. Kau banyak berubah, terlihat jauh lebih tampan”. “Aku juga hampir tidak mengenalimu. Kau terlihat lebih mirip wanita sekarang” kata Kido lalu mulai memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aku lagi-lagi hanya bisa tertawa. “oh iya, kau kerja dimana sekarang? tanyaku. “kerja diperusahaan ayahku” jawab Kido “kau sendiri?” “waktu di swiss aku punya butik, dan dalam waktu dekat aku berencana kembali buka butik disini”. “begitu yah. Kau sudah menghubungi Haru?” Tanya Kido. Aku menggeleng “Aku belum punya keberanian untuk bertemu dia lagi” jawabku. “Kau masih menyukainya” Tanya Kido lagi. Aku hanya diam tak menjawab sepatah katapun. Tapi seperti biasanya, Kido bisa tau tanpa aku harus mengatakannya. “Aku kagum kau bisa tahan menyukai seseorang selama itu. Apa di Swiss sana tidak ada yang mau mendekatimu” lagi-lagi dia mulai meledek, aku hanya mengkerling lalu tertawa bersama dia.
Saat sampai dirumah, aku merebahkan tubuhku di sofa kamarku. Aku terus memikirkan cerita Kido saat di café tadi, cerita bahwa sesaat setelah Aku pergi 7 tahun lalu Haru tiba-tiba kerumahku. Lalu Haru yang tiba-tiba menjauh dari Nana setelah Aku pergi tanpa menjelaskan alasannya. Aku penasaran, bukankah seharusnya Haru bertemu Nana dihari yang sama saat aku pergi? Kenapa dia tiba-tiba datang kerumahku? Cerita yang aku dengar dari Kido 7 tahun lalu, sesaat setelah aku pergi.
Flash Back 7 Tahun lalu!
Kido memandangi Taxi-ku yang semakin lama semakin menjauh, sampai akhirnya menghilang dipembelokan. Saat dia bermaksud akan pergi, tiba-tiba Haru datang sambil berlari, namun begitu sampai dia menyadari ada yang tidak beres. Dia mendobrak masuk kehalaman rumah, memencet bel berulang kali tapi tak ada yang mebuka pintu. Kido hanya memperhatikannya tanpa bicara. Lelah memencet bel Haru berlari menghampiri Kido “Kenapa rumahnya kosong?” tanya Haru. dengan perasaan bersalah Kido menjawab “mereka baru saja pergi”. “pergi kemana?” timpal Haru, dia terlihat emosi sampai mulai menarik baju Kido. kido membiarkannya dan tidak melawan sedikitpun. “Ayahnya dipindah tugaskan di Swiss jadi mereka sekeluarga pindah kesana”. “Apaaa???” Haru kaget mendengarnya, seperti ada penyesalan besar. “Maaf, Yuri memintaku untuk tidak memberitahumu. Dia bilang, dia tidak mau membuatmu sedih” jelas Kido. Haru hanya berdiri mematung tak mengatakan apapun lalu pergi dengan langkah gontai.
Aku beberapa kali mengotak-atik ponselku ingin menelpon Haru tapi selalu aku batalkan. Aku tidak tau harus bilang apa nanti saat bicara dengannya. Dia pasti akan sangat marah padaku. Aku kemudian memutuskan untuk mengirim pesan ke Kido, mengajaknya bertemu di perpustakaan umum yang dulu sering kami kunjungi bertiga dengan Haru.
Keesokan harinya, aku menunggu di perpustakaan itu. Tak banyak yang berubah, selain beberapa rak buku yang warnahnya berubah dari coklat menjadi biru. Hari ini tidak banyak pengunjung yang datang. Aku berjalan berkeliling disekitar rak, sambil mengenang saat-saat Aku, Haru dan juga Kido sering ,membaca ditempat ini. Hampir setengah jam aku menunggu, seperti biasa Kido selalu terlambat. Satu persatu buku aku perhatikan, sampai akhirnya mataku berhenti pada sebuah buku yang disampulnya tertulis Complicated Thing called love. Aku penasaran dengan buku itu, aku kemudian menariknya keluar dari rak namun saat menoleh ingin menuju bangku tempat membaca, langkahku terhenti setelah melihat sosok yang ada didepanku. Saking terkejutnya aku sampai menjatuhkan buku yang aku pegang. Itu Haru, dia berdiri hanya beberapa meter dihadapanku. Aku memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dia memakai kemeja berwarna putih dan jeans warna biaru. Gaya rambutnya juga berubah, dia keliahatan lebih ceria dan lebih tampan. “Haru…..” dia tersenyum. “Kau pergi tanpa bilang apapun padaku, saat kembali kau juga tidak ingin bilang apapun padaku?” aku diam tidak tau harus berbuat apa. Terus terang aku gugup, sampai lututku gemetar. Aku semakin yakin tidak ada yang berubah dengan perasaanku. Sampai sekarang, aku masih menyukainya. Kami duduk ngobrol. Seperti biasanya saat sedang diperpustakaan dibandingkan harus duduk dibangku yang disiapkan, dia lebih suka duduk disamping rak buku.  Kami duduk berdampingan, bersandar di rak disudut ruangan. Kido sempat bilang kalau setelah lulus SMA dia kuliah di jurusan Arsitek dan sekarang dia bekerja di perusahaan yang cukup terkenal di Tokyo. Aku masih membawa buku yang tadi aku ambil, dan masih memperhatikan tulisan yang ada disampulnya. Aku setuju dengan tulisan itu, bahwa cinta itu rumit. “waktu itu, kenapa kau pergi tanpa memberitahuku?” tanyanya. Aku merasa seperti sedang di introgasi karena kesalahan yang sudah 7 tahun berlalu. Suaranya sedikit berubah, Sedikit lebih berat dari dulu. “Mmm, maafkan aku. Waktu itu aku hanya berpikir tidak ingin merusak suasana hatimu” jawabku. Suasananya berubah canggung. “Aku dengar dari Kido kalau waktu itu, hari dimana aku berangkat, kau kerumahku. Bukannya seharusnya waktu itu kau menemui Nana?” Haru terlihat berpikir sebelum akhirnya menjawab “Malam itu, setelah kembali dari taman aku berpikir sepertinya aku tidak benar-benar menyukai Nana. Aku sadar, kalau mungkin itu hanya perasaan kagum.” Jelasnya. “oh ya? Kenapa bisa begitu?” aku sedikit terkejut mendengar jawabannya. “mungkin karena waktu itu aku kurang peka, sampai tidak menyadari perasaanku sendiri” sambungnya lagi. Aku masih memperhatikannya. Dia menoleh, menatapku, sampai membuatku salah tingkah. “itu salahmu!” “Apa?” aku tidak mengerti maksudnya. Wajahnya berubah serius, dan masih terus menatapku “di taman waktu itu, kau sengajakan?” sambungnya. Aku berpikir, ditaman waktu itu? Apa mungkin yang dia maksud ciuman itu? Telingaku seperti panas, aku yakin wajahku sekarang memerah. “Kau seharusnya tidak boleh pergi begitu saja, tanpa bilang apapun padaku. Apa lagi setelah apa yang kau lakukan waktu itu” sambungnya. aku benar-benar ditempatkan pada posisi terdakwa. Cara bicaranya seperti seolah-olah aku melecehkannya kemudian pergi begitu saja -___- “Aku tidak akan memaafakanmu!”. Waahh, bicaranya lebih terus terang dibandingkan dulu. “Aku…… aku minta maaf” aku melihatnya denga rasa bersalah. Sedangkan dia masih melihatku dengan wajah serius, namun tiba-tiba tersenyum dan dengan cepat menciumku dengan lembut. Speechless, aku tidak bisa berkata-kata. “7 tahun lalu setelah kau mencium dengan alasan sebagai latihan, lalu setelah itu kau pergi membawa setengah dari hatiku. Dan sekarang aku sudah mengambilnya kembali” aku mencoba mengerti maksudnya, tapi mungkinkah? “7 tahun ini aku sangat menderita, setelah ini jangan pergi tanpa mengatakan apapun lagi, tinggalah disisiku seperti dulu” sambungnya, kali ini sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya. Hal yang selalu dilakukannya waktu masih sekolah dulu. Aku sepertinya mulai mengerti maksudnya tapi aku belum yakin, hingga aku putuskan untuk bertanya “Haru, apa kau suka padaku?” Haru tersenyum. “Seharusnya aku yang bertanya. Kau suka padakukan?” dia malah balik bertanya. Bertahun-tahun diam, aku tak mau diam lagi. Aku mengangguk mengiyakan “Sejak kau menyelamatkanku dari pot waktu itu, sejak itulah aku mulai suka” jelasku. Haru mengelus kepalaku, “Aku salah karena tidak sensitif. Waktu itu aku bahkan rela mengorbankan diri demi kau seharusnya aku tau, itu bukan Cuma karena aku takut sahabtku terluka,  tapi sebenarnya sejak saat itu aku juga sudah menyukaimu lebih dari teman. Tapi aku butuh waktu yang sangat lama sampai menyadari itu”. Seperti mimpi mendengar Haru berkata seperti itu. Tenyata selama ini perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku berjalan keluar perpustakaan sambil menggandeng tangannya, seperti biasa. 7 tahun berlalu tangannya semakin kekar, dia juga sedikit bertambah tinggi. agak malu menggandengnya, karena dia bukan lagi anak SMA yang pendiam seperti dulu, melainkan seorang pria dewasa yang terlihat pintar dan juga lebih banyak bicara. Sosok lelaki yang ideal. Cinta itu kadang memang rumit. Tapi menurutku Cinta itu tidak pernah salah, hanya saja kadang manusianya yang salah memilih orang untuk dicintai. Selama ini aku memilih menutupi perasaanku karena merasa aku salah jatuh cinta pada sahabatku sendiri, tapi justru keputusan untuk diam itu yang membuat kami membutuhkan waktu yang sangat lama sampai kami menyadari perasaan masing-masing. Satu hal yang harus diingat, serumit apapun urusan percintaanmu, akan lebih baik jika kau mengungkapkan apa yang sebenarnya kau rasakan ketimbang menyimpannya sendiri. THE END.

Kamis, 24 Mei 2012

CerpenKu Lagi

sumber gambar: google

 Mayu’s Love story
(I’m not stupid just innocent)

 By: Indra Lestari 

(Tokyo, musim semi)
Hari ini cerah, kompak dengan suasana hatiku yang juga cerah :D Aku Mayu 20 Tahun. Sedikit gambaran tentang diriku, banyak yang bilang Aku ini bodoh, tapi ini bukan bodoh melainkan innocent :D hari ini Aku begitu semangat menuju stadion sepak bola kampus. Akan ada pertandingan persahabatan antara sepak bola jurusan hukum melawan tim sepak bola jurusan seni. Tentu saja Aku mendukung teman-temanku dari jurusan hukum, apalagi Sano sang kapten adalah pacarku. Aku berjalan menuju ruang ganti membawa sebotol minuman untuk sano. Pertandingan akan dimulai kurang dari 30 menit lagi. Tapi, begitu sampai ruang ganti aku tak melihat Sano disana. Mataku kembali menyapu seluruh ruangan, benar-benar tak ada sosok Sano. Aku menghampiri Uehara, salah satu teman sano dalam tim. “kau melihat Sano?” tanyaku. “tadi dia keluar, tapi tidak tau kemana” jawabnya. “oh begitu yah. Ok, trimakasih” Aku berjalan keluar dari ruang ganti,. Aku berpikir mungkin saja Sano sudah kelapangan lebih dulu. Botol minuman yang aku bawa masih ku genggam. Aku berputar menuju lapangan, dan shok! Langkahku terhenti, mataku terbelalak, botol minuman yang tadi kugenggam erat terjatuh. Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Itu memang Sano. Aku marah, dan tangisku pecah, seakan ingin teriak tapi aku menahan suaraku dan menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Sano mencium seorang gadis, gadis itu tidak asing. Dia adalah anak baru dijurusan hukum. Aku tak percaya, Sano yang 5 bulan ini bersamaku, dia selalu bersikap manis, membuatku berpikir dia sangat sayang padaku. Tapi, mungkin aku terlalu bodoh, kali ini aku tak akan berlindung pada kata “innocent”. Dengan tangis yang masih belum bisa ku hentikan,, aku mundur perlahan bermaksud pergi begitu membalikan badan buukk! Aku menabrak seseorang. Sekian detik aku terdiam memperhatikan orang yang aku tabrak sambil terisak. Tubuhnya jangkung, hidung mancung dan rambut orange.  Seperti itulah gambaran orang yang aku tabrak. “maaf” ucapnya. Aku tak menjawab, dan langsung lari membiarkan botol minuman yang aku bawa tetap tergeletak ditanah. Tempat sepi dibelakang stadion kampus menjadi pilihanku. Rasanya sesak, sangat sulit menarik nafas. Tak pernah menyangka Sano akan seperti itu. Aku tertunduk membiarkan airmataku keluar. 10 menit berlalu, Kriiing kriiiing… Handphoneku bordering. “halo” jawabku. “Kau dimana? Pertandingannya sudah mau mulai” suara Ami diujung telepon. “ohh,, ok” Jawabku lirih, lalu memutuskan teleponnya. Aku bangkit, berjalan menuju kursi penonton dengan mata sembab. Dari kejauhan aku sudah bisa melihat Ami, dan langsung menghampirinya. “Kau dari mana, kenapa lama sekali? Sudah bertemu sano?” tanya Ami. Aku menggeleng pelan kemudian duduk tepat disampingnya. “Kau kenapa?” tanya Ami lagi, sadar kalau aku ada yang tidak beres. Aku menggeleng lagi. “Kyaaaaaaaaaaaaa” suara sorakkan penonton pecah saat dua tim kesebelasan masuk lapangan. Aku menatap Sano dingin, Ami tampak bingung. Lalu mataku tertuju kekapten kesebelasan tim jurusan seni. Tidak asing. Aku sedikit terkejut, orang yang tadi aku tabrak ternyata kapten tim jurusan seni. Suara sorakan kembali pecah. Nama Sano dan Takuma paling banyak diteriakan oleh penonton khususnya penonton-penonton wanita. “siapa Takuma?” bisikku. Dengan cepat Ami menjawab “Kapten tim jurusan seni”. Aku melihat Sano melambai kearahku sambil tersenyum, tapi entah kenapa kali ini terasa sangat sulit membalas senyumnya. Mataku menangkap sosok wanita yang tadi dicium Sano. Dia tersenyum menatap kearah Sano. Aku melihatnya sinis, ingin rasanya menghampiri kemudian menampar wajahnya, tapi tidak kulakukan. Pertandingan dimulai, tapi pikiranku tak terfokus kepertandingan. Yang aku pikirkan hanya tentang hubunganku dengan Sano. Tidak lagi! Tidak akan ada lagi hubungan antara aku dengan Sano. Aku tidak akan memaafkan perbuatanya. Pikiranku melayang kemana-mana sampai tidak terasa pertandingan sudah selesai. Pertandingannya berakhir seri 2-2.
Penonton mulai berhamburan keluar, Aku dan Ami juga ikut bangkit dari kursi penonton. “Aku duluan yah. Kau temui Sano dulu. Sepertinya ada masalah antara kalian berdua” ujar Ami, yang bisa mengerti tanpa aku harus menjelaskan. Aku hanya mengangguk lalu pergi. Lagi-lagi aku melihat gadis itu, gadis yang tadi dicium Sano. Dia terlihat begitu semangat menceritakan sesuatu pada teman-temanya kemudian sek-sekali terbahak. Entah apa yang dia ceritakan, mungkin menceritakan pengalamannya di cium Sano, entahlah. Sano dan teman-temannya masih telihat berkumpul dipinggir lapangan. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya memutuskan untuk menghampirinya. Saat akan masuk kearah lapangan aku berpapasan dengan orang yang tadi aku tabrak “Thanks” ucapnya sambil tersenyum seraya mengangkat botol minuman. Itu? Iya benar, itu botol minuman yang tadi aku jatuhkan, dan ternyata dia mengambilnya. Aku sedikit heran, tapi kemudian pikiranku kembali terfokus pada Sano. Sano yang sudah melihatku dari kejauhan langsung datang mendekat. “hei, dari mana saja? Tadi aku menunggumu diruang ganti” katanya seraya memegang wajahku dengan kedua telapak tangannya seperti tidak ada apa-apa. Aku diam, lalu dengan cepat melepaskan tanganya. “kenapa?” Tanyanya.  Aku berpikir, kenapa dia masih bisa bersikap semanis ini setelah apa yang sudah dia lakukan. “Mayu ada apa?” tanyanya lagi. “aku tadi keruang ganti, tapi kau tidak ada” jawabku. “Apa?” Sano seperti terkejut. “Aku melihat kau dengan anak baru itu!” ucapku tegas. Dari ekspresinya, aku bisa melihat Sano sangat terkejut. “ii,,itu… aku bisa jelaskan” Sano terbata-bata. “kau tidak perlu menjelaskan apapun”. Tegasku. Sano terdiam. “aku sudah bilang sebelumnya, tidak akan ada maaf untuk yang seperti ini” sambungku. Suaraku bergetar menahan agar aku tidak menangis didepannya. akan sangat memalukan jika sampai menangis di tempat ini. “Mayu, ini tidak seperti yang kau pikirkan” Sano mencoba membela diri. “lalu seperti apa? yang aku lihat sudah cukup menjelaskan semua. Kau menciumnya!”. “Mayu, akuuuu” belum sempat Sano menyelesaikan kalimatnya, aku memotong “kali ini aku tidak bisa memaafkanmu” ucapku. “kak sanooo….” Tiba-tiba seseorang terdengar memanggil sano. Aku menoleh, sulit di percaya bahkan saat aku disinipun gadis itu berani terang-terangan datang menemui sano. “pacarmu datang. Aku rasa semua sudah jelas” kataku kemudian pergi. Sano masih mencoba mencegah tapi sama sekali tak kupedulikan. Aku mencoba terlihat tegar dihadapan Sano, padahal sesungguhnya ini menyakitkan. Setelah yakin sudah menghilang dari pandangan Sano barulah aku benar-benar menangis. berpisah seperti ini sangat berat sampai membuat lututku gemetar tak mampu berdiri. Sakitnya tak bisa dijelaskan. Aku duduk dibangku dekat parkiran. berpikir, sejak kapan aku dibodohi oleh mereka berdua. Aku tertunduk, selanjutnya aku harus bagaimana saat nanti bertemu Sano. Aku harus berkata apa saat tiba-tiba berpapasan denga Sano yang sedang bergandengan dengan gadis itu? Memikirkannya saja sudah sangat sesak.
Brum… brum… seseorang yang mengendarai sepeda motor tiba-tiba berhenti didepanku. Aku mengangkat wajahku, dia memakai seragam kesebelasan tim jurusan seni. Perlahan dia membuka helmnya, dan ternyata dia kapten kesebelasan tim seni, orang yang juga tidak sengaja aku tabrak tadi.  “sepertinya kau memiliki hobi menangis ditempat sepi. Itu sungguhan atau sedang berlatih drama? Mana ada orang yang menangis sesering itu, ditempat umum pula” katanya dengan ekspresi datar. Ini memalukan mendengar dia berkata begitu. Aku tak menjawab, hanya buru-buru bangkit dari bangku tempatku duduk kemudian pergi.
Malam harinya aku menceritakan semuanya kepada Ami melalui telepon, dan hari itu hubunganku dengan Sano benar-benar sudah berakhir. Hari kedua, ketiga, keempat, sampai akhirnya genap seminggu sejak aku putus dengan Sano. Kampus masih menjadi tempat yang tidak nyaman untuk aku datangi. Harapan satu-satunya saat sedang dikampus adalah semoga tidak bertemu Sano, Aku bersyukur setidaknya kami tidak sekelas. Menurut rumor yang beredar sekarang Sano pacaran dengan  gadis itu, bukan hal yang muda menerima itu tapi setidaknya harga diriku terselamatkan karena aku yang pertama memutuskan Sano. “Mayu, setelah ini mau kemana?” tanya Ami. “entahlah, mungkin akan langsung pulang” jawabku seraya membereskan buku-buku kuliah. “yaaahh,, jangan pulang dulu. Temani aku yah, aku dengar diujung jalan sana ada café yang baru buka. Aku ingin lihat tapi tidak mau kalau harus pergi sendiri. Temani aku yah” Ami memohon, dan sulit rasanya menolak permintaan sahabatku “Baiklah” Jawabku. Setelah semua buku-buku dibereskan dan dimasukkan kembali kedalam tas, kamipun meninggalkan kelas. Jarum jam menunjukan pukul 4 sore. Saat berjalan di koridor dari kejauhan aku melihat Sano. Dia tersenyum tipis, tapi aku memalingkan wajah seolah tak melihat. Masih butuh waktu buatku sampai benar-benar bisa memaafkannya dan menerima dia sebagai teman. 10 menit berjalan kaki, sampailah kami di café itu, tidak begitu jauh dari area kampus. Tempatnya tidak begitu besar tapi lumayan bagus untuk tempat berkumpul. Begitu masuk kedalam sudah lumayan banyak pengungjung yang datang. Beberapa diantaranya teman-teman dari kampusku. “waaahh,, tempatnya bagus” Ami terlihat sangat menyukai tempatnya. Ami menarikku menuju meja yang jaraknya kira-kira 5 meter dari panggung, lalu memesan minuman. Panggung itu masih kosong, hanya ada beberapa ada alat musik disana. “kau suka tempat ini?” tanya Ami. “Hmm… iyah. Tempat ini lumayan”. “hah, baguslah kalau kau suka. Aku akan sering-sering mengajakmu kesini” lanjut Ami sambil tersenyum lalu meraih ponselnya yang ada di tas. Dia terlihat begitu semangat menulis pesan “kau mengirim pesan kesiapa?” tanyaku. “kenalan” jawabnya. “pacar?” tanyaku lagi. Ami terihat sedikit berpikir sebelum akhirnya menjawab “bukan pacar, tapi teman dekat. Dia anak jurusan seni, katanya dia dan bandnya kerja paruh waktu di café ini” Ami menjelaskan. “huft, pantas kau begitu semangat kesini”. Hampir 15 menit duduk di café ini, perlahan-lahan mulai biasa dengan suasananya dan aku cukup menyukainya.
“selamat sore semua” suara terdengar berasal dari arah panggung. Semuanya menoleh. Disana telihat seorang pria yang berusia sekitar 40an. “saya mengucapkan terimakasih untuk respon positif para pengunjung sekalian , dan mulai hari ini akan ada  band lokal yang akan menghibur kalian disini. Semoga kalian menyukainya. Dan inilah mereka, D’reD!!!”, dari caranya berbicara sudah jelas itu pemilik café ini. Semua bersorak saat nama Band itu disebutkan. “Ahh, itu dia”. Ami menunjuk kearah Drumer band itu. Suara sorakan semakin kencang saat gitaris sekaligus vocalist naik keatas panggung. Aku terdiam, sedikit tidak percaya denga apa yang aku lita. Lagi-lagi dia. Orang yang waktu itu tidak sengaja aku tabrak. Kapten kesebelasan sepak bola tim jurusan seni. Suara sorakan semakin menjadi-jadi saat lagu mereka mulai dimainkan. Kebanyakan pengunjung yang datang adalah anak-anak dari jurusan seni. Sepertinya band mereka cukup terkenal dikalangan anak-anak jurusan seni.
Saat D’reD selesai perform, semua personilnya turun panggung dan memilih meja yang tidak jauh dari meja kami. Seketika beberapa cewek langsung datang menghampiri mereka. Kalau diperhatikan dari 4 personil band itu sang covalislah yang lebih banyak dihampiri para cewek.  Tak lama kemudian si drummer datang menghampiri kami. “tadi itu pertunjukan yang hebat” Ami memuji. “begitu yah? terimakasih pujiannya” jawab si drummer sambil tersenyum lebar. “oh iya kenalkan, ini sahabatku Mayu” aku tersenyum “Senang bertemu. Aku mayu”. Jawabku memperkenalkan diri. “senang bertemu, Namaku Ryu”. Drummer itu juga memeperkenalkan diri. Dia sepertinya orang yang periang, selain itu juga sangat ramah. Kriiing kriiing, ponselku tiba-tiba berdering. Itu telepon dari ibu. “halo ibu”. Aku mengangkat telepon. “um baiklah, aku pulang sekarang”. Sambungku lalu memutuskan telepon. “ada apa?” tanya Ami. “Aku harus pulang sekarang” jawabku. “ohh, ya sudah ayo kita pulang”. “ehh tidak usah, aku pulang sendiri saja. Ryukan baru saja datang, kalian ngobrol saja dulu” kataku. “Mayu, kau yakin tidak apa-apa harus pulang sendiri?”. Ami kelihatan ragu utnuk membiarkanku pulang sendiri. “um, tidak apa-apa” jawabku mencoba meyakinkan, lalu perlahan bangkit dari tempatku duduk. “Ryu, aku duluan yah. Aku titip Ami” pamitku. Ryu tersenyum lebar sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan. Akupun berjalan keluar dari café itu. Aku baru memperhatikan papan nama café itu, dan disana tertulis Le’Luna café nama yang sedikit aneh, entah apa artinya. Dari café itu aku harus berjalan kurang lebih 100 meter menuju halte bis, baru setengah perjalanan langkahku terhenti karena suara klakson motor yang tiba-tiba berhenti didepanku. Pengendara motor itu membuka kaca helmnya. Itu sang vocalis, alias kapten kesebelasan tim sepak bola jurusan seni alias orang yang waktu itu tak sengaja aku tabrak. “Naiklah!” serunya. Aku terdiam, sedikit bingung dengan apa yang aku dengar. “kau teman Ami kan? Ami memintaku untuk mengantar kau sampai rumah” sambungnya. Aku masih berpikir, tak berani mengambil keputusan. “Mmmm… tidak usah, Aku pulang sendiri saja” jawabku. “tenang saja, aku jamin kau sampai rumah dengan selamat. Anggap saja, ini ucapan terimakasih karena waktu itu kau sudah memberiku minuman” katanya lagi. Pikiranku melayang kewaktu itu, waktu dimana aku menjatuhkan minuman itu. Aku sama sekali tak pernah berpikir akan memberikan minuman itu padanya, huffttt orang aneh. Tapi, karena melihat niatnya tulus akhirnya aku memutuskan untuk ikut. “oke. Pastikan kau mengantarku sampai rumah dengan selamat!” akupun berjalan kearahnya kemuudian naik kemotornya. Dia tersenyum tipis, kemudian memberiku helm. Akupun meraih helm itu dan langsung memakainya. Lama tak pernah naik motor, begitu naik motor lagi rasanya sedikit tegang. Aku menarik kencang jaketnya, sambil menutup mata, tak berani melihat sekeliling saat motor itu melaju cukup kencang. Tiba-tiba aku merasakan tangannya, meraih tangaku yang menarik kencang jaketnya, kemudian melingkarkannya kepinggangnya. Suasananya berubah canggung. Yang aku pikirkan adalah, aku ingin cepat-cepat sampai rumah supaya bisa keluar dari suasana canggung seperti ini, dan yippiiii! Kurang dari 15 menit aku sampai rumah. “Terimakasih Takuma” kataku. Dia kelihatan sedikit terkejut karena aku tau namanya. “Saat pertandingan waktu itu banyak yang meneriakan namamu, tadi waktu di Le’Luna café juga seperti itu jadi bukan hal yang sulit untuk mengingat namamu” jelasku. Dia tersenyum. “begitu yah” katanya. “oh iya, soal dramamu semoga berhasil yah” sambungnya lagi. Agak lucu mendengarnya. Dia masih mengira kalau waktu itu aku sedang berlatih drama. “um, trimakasih” aku mengangguk sambil menahan tawa. “kalau begitu aku pergi sekarang, aku harus kembali ke Le’luna café”. “ok, sekali lagi terimakasih” jawabku. Diapun kembali meng’gas motornya kemudian melaju kencang sampai akhirnya menghilang dipembelokan. Such a nice guy J akupun bergegas masuk kerumah.
Hari-hari berlalu, tak terasa bunga sakura mulai bermekaran. Bagian yang paling aku suka dari musim semi adalah bunga sakura yang bermekaran. Seketika membuat kota seperti berwarna pink. Hari ini aku ada rencana keperpustakaan tapi Ami tak bisa menemani. Akhir-akhir ini dia sedikit sibuk dengan Ryu. Tapi aku memaklumi, sebagai pasangan baru mereka pasti ingin lebih banyak menghabiskan waktu berdua. Aku berjalan menyusuri koridor menuju perpustakaan universitas. Tapi saat sampai dipintu perpustakaan langkahku terhenti ketika menatap sosok yang sama sekali tidak ingin kulihat ada ditempat itu. Sano dan anak baru itu sedang duduk berduaan di salah satu bangku perpustakaan. Aku mengurunkan niatku untuk masuk, tidak mungkin aku bisa berpura-pura tidak melihat mereka, sementara jika aku memutuskan untuk masuk keperpustakaan jelas aku harus lewat tepat didepan tempat mereka duduk. Aku terdiam sejenak, berpikir harus seperti apa. Tapi kemudian aku dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menggandeng tanganku lalu menarikku masuk keperpustakaan. Aku menoleh dan itu Takuma. Aku melihatnya bingung, dan dia hanya tersenyum. Senyum yang hangat, seperti membuatku merasa tentram. “bersikap biasa saja, dan tersenyumlah” bisiknya sambil terus menggandengku melewati Sano dan gadis itu. Dan thank god aku terselamatkan. Setidaknya aku tak terlihat seperti pecundang khusunya didepan gadis itu. Kami duduk agak jauh dari tempat Sano duduk. “kau, kenapa bisa ada disini?” tanyaku. “aku harus mencari bahan untuk tugas. Aku melihat kau seperti ragu untuk masuk jadi kuputuskan untuk menarikmu” jelasnya sambil tersenyum. “mmmm,, aku akan mencari beberapa buku yang kubutuhkan”lanjutnya. “oh iya, akau juga akan mencari beberapa buku yang aku butuhkan” jawabku lalu ikut bangkit menuju rak buku. Sebenarnya Aku bertanya-tanya, kenapa dia melakukan itu, apa mungkin dia tau masalahku dengan Sano, atau mungkin tadi itu hanya kebetulan. Katanya dia menarikku masuk karena melihatku seperti ragu-ragu untuk masuk. Tapi apapun itu aku tetap berterimakasih. Beberapa jam berlalu. Jam tanganku menunjukan pukul 5 sore. Sano dan gadis itu juga sudah tak terlihat lagi. “sepertinya sekarang aku harus pergi” kata Takuma. “aku juga, aku harus pulang sekarang” jawabku. Kami mulai merapikan beberapa buku yang berserakan diatas meja sebelum akhirnya keluar dari perpustakaan. Kami berjalan menyusuri koridor “Terimakasih untuk hari ini” kataku. “trimakasaih untuk apa?” tanyanya. “Entahlah, yang jelas hari ini aku berterimakasih” jawabku. Dia tersenyum lagi kemudian berkata “baiklah, walaupun aku tidak tau itu terimakasih untuk apa, tapi sama-sama, Mayu-chan”. J oke, cowok ini memiliki bakat untuk membuat cewek jatuh cinta hanya dengan melihat senyumnya. Senyumnya benar-benar menghangatkan. “Kau mau langsung pulang?” tanyanya. “um!” aku mengangguk. “mau aku antar?” “oh, tidak usah. Inikan waktunya kau ke Le’Luna café”. Jawabku. “kau yakin?” “um” aku mengangguk lagi. “pergilah, nanti kau bisa terlambat” sambungku. “baiklah. Sampai jumpa lagi”. “sampai jumpa” jawabku, sambil membiarkan mataku melihatnya yang berjalan menjauh.
Beberapa hari berlalu. Aku merebahkan tubuhku sambil menatap langit-langit kamarku, hal yang selalu aku lakukan ketika sedang tidak ada kerjaan. Pikiranku melayang kekejadian diperpustakaan itu. Bukan ketika aku melihat Sano dan gadis itu, tapi ketika Takuma menggandeng tanganku. Aku merasa seperti ada yang menggelitik setiap kali mengingat kejadian itu. Takuma. Dia cowok yang baik, tapi akan berhadapan dengan puluhan bahkan mungkin ratusan cewek penggemarnya jika memutuskan untuk suka sama dia. Huffttt, kali ini pikiranku benar-benar mulai kacau. Kriiiiing kriiiiiing! Lagi-lagi ponselku tiba-tiba berdering, seketika membuatku tersadar dari lamunan yang mulai mengarahkan kepemikiran gila. Dan itu pesan dari Ami –Datanglah ke Le’Luna café, hari ini aku sedang bahagia jadi aku yang traktir J- ku lirik jam, pukul 18.30. Kebetulan aku sedang bosan dirumah, jadi memutuskan untuk pergi. 30 menit kemudian, here I am at Le’Luna café. Begitu masuk aku langsung melihat Ami yang duduk sendirian. Takuma, Ryu dan dua temanya sedang menghibur para pengunjung dengan lagu-lagu mereka. “Mayu” Ami melambai dari kejauhan, akupun langsung berjalan menghampirinya. “hei, apa yang membuat kau bahagia? Ryu melamarmu?” tanyaku menggoda. “Haahh,, kau ini. Mana mungkin” Ami mengkerling. “tidak ada alasan khusus yag jelas hari ini aku sedang bahagia” sambung Ami. “hah,, kau ini” Kali ini aku yang mengkerling, kemudian mencicipi minuman yang sudah dipesan Ami. “haiii Mayu” suara yang tak asing terdengar memanggilku. Aku menoleh, dan itu Sano. “Boleh aku duduk disini?” tanyanya. Aku heran, kenapa bisa dia ada disini, tapi kemudian aku berpikir sampai kapan aku harus terus marah dan menghindarinya. Kejadian itu sudah lebih dari sebulan, mungkin sebaiknya aku mulai belajar memaafkan, dan menerima Sano sebagai teman. “um, silahkan” jawabku. Ami menatapku penuh tanya, dia terlihat kesal, aku hanya membalasnya dengan senyum. “kenapa kau bisa ada disini?” tanyaku. “beberapa temanku bilang akan kesini, tapi sepertinya mereka sudah pergi” jawab Sano. Ami hanya diam, terlihat tak begitu tertarik untuk bicara denga Sano. “Mmm,, kenapa sendirian? Kau tidak bersama… siapa namanya?” tanyaku lagi. “Namanya Rieka”. Jawab Sano cepat. “sepertinya dia sedang banyak tugas jadi tidak bisa ikut” sambungnya. “oh, begitu yah”. Aku tersenyum. “ehem, Mayu aku ketoilet sebentar” Ami memotong. “oh, baiklah” jawabku. Ami pun bergegas pergi dan tinggalah Aku bersama Sano. Wajahnya berubah serius. “Kau ingin pesan minum?” tanyaku. “ohh tidak usah, aku tidak akan lama” jawabnya. “Mayu… karena aku bertemu kau disini, aku sekalian ingin meminta maaf karena sudah menyakitimu” sambung sano. Aku sedikit terkejut mendengarnya berkata seperti itu. Aku menarik nafas panjang, mengingat kejadian itu memang membuatku sedikit kesal tapi yang sudah lalu biarkan saja berlalu. “sudahlah, lupakan saja. Aku sudah tidak marah. Baik-baiklah pada gadis itu” aku mencoba bijak, tapi jujur aku memang sudah bisa mengikhlaskannya. Sano hanya tersenyum dan tak berkata apa-apa lagi. D’reD selesai perform, dan Ryu langsung datang mengampiriku. “Ami mana?” tanyanya. “ketoilet” jawabku. Aku menoleh kearah Takuma, dia masih diatas panggung, terlihat mengotak atik gitarnya, wajahnya terlihat kusut tidak seperti biasanya, tapi aku tak berani menanyakannya pada Ryu. Tak lama kemudian Ami datang “Haahh,, sepertinya popularitas D’reD cukup berhasil menarik cewek-cewek untuk datang, sampai-sampai antrian toilet hrus sepanjang itu” keluh Ami. Ryu hanya tersenyum, sepertinya dia sudah mulai terbiasa dengan sikap Ami yang selalu mengeluh walaupun Cuma karena hal-hal kecil. “Hmm… kalau begitu aku pergi sekarang. Aku tak ingin mengganggu acara kalian” ujar Sano, “um, sampai jumpa” jawabku. Sanopun kemudian pergi.  “Apa yang dia katakan?” Tanya Ami ingin tau. “Tidak ada, dia hanya minta maaf” ‘”hah, masih berani dia minta maaf setelah apa yang sudah dilakukan padamu. Berselingkuh dengan anak baru yang bahkan tidak lebih baik darimu”. Kali ini Ami terlihat emosi, seperti biasanya selalu dia yang lebih menggebu-gebu. “sudahlah, kejadianya sudah lumayan lamakan? Aku juga perlaha-lahan sudah mulai lupa”. “Haahh,, kau ini” Ami masih kesal, kemudian dia mengalihkan pandanganya kearah Ryu “Kalau kau berani selingkuh aku akan membunuhmu!”  sambungnya. “heii, heiii,, tenang saja aku bukan orang yang seperti itu” jawab Ryu tenang, aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
Aku kemudian menoleh kearah Takuma. Dia terlihat sibuk meladeni para cewek yang mengajaknya berfoto bersama. Aku bisa melihat matanya yang sek-sekali melihat kearahku, tapi malam ini dia agak aneh. Dia tidak tersenyum seperti biasanya saat menoleh kearahku. Ryu kemudian bangkit dari kursinya dan kembali keatas panggung. Waktunya D’reD membawakan lagu yang berikutnya. “kenapa dia?” tanyaku. “siapa?” Ami balik bertanya, tak mengerti siapa yang aku maksud. “Takuma. Dia agak aneh, tidak seperti biasanya”. Jelasku. “masa sih?” Ami bingung. “aku tidak melihat ada yang aneh. Dia masih seperti biasanya.” Sambungnya. “begitu yahh?”. Walaupun Ami bilang tidak ada yang aneh,  tapi tetap saja aku merasa cara Takuma melihatku berbeda dari biasanya. Huffttt,, tak seharusnya hal yang seperti ini mengganggu pikiranku.
Hari ini tepat dua bulan sejak aku putus dengan Sano dan Tepat dua bulan saat pertama kali aku bertemu Takuma. Anehnya, Sano sekarang lebih sering terlihat sendiri dibandingkan bersama gadis yang bernama Rieka itu. Tapi terserahlah toh itu juga bukan urusanku. “Mayuuu” panggil  Ami yang baru saja tiba diruangan tempat aku duduk. “Sedang apa kau disini?” tanyanya. “Apa tidak bosan membaca terus?” tanyanya lagi seperti sudah tau apa yang sedang aku lakukan. Aku menggeleng sambil tersenyum. “haaahh,, kau ini. Ayo ke Le’Luna” Ajaknya. Aku menggeleng lagi. “Ahhh,, Mayu ayoooo” kali ini Ami mulai memaksa. “beri satu alasan kenapa aku harus ikut kau ke Le’Luna?” Ami terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab “karena kau rindu Takuma jadi kauh harus ke Le’Luna agar bisa melihatnya” :D “Apa???” aku terkejut mendengar jawaban Ami. “sudahlah, jangan banyak bicara ayo pergi”. Ami seperti tak lelah membujukku. “hmmm,, baiklah. Tapi kau kesana duluan, aku harus mengembalikan buku keperpustakaan nanti setelah itu aku akan menyusul”. Jawabku. “oke, sampai ketemu disana. Jangan lama-lama yah?”. Ami bergegas pergi dan akupun bergegas menuju perpustakaan.  Setelah mengembalikan buku, Aku berjalan menuju Le’Luna café. Aku melirik jam tanganku, pukul 18.00. begitu sampai disana, aku melihat Takuma berdiri di depan Le”Luna café, awalnya aku ingin langsung menghampirinya, tapi ternyata dia tidak sendiri. Langkahku terhenti setelah tau dia bersama seorang gadis. Dan gadis itu tidak asing, itu Rieka. Aku tau ini tidak sopan, tapi aku penasaran ingin tau apa yang mereka bicarakan, karena itu aku tetap bersembunyi dibalik tembok dan mencoba mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. “Kenapa kau memanggilku kesini?” tanya Takuma. “maaf, Namaku Reika. Aku sudah lama menyukai kak Takuma. Maukah kak Takuma jadi pacarku?” Aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin? Bukannya Reika itu pacar Sano? Takuma terdiam, mungkin berpikir harus menjawab seperti apa. Aku bergegas pergi meninggalkan tempat itu, aku tidak tertarik lagi untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Aku marah walaupun tau aku sama sekali tak punya hak untuk marah. Tidak hanya Sano, tapi cowok manapun pasti tidak akan bisa menolak kalau didekati cewek yang cantik seperti Reika. Terus terang Aku merasa sedih, walaupun tak bisa menjelaskan kenapa aku sedih. Aku menahan agar air mataku tidak jatuh, Akan sangat memalukan kalau air mataku harus jatuh karena suatu hal dimana aku tidak memiliki hak untuk menangisinya. Aku tau alasannya kenapa aku merasa seperti ini, tapi tidak mudah mengungkapkan perasaan dan menjelaskan alasan itu. Kriiing kriiing! Ponselku berdering, telepon dari Ami. “Mayu, kau dimana? Kenapa lama sekali?” Tanya Ami diujung telepon. “Ami maafkan Aku, sepertinya Aku tidak bisa kesana. Tiba-tiba ada hal penting yang harus aku kerjakan”. “Loh,, hal penting apa? Kaukan sudah janji akan datang” Ami terdengar kecewa. “Maaf yah Ami, lain kali saja. Aku harus pergi sekarang” Tit! Aku memutuskan teleponnya.
Keesokan harinya. Aku datang kekampus lebih cepat dari biasanya, tapi tak lama kemudian Ami juga datang. “Mayu, kenapa kemarin tiba-tiba menghilang tanpa kabar?” Tanyanya. “maaf, Ibuku tiba-tiba menelpon”, jawabku mencari alasan. “Haah, kau ini. Padahal kemarin Takuma menunggumu” sambung Ami. “oh ya, kenapa?” jawabku lirih. “heii,, ada apa? Kenapa jawabanmu dingin seperti itu?”. Ami sepertinya menyadari kalau ada sesuatu. “Mayuu” Seseorang tiba-tiba memanggilku, dan ternyata lagi-lagi itu Sano. “Haii” Sapaku. Ekspresi Ami tiba-tiba berubah begitu melihat Sano. Ponselnya juga tiba-tiba berdering. “Aku keluar sebentar yah, ada telepon dari Ryu” Ami pun kemudian berlari keluar ruangan. “Bagaimana kabarmu?” Tanya Sano. “Baik. Kau sendiri?” Aku balik bertanya. “Baik juga”. Jawabnya. Jujur saja aku sedikit penasaran ingin tau bagaimana hubungannya dengan Reika, tapi aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakan hal itu. “Akhir-akhir ini kau terlihat lebih manis” katanya tiba-tiba. Dia menatapku dalam, membuatku merasa canggung. “dua bulan terakhir ini, apa kau baik-baik saja?” Tanya lagi. “um, aku baik-baik saja. Kenapa bertanya seperti itu?”. “Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, mungkin akan lebih baik jika………” belum sempat Sano meneruskan kalimatnya Ami tiba-tiba kembali. “Mayu, sore ini kau ada waktu?” ami memotong pembicaraan Sano. “Sore ini aku ada janji dengan Ibu. Ada apa?” Tanyaku. “dua hari lagi Ryu ulang tahun, Aku ingin meminta kau menemaniku mencari kado, tapi kalau kau tidak bisa tidak apa-apa. Aku akan pergi sendiri”. “Maaf yah Ami”. Ucapku. “Tidak apa-apa J”. Aku kembali fokus ke Sano. “oh ya, tadi kau mau bilang apa?” Tanyaku. “Mmm… tidak apa-apa. Lupakan saja” Jawab Sano. “sepertinya Aku harus kembali kekelasku sekarang” sambungnya. “oh, baiklah. Sampai jumpa”. “Sampai jumpa” jawabnya, lalu pergi. Ami menatap sinis kearah Sano yang berjalan menjauh sebelum akhirnya menghilang dari pandangan kami berdua. “dia bilang apa?” Tanya Ami. “Tidak ada. Dia hanya menyapa, dan bertanya apa aku baik-baik saja”. Jelasku. “hah,, untuk apa dia bertanya begitu?”. Ami mulai sinis. “Entahlah. Sudah tidak usah dibahas. Ayo duduk, sebentar lagi pelajaran akan dimulai!”.
Malam harinya. Tugas kampus tidak begitu banyak sehingga Aku memiliki waktu untuk membantu ibu menyiapkan makan malam. Sejak Ayah dan Ibu bercerai kami hanya tinggal berdua, sedangkan ayah pindah ke cina dan membuka usaha disana. “Sudah lama Sano tak pernah datang lagi kesini, kalian bertengkar?” Tanya Ibu tiba-tiba. Aku memang tak pernah sekalipun menceritakan tentang masalahku dengan Sano pada Ibu. Ibu juga belum tau kalau Aku dan Sano sudah putus. Tapi, setelah dipikir-pikir aku memang tidak bisa terus-terusan menyembunyikan hal itu dari ibu, karena cepat atau lambat dia pasti akan tau. “Mayu, kenapa diam saja?” Tanya ibu lagi, karena aku tak juga menjawab. “Hmm,, Aku dan Sano sudah putus Bu”. Jawabku. Ibu sedikit terkejut. “Apa? Kenapa bisa?”. “Sepertinya kami kurang cocok dalam beberapa hal, tapi kami tetap berteman”. Aku berpikir tidak mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya pada ibu, lagipula itu sudah cukup lama, jadi sebaiknya tidak usah diungkit-ungkit lagi. “Hmm,, begitu yah. Ibu tidak mau terlalu banyak ikut campur dalam urusan kau dan Sano. Kau sudah dewasa, jadi sudah pasti bisa mengambil keputusan sendiri”. “um, iya ibu”.  Kriiiiiing…kriiiiing! Ponselku berdering lagi. Aku memperhatikan layar, Sano calling! Aku sedikit bingung, ini pertama kalinya Sano menelponku semenjak kami putus. “Halo” Akhirnya kuputskan untuk menjawab teleponnya. “Mayu…” Suara Sano diujung telepon. Tapi suaranya sedikit aneh, dia terdengar terbata-bata dalam berbicara ditambah lagi suara gaduh disekitarnya membuatku semakin sulit untuk mengerti apa dia katakan. “Sano? Ada apa?” tanyaku. “Mayu, aku mohon kau datanglah kesini” pintanya. “kau dimana?” “Le’Luna” Sambung Sano dan teleponnya pun terputus. Aku sedikit panik, suaranya terdengar aneh. Tidak biasanya dia seperti itu. “Ada apa?” Tanya Ibu. “Ibu, aku harus pergi sebentar”. Jawabku kemudian secepat mungkin berlari keluar rumah dan menuju halte bis. Ibu sama sekali tak mencegahku, sepertinya dia tau kalau ini benar-benar darurat. Sekitar 15 menit kemudian aku sampai di Le’Luna café. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk kedalam. Sempat berhenti sebentar didepan pintu, melempar pandangan keseluruh ruangan mencari sosok Sano. Kebetulan saat itu D’reD sedang tampil. Tapi, mataku kemudian terfokus ke Sano yang duduk sendirian dimeja yang penuh botol alkohol, sepertinya dia mabuk. Aku menghampirinya. “Sano? Kau kenapa?” Terus terang aku sedikit terkejut melihat Sano dalam keadaan seperti ini. Sebelumnya dia tak pernah minum alkohol sampai semabuk ini. Sano memandangku, sepertinya melihatpun dia agak sulit, terlihat jelas saat dia berusaha mengenaliku. “Mayuuu” suaranya terbata-bata. Aku sedikit pusing dengan kegaduhan di tempat di Le’Luna. D’reD yang sedang tampil, ditambah suara sorakan gadis-gadis fans mereka, dan aku harus berusaha keras untuk mengerti perkataan Sano yang tidak begitu jelas. “Mayuuu” ujar Sano lagi. Kali ini dia memegang wajahku dengan kedua telapak tangannya. Situasinya canggung. “Sano, kau tidak seperti biasanya. Kenapa minum sebanyak ini?” aku berusaha melepaskan tangannya dari wajahku. “Mayuu,, maafkan Aku. Aku pikir putus darimu itu sebuah kesalahan. Kembalilah Mayu”. Sano tiba-tiba memelukku erat. “Jangan seperti ini Sano, lepaskan aku” “Mayu, aku mohon”. Dalam suasana gaduh aku berusaha keras melepaskan diri dari pelukan Sano, tapi pelukannya malah semakin erat. Jujur saja aku marah, dan terus berusaha melepaskan diri. Namun kegaduhan tiba-tiba berhenti, saat Takuma tiba-tiba berhenti menyanyi, melepas gitarnya lalu turun dari panggung café dan berjalan cepat kearahku, menarik Sano dan Bukkk!!! Satu pukulan didaratkan tepat diwajah Sano sehingga membuat Sano terpental kelantai. Suasana tiba-tiba hening. “Apa-apaan kau?!” Aku reflek mendorong Takuma. Hidung sano berdarah. “Kau tidak apa-apa?” tanyaku, tapi Sano tak menjawab, dia hanya menggeleng pelan. Aku menatap Takuma tajam “Apa masalahmu? Kenapa kau tiba-tiba memukulnya?” Tanyaku sinis. “Si brengsek itu memang pantas aku hajar. Dia berbuat tidak sopan padamu” Takuma menjelaskan. “Itu bukan urusanmu!”. “Takuma, sudahlah”. Ryu datang menenangkan Takuma. Aku bisa melihat jelas, kalau Takuma benar-benar sedang emosi. Dia kemudian berjalan keluar café tanpa mengatakan apapun. Untuk beberapa saat, semua pandangan para pengunjung tertuju pada kami. “Mayu, kau butuh bantuan?” Tanya Ryu. “Tidak usah, aku akan menelpon kakaknya untuk menjemputnya”. Jawabku, lalu meraih ponsel disakuku dan menghubungi kakak Sano.
Sekiatar 30 menit kemudian, kakak laki-laki sano datang kemudian memapah sano menuju mobil. “Mayu, maaf merepotkanmu” katanya. “Tidak apa-apa kak”. Jawabku. “Baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang”. Aku mengangguk, kakak Sanopun bergegas masuk mobil dan pergi. Hufffttt,, malam yang melelahkan dan sedikit memalukan. Aku baru teringat, aku bahkan belum makan malam. Aku bermaksud untuk langsung pergi, tapi aku terkejut melihat Takuma yang sedang duduk didepan café. Dia melihat kearahku, tapi aku sedang tidak ingin bicara padanya. Aku memutuskan untuk terus jalan dan bersikap seolah tidak melihatnya. “Mayu!” dia tiba-tiba memanggiku. Aku terus jalan, tak memperdulikannya. “Mayu!” kali ini dia mengahmpiri dan menarik tanganku. Dengan cepat aku melepaskan tanganku. “Aku ingin bicara” katanya. “Aku sedang tidak punya waktu untuk bicara denganmu” Aku bermaksud langsung pergi, tapi tiba-tiba dicegat lagi olehnya. “Sebentar saja”. Katanya. “hah,, cepat katakan!”. “apa Aku punya salah?” tanyanya. “Apa???”. Aku terkejut dengan pertanyaannya. “Akhir-akhir ini aku merasa kau menghindariku. Apa aku punya salah?”. Lanjutnya. Aku berpikir, akhir-akhir ini aku memang sedang mengindar agar tidak bisa bertemu dengannya. Tapi… Takuma sebenarnya tidak punya salah, yang salah itu aku. “Tidak. Kau tidak salah apa-apa” Jawabku akhirnya. “Kalau begitu berhentilah menghindariku!”. aku terdiam, tak mengatakan apapun kemudian langsung pergi. “Mayu!” Panggil Takuma lagi. Aku menoleh, “Untuk saat ini, kau satu-satunya orang yang paling tidak ingin kutemui!” kataku lalu benar-benar pergi, dan Takuma tak lagi menghentikanku.
Aku dan Ami berjalan menyusuri koridor menuju kelas, tiba-tiba kami melihat Rieka sedang berduaan dengan cowok lain. “haaahh,, dasar genit! Dia tak bisa bertahan lama pada satu cowok” ujar Ami melihat sinis kearah gadis itu. Aku sedikit bingung, kenapa dia bersama cowok lain lagi, seharusnyakan dia bersama………. Tak berani menyebut nama meski hanya dalam pikiran, aku kemudian bertanyaa pada Ami. “Kenapa dia bersama cowok itu?” tanyaku. “maksudmu gadis itu? (Rieka)”. Ami tanya balik. “Um, sekarang dia pacar Takuma kan?”. Jawabku. “Apa???” Ekspresi Ami tiba-tiba berubah serius. “maksudnya?”. Ami kembali bertanya. Akupun mencoba menjelaskan. “Aku pernah tidak sengaja melihat mereka berduaan di Le’Luna. Dan waktu itu, gadis itu bilang kalau dia menyukai Takuma”. Jelasku. “Apa???” Ami akhirnya tertawa. Aku bingung, menurutku sama sekali tidak ada yang lucu. “Jadi si genit itu bilang kalau dia menyukai Takuma?”. Tanya Ami lagi. Aku hanya mengangguk mengiyakan. “Jadi kau tidak tau?” kali ini aku yang kembali bertanya. Ami menggeleng. “Takuma sama sekali tidak pernah mengungkit soal gadis itu. Aku pernah beberapa kali melihat si genit itu datang ke Le’Luna tapi Takuma tak pernah sekalipun mengajaknya ngobrol, bahkan menoleh kearahnyapun tidak sama sekali” jelas Ami. Wah, yang benar saja?! Gumamku. Apa mungkin selama ini aku yang salah sangka,, berpikir kalau Takuma sama saja kayak cowok lain yang langsung lemas ketika melihat cewek cantik. “hey, Mayu…” Ekspresi Ami kembali serius “Jadi itu alasannya? Kau menghindari Takuma karena mengira dia pacaran sama si genit itu?” tanya Ami. Dan bingo! Tepat sekali. Itu dia alasannya. Tapi sangat memalukan kalau harus mengakui itu didepan Ami. “Aku tidak menghindar”. Aku mencoba menyelamatkan diri dari rasa malu yang dalam, dan untungnya Ami tidak terlalu memaksaku untuk mengakui kesalahan. Thanks Ami ! “Takuma itu bukan orang seperti yang itu” sambung Ami. “dia bukan tipe cowok yang langsung tertarik ketika melihat cewek cantik. Kalau diperhatikan, selama ini ada banyak sekali wanita yang mengejarnya tapi tak satupun ditanggapi dengan serius” Ami menjelaskan. “begitu yah?”. Mendengar perkataan Ami, aku jadi merasa bersalah. Tapi tidak mungkin aku mengatakan pada Takuma bahwa selama ini aku bersikap seperti itu karena mengira dia pacaran dengan Reika, itu memalukan! Lebih baik aku melompat dari gedung 20 lantai dari pada harus berkata seperti itu.
Pukul 4 sore, pelajaran selesai. Aku sibuk merapikan buku-bukuku sementara Ami sibuk dengan ponselnya yang terus saja berdering. “Eh, kau mau ikut?” Tanyanya tiba-tiba. “kemana?”tanyaku balik. “kefakultas seni” jawabnya. “Fakultas seni???” “um. Ryu menyuruhku kesana begitu kuliah selesai. Mereka sedang latihan membawakan lagu baru, sebelum ditampilkan ke Le’Luna mereka ingin tanya pendapat kita dulu”. Ami menjelaskan. “tapi, kenapa harus kita?”. Tanyaku.  “Sudah, tidak usah banyak tanya, ayo pergi sekarang”. seperti biasanya, Ami memaksaku untuk ikut dan akhirnya sampailah kami di fakultas seni. “Ruang latihannya dilantai 3” Ami terus menggandengku, satu persatu menaiki anak tangga. Beberapa orang yang berpapasan dengan kami sekian detik menatap aneh mungkin karena mereka tau kami bukan anak seni. Setelah berjalan menyusuri koridor sampailah kami didepan ruang latihan D’reD. Begitu mau masuk, Ami tiba-tiba berhenti. “Aku ketoilet dulu, masuklah duluan” Katanya. “perlu kutemani?” “tidak usah! Kau masuk saja duluan, aku tidak akan lama. Aku pergi yah,, cepat masuk sana!”. Amipun berlari menuju toilet. Sepertinya dia benar-benar sedang kebelet. Huffftt,, dasar. Melihat pintu ruang latihan, aku sedikit ragu untuk masuk. Aku terdiam sesaat didepan pintu, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk. Clek !!! Aku membuka pintu. Aku terkejut. D’reD tidak sedang latihan, hanya ada Takuma disana yang sibuk berlatih dengan gitarnya, dan langsung berhenti saat melihatku. “maaf. Aku kesini bersama Ami, tapi karena dia harus ketoilet dia menyuruhku kesini lebih dulu” aku mencoba menjelaskan kenapa aku bisa sampai muncul diruang latihan mereka. Lagi-lagi aku terjebak dalam suasana yang canggung seperti ini. Takuma tersenyum tipis, “apa aku harus keluar?” tanyanya tiba-tiba. “apa???” aku agak bingung. “waktu itu kau pernah bilang, kalau aku satu-satunya orang sedang tidak ingin kau temui, jadi aku akan keluar sampai latihan benar-benar akan dimulai agar kau merasa nyaman” jelasnya sambil terus tersenyum, kemudian bangkit dari tempatnya duduk lalu bermaksud untuk pergi. “Takuma!” reflek aku menghentikannya sambil menarik tangannya, tapi langsung melepaskannya lagi setelah memastikan dia menghentikan langkahnya. “Soal kata-kataku yang waktu itu,,, aku minta maaf.” Kalimat itu akhirnya keluar dari mulutku, setidaknya membuat rasa bersalahku sedikit berkurang. Aku mengangkat wajahku memberanikan diri menatap wajahnya. Tampan! Satu kata yang menggambarkan sosok Takuma. Dia menatapku tanpa berkata apapun, membuatku gugup sampai lututku gemetar. Aku berpikir seandainya aku sedang berdiri dibibir jurang aku tidak akan ragu untuk melompat asal terlepas dari suasana seperti ini. “Mayu” panggil Ami yang tiba-tiba masuk bersama Ryu juga Soji dan Taru dua personil D’reD lainnya. “kalian sudah baikkan?” tanya Ami tersenyum licik. Aku mulai menyadari, alasannya ketoilet itu hanya trik. Mereka sudah mengatur agar aku bisa berduaan dengan Takuma disini. Seharusnya aku sudah tau sejak awal -___-“ “Amiiiiii !” Aku menatapnya tajam “maaf, tak ada cara lain” jawabnya seakan bisa tau maksudku hanya dari tatapan mataku. “Takuma, selama ini Mayu mengira kau pacaran dengan gadis yang bernama Reika, karena itu dia menghindarimu. Sepertinya dia cemburu”. Sambung Ami. Ryu dan yang lainya hanya tertawa geli. “Aiisshhhh,, Ami !!!” hah,, ini memalukan. “Apa??? Reika???” Takuma tampak bingung, mencoba mengingat sosok yang bernama Reika, sebelum akhirnya ikut tertawa geli. Benar-benar memalukan, seperti ingin menangis, tapi akan lebih memalukan lagi kalau sampai menangis dihadapin mereka. Takuma menatapku lagi, aku hanya melihatnya dengan wajah innocent. Sekali lagi kutegaskan, innocent bukan bodoh! “Ayo ikut aku” Takuma tiba-tiba menarik tanganku menuju ruangan disebelah ruang latihan dan menutup pintu. Aku hanya diam, tidak tau harus bilang apa. Masih dengan wajah innocent tentunya. “Jadi karena itu akhir-akhir ini kau menghindar?” Tanyanya, sambil menahan tawa. Kali ini aku pasti benar-benar terlihat lucu dihadapannya. Kalau tau akan seperti ini, aku tidak akan menerima ajakkan Ami untuk datang ketempat ini. “Kau cemburu?” Tanyanya lagi. Aku diam, tak mengiyakan tapi juga tidak menyangkal. Wajah Takuma berubah serius “Rieka itu, gadis yang waktu itu bersama Sano dibelakang ruang gantikan? Sampai membuatmu menangis”. “jadi, waktu itu kau juga lihat?” tanyaku. Dia tersenyum, “Apa kau masih berpikir kalau aku benar-benar mengira kau sedang latihan drama?” benar sekali, seperti itulah yang aku pikirkan. “Dasar bodoh!” sambungnya, seperti bisa mendengar apa yang aku pikirkan. Aku hanya berdiri mematung, aku pasti benar-benar terlihat bodoh didepannya, bukan innocent. Dia melirik jam tangannya, “Aku harus latihan sekarang” katanya, kemudian berjalan menuju pintu bermaksud kembali keruang latihan, sebelum akhirnya dia berbalik mendekat kearahku, medekatkan wajahnya kewajahku, menatapku tajam sekian detik sebelum akhirnya mendaratkan satu ciuman lembut. “Jangan pernah dekat-dekat dengan Sano  atau cowok manapun, karena aku akan marah!” Ujarnya lalu benar-benar kembali keruang latihan sambil melempar senyum, yang aku artikan sebagai senyum kemenangan.  - THE END -