ARTIKEL

Selamat datang

follow blog-ku yach,,, dan jangan lupa beri komentar ... thanks ^_^

Jumat, 01 Juni 2012

CerpenQuw


Complicated thing called love
(I’m fall in love with my best friend)
               By: Indra Lestari 
sumber gambar: google

(Tokyo, Musim panas)
Yang paling aku sayangi didunia ini selain keluargaku adalah kedua sahabatku, Haru dan Kido.  Sejak duduk  dibangku sekolah dasar sampai sekarang kami selalu menghabiskan hari-hari bersama.  Mereka dua orang yang beda karakter yang membuat hari-hariku jadi lebih seru. Haru, pribadi yang lembut, sikapnya penuh kehangatan dan sangat pintar. Sejak duduk dibangku sekolah dasar dia selalu menjadi siswa dengan nilai terbaik. Sedangkan Kido, anak yang periang, walaupun agak bodoh dan uring-uringan tapi dia seperti malaikat pelindung bagiku. Berada diantara mereka, dua cowok keren membuatku merasa beruntung, bahkan sampau membuat cewek-cewek disekolah merasa iri J. Namaku Yuri, 18 Tahun siswa kelas 3 disalah satu SMU yang cukup popular di Tokyo, dan aku sekelas dengan Haru dan Kido. Entah itu kebetulan atau takdir, tapi kami memang selalu sekelas sejak dibangku sekolah dasar hingga sekarang.
Lari uring-uringan, berebut makanan, bahkan menjadi korban kejahilan mereka berdua sudah menjadi bagian dari keseharianku. Tapi sesering apapun mereka menggangguku atau menjadikanku bahan ejekkan aku tetap suka karena aku tau itu salah satu cara mereka menunjukan rasa sayang. “hey Yuri, sepertinya aku tidak heran kalau sampai sekarang kau belum punya pacar. Dilihat dari sudut manapun kau memang tidak punya daya tarik kewanitaan” seperti biasa saat sampai dikelas Kido mulai mengataiku sambil mengunyah permen karet. Kebiasaannya memang suka mengunyah permen karet bahkan saat pelajaran berlangsung. Aku mengkerling, “makanya lihat pake mata, orang butapun akan tau kalau aku ini seksi” jawabku lalu kembali fokus mengerjakan PR. Menyontek punya Haru tentunya. Haru tersenyum “Hanya kau sendiri yang bilang kalau kau itu seksi. Seksi itu seperti dia” Lanjut Kido sambil menunjuk Uehara Mika, salah satu siswi dikelasku yang terkenal dengan bodinya yang aduhai, dada besar dan pinggul besar. “seperti itulah gadis impianku” sambung Kido lagi, dengan ekspresi yang mulai berlebihan (mata melotot memandangi satu arah dengan air liur yang mulai menetes) “Dasar mesum!” teriaku lalu melemparkan pulpenku kearah Kido dan “aarrrrggghh…!!!” bingo!!! Mendarat tepat di jidatnya. Kido meringis kesakitan. “Hah, rasakan itu” aku tertawa puas merasa menang, sebelum akhirnya Haru menarik pipiku “cepat selesaikan tugasmu” Ujarnya, sambil tersenyum. Senyum yang hangat seperti biasanya. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Berbeda sekali dengan Kido yang uring-uringan, kalau Haru pembawaannya lebih tenang hingga terkesan berwibawa. “Aiiisssshhhh” Kido masih meringis kesakitan, aku menoleh lalu menjulurkan lidah meledeknya kemudian kembali fokus ketugasku.
Pukul 4 sore, bel panjang berdering menunjukan waktu pulang telah tiba. Rumahku, Rumah Haru maupun Kido tidak begitu jauh dari sekolah hanya sekitar 15 menit berjalan kaki, karena itu setiap pergi maupun pulang sekolah kami memilih untuk jalan kaki, begitu juga sore ini. Lagi-lagi kido mulai jahil dengan cara sek-sekali mengangkat ujung rok sekolahku dengan dahan kering yang dipungutnya dijalan. “Kidoooooooooooooo….!!!” Teriakku kesal. “Hah! hampa tak ada apapun didalam” ujar kido memasang tampang yang seolah kecewa. “isssshhhh” aku menatapnya sinis. “Apa? Memang itu itu kenyataannya” Kido masih memasang wajah kecewa dan itu membuatku sangat kesal. Tanpa ragu aku melepaskan sepatuku dan dengan cepat melemparkannya kearah Kido, dan Bukkk! Tepat mengenai jidatnya. Kido meringis, aku tertawa puas kemudian kembali mengambil sepatuku dan memakainya “hahah, masih berani kau sekarang?” kataku, balas meledek kido. Haru tertawa melihat tingkah kami “tadi itu hebat sekali” katanya tiba-tiba. Aku agak bingung “lemparanmu” sambungnya yang kemudian membuatku mengerti apa yang dia maksud. “hebat apanya? Wanita perkasa seperti dia tidak heran sampai sekarang belum punya pacar” sambung Kido kembali menyindir. Aku hanya menatap sinis dan kembali melanjutkan perjalanan dan tak memperdulikan perkataan Kido yang masih saja terus meledek. 15 menit kemudian, sampailah aku di depan rumah. Rumah Kido dan Haru masih beberapa blog lagi dari rumahku. “Aku duluan yah” pamitku ke Haru, karena masih kesal aku tidak menegur Kido. “um, salam untuk ibumu” jawab Haru, aku hanya mengangguk kemudian berjalan masuk kerumah. Begitu sampai kamar, aku terdiam sejenak memandangi foto dimeja belajarku. Itu fotoku bersama Haru dan Kido. Aku tersenyum, ada kebangaan tersendiri memiliki dua sahabat yang tampan. :D
Aku duduk ditaman sekolah, menatap kosong kearah lapangan. Diam-diam, sejak SD aku memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat pada Haru, tapi tak pernah kuceritakan pada siapapun. Ingatanku kembali melayang kemasa dimana pertama kali aku mulai menyukai Haru, saat itu kelas 5 SD. Waktu itu aku dan Haru sedang berada di kebun sekolah merawat beberapa bunga dan tanaman lainnya, sampai tiba-tiba Pot yang letakknya sedikit lebih tinggi dari kami tiba-tiba terjatuh dan nyaris mengenai kepala kepalaku tapi langsung di dorong oleh Haru sehingga dialah yang terkena pot itu. Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya aku melihat darah mulai mengalir dari kepalanya. Saat itu aku menangis histeris melihat darah, tapi dia hanya tersenyum dan bilang “tidak apa-apa”. Saat itu aku merasa dia sangat keren. “Sedang apa disini?” tanya seseorang, yang langsung membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ternyata itu Haru. Aku tak mau terlihat canggung, akupun berusaha bersikap biasa. “cari udara segar” jawabku. Haru kemudian duduk disampingku. “Kido mana?” tanyaku kemudian. “Sedang sibuk tebar pesona” jawab Haru sambil tertawa. Aku juga ikut tertawa, kali ini selera humornya bagus. Mataku kemudian tertuju kebagian belakang kepalanya. Disana masih terlihat bekas luka waktu itu. “Apa?” tanya Haru yang sepertinya menyadari kalau aku sedang memperhatikan bagian kepalanya. “bekas luka itu, seharusnya ada disini” jawabku sambil menunjuk bagian belakang kepalaku. Jujur saja sampai sekarang masih ada sedikit rasa bersalah. “kau bicara apa?” Haru tertawa, sepertinya merasa lucu dengan apa yang aku katakan. “bekas luka ini keren, aku suka bekas luka ini” sambungnya masih sambil tersenyum. “benarkah? Jujur saja, aku sedikit merasa bersalah. Kalau saja waktu itu aku lebih hati-hati” belum sempat menyelesaikan kalimatku, Haru tiba-tiba mencubit pipiku dan menariknya. Aku bisa merasakan kalau wajahku pasti terlihat aneh. “sudahlah, tidak usah dibahas” katanya, kemudian kembali tertawa, sepertinya merasa lucu melihat wajahku dengan pipi tertarik. Walaupun tidak seorangpun tau perasaanku tapi aku sudah cukup senang dengan keadaan seperti ini, bisa selalu berada didekatnya dan di sayangi walaupun cuma sebagai sahabat.
Liburan musim panas sebentar lagi, dikepalaku di penuhi banyak rencana untuk liburan. Aku berjalan menyusuri koridor sambil terus memikirkan tempat yang bagus untuk liburan sambil mencari Haru dan Kido. Aku ingin membahas rencana liburan dengan mereka berdua tapi tak satupun dari mereka yang kelihatan batang hidungnya. Aku sampai dikelas, disana ada tas Haru. Itu artinya dia sudah ada disekolah. Aku berpikir untuk mencarinya diperpustakaan, dan benar dia ada disana. Aku bermaksud langsung mau menghampirinya tapi langkahku terhenti. Ternyata Haru tidak sendirian. Dia bersama seorang cewek, dan mereka terlihat sangat akrab. Aku mengurunkan niat, dan kembali ke kelas. Terus terang aku merasa sedikit tidak suka saat melihat Haru begitu akrab dengan cewek lain, karena selama ini dia tidak pernah sedekat itu dengan seorang cewek selain aku. “Selamat pagi” Kido tiba-tiba datang dan langsung duduk dibangku tepat didepan tempat dudukku. Aku tak menjawab. Kido menoleh, memperhatikanku “heiiiii,, kau kenapa? Kenapa murung?” tanya Kido sambil mendorong jidatku dengan telunjuknya. Seperti biasa dia mulai cari gara-gara lagi, tapi aku tetap tak menjawab. Wajah Kido berubah serius “Ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya lagi. Aku tersenyum, kemudian menggeleng. “Kau yakin?” Walaupun kadang menyebalkan tapi Kido ini sebenarnya orang yang sangat peduli. Aku mengangguk meyakinkan. Haru tiba-tiba datang, sambil tersenyum dia duduk dibangkunya yang berada tepat disampingku. “kau dari mana saja?” tanyaku pura-pura tidak tau. “Tadi keperpustakaan mengembalikan buku, tapi karena bertemu teman jadi ngobrol sebentar” jawab Haru. “teman wanita atau pria?” timpal Kido dengan nada menggoda. Haru tersenyum tak menjawab. “Hah, dari wajahmu jelas pasti dia wanita” sambung Kido lagi, dan Haru hanya tersenyum. Aku tak bicara, hanya memperhatikan mereka berdua. Jelas sekali dari wajahnya, Haru sepertinya sangat senang bertemu gadis itu.
Akhir-akhir ini pikiranku terganggu dengan sosok gadis yang waktu itu bersama Haru di perpustakaan. Aku tidak rela kalau sampai dia merebut perhatian Haru dariku. Huffftt,, memikirkannya saja sudah membuatku marah, hingga reflek aku menutup loker dengan sangat keras. Semua menoleh, aku jadi merasa tidak enak :p “Jangan sampai lokernya rusak” suara yang tidak asing terdengar berasal dari belakangku. Aku menoleh dan itu Haru. Aku tersenyum malu, lalu mengikutinya berjalan menuju kelas. Ingin sekali aku menanyakan soal gadis yang waktu itu bersamanya di perpustakaan tapi sedikit ragu. Aku menguatkan hati dan memutuskan untuk bertanya. “oh ya, cewek yang waktu itu diperpustakaan,, siapa?” Akhirnya perntanyaan itu keluar dari mulutku. Sambil terus melangkah Haru menjawab “oh Dia anak kelas 1, aku mengenalnya karena kebetulan kami kursus ditampat yang sama”. “ohh, begitu yah” jawabku datar. Haru tiba-tiba menoleh dengan wajah serius “Bagaimana menurutmu?” kali ini gantian Haru yang bertanya. “apanya?” aku sedikit bingung dengan maksud pertanyaannya. “bagaimana menurutmu tentang gadis itu? Dia cantik tidak?” sambung Haru. Sepertinya aku mulai tau apa maksudnya, dan ini menyakitkan. “Kenapa diam saja?” “dia,, cantik” jawabku singkat. “tapi sepertinya kau tidak senang” kata-katanya tepat! Tapi tidak mungkin aku mengakuinya. “Aku senang kalau kau senang” akhirnya aku menyangkal. “Kau suka padanya?” Tanyaku. Senyumnya mengembang, aku tidak pernah melihat senyumnya yang seperti itu. Itu seperti senyum malu bercampur senang “Entahlah” jawabnya sepertinya kurang yakin. “Dia pintar, aku suka cewek pintar. Dia juga suka baca buku sama sepertiku. Dan dia ceria sama sepertimu” sambugnya, dan dengan hanya melihat senyum Haru aku bisa tau kalau dia mengangumi gadis itu. Aku terdiam, dan bertanya-tanya apa aku benar-benar harus berbagi perhatian Haru dengan gadis itu, gadis yang bahkan aku tidak tau namanya.
Aku sampai rumah, dan langsung disambut oleh ibu. Aku bermaksud ingin langsung ke kamar tapi ibu menghentikan, katanya ada yang ingin dibicarakan. Dengan masih berseragam lengkap akupun duduk diruang keluarga bersama ibu. Wajahnya terlihat serius “ada apa bu?” tanyaku. “Sepertinya dalam waktu dekat kita harus pindah” Aku terkejut mendengar apa yang ibu katakan “Pindah? Maksudnya pindah kerumah lain?” Aku masih sedikit bingung. “Ayahmu akan ditugaskan di kantor kedutaan di swiss, jadi kita harus pindah kesana” sambung ibu “Swiss? Aku tidak mau pergi!” aku bangkit dari kursi tempatku duduk dan langsung pergi menuju kamar. Ibu tidak mencegah, sepertinya dia mengerti kalau aku butuh waktu untuk sendiri. Begitu sampai dikamar aku langsung menjatuhkan tubuhku ditempat tidur. Swiss??? Tempat itu sangat jauh. Aku suka Tokyo, aku suka berada disini. Aku suka rumahku yang sekarang, suka sekolahku yang sekarang dan dua sahabatku, aku tidak bisa kalau harus jauh dari mereka. Tanpa sadar aku mulai menangis, aku benar-benar tidak ingin pindah.
Hari berikutnya, sebelum kesekolah seperti biasa aku sarapan bersama ayah dan ibu. Mereka saling melihat sebelum akhirnya ayah mulai bicara “Ibu sudah bilangkan tentang rencana untuk pindah?” Aku hanya mengangguk lalu mulai menyantap sarapanku. “Mulailah persiapkan diri” sambung ayah. “berapa lama kita akan disana? Tanyaku. “sampai kontrak ayah habis, sekitar 7 tahun.” Aku benar-benar tidak ingin ikut, tapi aku tidak memiliki pilihan. Kata-kata ayah masih terus mengganggu pikiranku, bahkan ketika aku sudah disekolah. 7 tahun itu bukan waktu yang singkat . Aku duduk sendiri dikelas, dan berpikir untuk tidak memberitahu Haru ataupun Kido soal rencana kepindahan itu. Tiba-tiba Haru datang “baguslah kau disini” katanya. “ada apa?” tanyaku. Haru memperhatikan sekitar sebelum akhirnya mulai bicara “Aku….Mmmm,, kaukan tau, sebelumnya aku tidak pernah sekalipun mendekati seorang cewek. Jadi aku ingin meminta bantuanmu” aku mulai mengerti arah pembicaraan Haru, dan ini menyakitkan. “cewek yang waktu itu yah? Tanyaku, Haru hanya tersenyum. “Namanya Nana. Aku tidak tau bagaimana cara mendekatinya, karena kau juga cewek aku ingin minta saran darimu”. Aku berusaha tersenyum, lalu mengiyakan untuk membantunya. “cewek itu suka dilindungi, suka diberi hadiah, cewek juga suka diperhatikan walaupun Cuma hal-hal kecil  misalnya merapikan rambutnya yang berantakan atau mungkin membenarkan dasinya yg miring” jelasku. Aku menjelaskan itu sambil memikirkan hal-hal yang pernah dilakukan Haru padaku. Melindungiku dari pot bunga yang jatuh, memberi hadiah saat aku ulang tahun, merapikan rambutku yang sedikit berantakan dan membenarkan dasiku yang miring itu selalu dilakukan Haru. “Yang terpenting bersikap baiklah padanya, dan tetap jadi dirimu sendiri. Kau sangat baik, cewek manapun pasti akan menyukaimu”. Haru tersenyum, dan mengelus kepalaku “terimakasih” katanya. Aku selalu suka setiap kali dia mengelus kepalaku dan aku akan sangat merindukan hal itu ketika aku sudah pindah nanti. Haru kemudian memperhatikan buku yang ada dimejanya, aku tau apa yang dia pikirkan. Gadis itu pasti ada diperpustakaan “Pergilah, temui dia” seruku, sambil terus berusaha tersenyum. Haru mengangguk lalu meraih buku dimejanya dan langsung pergi. Walaupun tidak begitu rela, tapi sepertinya aku memang harus belajar untuk melupakan Haru. Mungkin hubungan kami berdua cuma bisa sebatas sahabat dan tidak lebih dari itu. Tiba-tiba Kido muncul dengan wajah datar tanpa ekspresi. Dia tidak seperti biasanya, yang selalu langsung meledekku begitu dia datang. “Heiiii,, kau kenapa?” tanyaku seraya menunjuk-nunjuk punggungnya dengan telunjukku. Dia menoleh dengan wajah yang serius “seharusnya aku yang tanya ada apa denganmu” aku bingung dengan perkataan Kido “Soal apa?” tanyaku lagi. “tadi aku dengar apa yang kau bicarakan dengan Haru” Jawab Kido. “trus,, apanya yang salah? Aku hanya memberi saran”. Hufttt,, Kido mengehmbuskan nafas panjang. “Kau menyukai Haru kan?!” ujar Kido tiba-tiba. “Aku sudah tau sejak lama”, Sambungnya. “apa? Ha ha, jangan bercanda, mana mungkin” Aku mencoba mengelak tapi sepertinya tidak berhasil. “kau mungkin bisa membongi orang lain, tapi kau tidak akan bisa bohong padaku”. Aku terdiam, tidak tau harus bilang apa lagi. “sejak kapan kau tau itu?” tanyaku. “sejak insiden pot bunga itu” jawab Kido. “Wahhh,, kau hebat. Ternyata kau tidak sebodoh kelihatannya” aku mencoba mencairkan suasana dengan mengajaknya bercanda, tapi tak ada respon darinya. Kido menatap seperti marah, kemudian wajahnya berubah sedih “katakan saja pada Haru” “apa?” “katakan pada Haru kalau kau menyukainya!” “itu tidak mungkin!” timpalku tegas. “aku tidak ingin merusak persahabatan kita. Aku sudah cukup senang bisa dekat dengannya walau hanya sebagai sahabat”. Sambungku. “Jadi kau akan membiarkannya dekat dengan gadis lain?” sepertinya Kido mulai emosi. Aku mengangguk pelan “asal dia bahagia, aku akan baik-baik saja. Aku mohon jangan beritau Haru tentang ini” “Asihhhh,, kau ini” “Aku mohon!”. Walaupun awalnya sulit, tapi akhirnya Kido mengangguk dan berjanji tidak akan memberitau siapapun tentang ini.
Hari demi hari berlalu, Haru dan Nana kelihatan semakin akrab. Disekolah mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Mereka memiliki banyak kesamaan jadi pasti tidak akan sulit menyesuaikan diri. Aku berjalan menuju lapangan basket untuk mencari Kido sebelum akhirnya tak sengaja melihat Nana sedang menggadeng Haru. Cara dia menggandenganya sama persis seperti aku biasa menggandeng Haru. Jauh didalam hati aku tak rela, aku merasa seperti posisiku sebagai orang yang selalu bersama Haru tergantikan. Rasanya sesak tapi aku berusaha agar tidak menangis. aku membantalkan niat untuk kelapangan basket, dan memutar arah menuju taman belakang sekolah. Aku duduk dibangku lalu menghembuskan nafas panjang, mengatur perasaan sambil menatap kosong kearah lapangan. inilah yang ku inginkan. Aku ingin Haru bahagiah, dan sepertinya dia cukup bahagia saat bersama Nana, dan seharusnya itu melegahkan. Seseorang tiba-tiba datang dan duduk tepat disampingku. Itu Kido. Aku menoleh kearahnya dan mencoba tersenyum. Seperti biasanya dia selalu tau perasaanku tanpa aku harus menjelaskannya. Dia kemudian menarik kepalaku dan menyandarkannya didadanya. “tidak usah ditahan, menangislah” serunya. Dan tak ada kata-kata lagi, tangiskupun pecah dalam pelukan Kido. Aku meluapkan semua perasaan sakit dan sesak yang selama ini aku pendam. Aku bersyukur disaat-saat seperti ini masih ada Kido yang selalu bisa diandalkan.
Malam harinya, aku membantu ibu membersihkan beberapa perabotan rumah yang tidak akan dibawa dan memasukannya kedalam kardus. Hanya tinggal seminggu lagi sebelum keberangkatan kami ke swiss. Ting tong ! bel tiba-tiba berbunyi, ibupun langsung bangkit dan berjalan menuju pintu sedangkan aku masih lanjut dengan pekerjaanku. Samar-samar aku mendengar suara dari depan, itu seperti suara Kido. Akupun langsung bangkit dan berlari menjuju depan. Kido menatapku, dia seperti marah. “Kido duduklah, tante akan ambilkan minum” kata ibu lalu meninggalkan kami berdua. “Ibumu bilang kalian sedang sibuk mengurus kepindahan. Apa maksudnya? Siapa yang mau pindah?” Kido mulai menyerangku dengan banyak pertanyaan. Aku terdiam sesaat. Kido kelihatan semakin marah. “Yuri ayo jawab!” sambungnya lagi. “Mmmm,, Sebenarnya, ayahku akan ditugaskan di kantor kedutaan jepang di swiss, jadi kami harus pindah kesana” dengan hati-hati aku mencoba menjelaskan. “maafkan aku, karena tidak memberitahumu sebelumnya”. Kido kelihatan terkejut, dia kemudian duduk mencoba meyakinkan diri dengan apa yang didengarnya. Akupun ikut duduk  disampingnya. “Apa? Lalu, kenapa kau tidak bilang sebelumnya?” Aku diam tak menjawab sepatah katapun. “kapan kau akan pergi?” tanyanya lagi. “minggu depan” jawabku. “Ini serius? Lalu bagaimana dengan sekolahmu? Bagaimana rencana liburan musim panas kita? Bagaimana dengan Haru?”  “jujur saja, sebenarnya aku juga tidak ingin pergi, tapi tidak ada pilihan lain. Maaf tidak bisa melewatkan liburan musim panas bersama kalian” L Kido keliahatan sedih, tapi tak ada yang bisa aku lakukan. “Jangan katakan apapun pada Haru” Pintaku. “Kenapa?”. “Aku tidak ingin mengganggu pikirannya. Biarkan saja dia tau setelah aku berangkat nanti” jelasku. Walaupun awalnya ragu tapi akhirnya Kido mengiyakan.
Sehari sebelum keberangkatanku, Haru masih belum tau. Kido memang selalu bisa dipercaya dalam hal menyimpan rahasia. Aku kembali memeriksa barang-barang yang akan kubawa, dan memastikan tidak ada yang ketinggalan, temasuk fotoku saat bersama Haru dan Kido. Kring kring! Ponselku berdering, dan ternyata ada pesan dari Kido –Kau ceroboh, aku hanya ingin mengingatkan jangan sampai ada yang ketinggalan- akupun langsung membalasnya –iyah aku tau. Jangan lupa besok pagi kerumahku, aku tidak mau kau mengantarku kebandara, nanti aku akan sedih. dan jangan sampai Haru tau sebelum aku berangkat – Beberapa menit berlalu, tapi belum ada balasan dari Kido. Aku berpikir mungkin dia sedang menangis karena sedih aku akan pergi… hehe,, aku akan sangat merindukan saat-saat dia meledekku. Dan Haru, aku akan sangat merindukannya lebih dari kata-kata yang bisa aku ucapkan. Kriing kriing! Ponselku berdering lagi, aku pikir itu balasan pesan dari Kido tapi ternyata itu pesan dari Haru. – Sepertinya aku butuh saran lagi darimu, malam ini kau punya waktu?- walaupun aku tau dia pasti akan membahas soal Nana lagi tapi aku sangat senang menerima pesan darinya. –ok, kerumahku setelah jam makan malam J- balasku. Aku senang masih akan bertemu dengannya sebelum aku berangkat. Setelah makan malam, aku menunggunya didepan rumah. Aku tak mau membiarkannya masuk kerumah karena pasti dia akan tau setelah melihat perabotan rumah yang sudah dipindahkan. Hanya sekitar 5 menit menunggu Haru muncul. Dia selalu terlihat lebih keren saat sedang tidak mengenakan seragam sekolah. Dia sedikit bingung karena aku menunggunya didepan rumah “Malam ini kau boleh minta saran tapi sambil mengajakku jalan-jalan” jelasku. Haru tersenyum mengiyakan. Sudah lama sejak terakhir kali aku keluar menikmati suasana kota dimalam hari, dan aku senang karena bisa merasakannya kembali ditemani Haru. Kami duduk di bangku taman kota yang dipenuhi lampu warna-warni. Ada banyak pasangan kekasih yang juga sedang duduk disana menikmati suasan taman yang cukup menyenangkan. “Hmmm,, jadi bagaimana kelanjutan antara kau dan Nana?” Aku mencoba membuka percakapan. “Kami sudah cukup dekat, tapi aku belum bilang kalau aku menyukainya. Sepertinya aku belum yakin” jawabnya. “Kenapa belum yakin? cewek itu tidak suka menunggu lama. Kalau kau suka padanya kau harus cepat-cepat memberi tau dia”. Walaupun mungkin aku tidak bisa memiliki Haru sebagai pacar, aku bahagia saat dia begitu bahagia. Dia selalu tersenyum setiap kali berbicara tentang Nana, dan aku akan ikut tersenyum bersama dia. “jadi begitu yah?!” Haru tersenyum lagi. “Kalau begitu Aku akan bilang padanya besok” sambungnya. “saat akan mengutarakan perasaanmu padanya, jangan lupa bawa coklat atau bunga. Dia pasti akan suka”. Haru tersenyum malu kemudian mengangguk. Aku mengalihkan pandanganku darinya, memandang keatas langit yang penuh bintang. Aku berdebar-berdebar, tidak seperti biasanya. Aku kembali melihatnya dan bertanya “Apa kau berdebar-debar?” Haru kelihatan bingung dengan pertanyaanku. “saat bersama Nana, apa kau berdebar-bedebar? Orang bilang, kita akan berdebar-debar saat sedang bersama orang yang kita suka” sambungku menjelaskan. “Hmmm,, entahlah. Aku senang kalau bertemu dia, tapi sepertinya tidak sampai berdebar-debar”. “hmmm,, begitu yah. Kau anehhh” Ledekku. Aku mengajaknya untuk keliling taman, duduk disatu tempat cukup membosankan sementara taman kota ini sangat luas. Aku berjalan sambil menggandenganya seperti biasa. Mungkin ini yang terakhir kali aku menggadenganya, dia juga sek-sekali mengelus kepalaku seperti biasa. Hampir setangah jam berkeliling kakiku pegal dan memutuskan untuk kembali duduk dibangku dekat air mancur. “kau lelah?” tanyanya. “um, kakiku lumayan pegal” jawabku. Lalu dengan cepat dia mengangkat kakiku kepangkuannya dan mulai memijatnya. Hahhh,, tidak heran aku sampai jatuh cinta padanya, sikapnya yang perhatian dan hangat seperti ini tidak akan bisa di tolak oleh gadis manapun. “Besok kau harus semangat, jangan sampai terlihat gugup di hadapannya” kataku lagi mencoba mengingatkan, namun tujuan sebenarnya aku berkata seperti itu adalah agar tidak terlihat canggung.  “iya, aku tau” jawabnya sambil terus memijat kakiku. Suasana sempat hening beberapa detik. “Haru…” panggilku kemudian. “Apa?” “Setauku kau belum pernah mencium cewek, iyahkan?” beberapa detik Haru menghentikannya pijatannya, melihat kearahku kemudian kembali memijat kakiku tanpa menjawab sepatah katapun. “Saat menciumnya jangan sampai terlihat gugup” kataku lagi. “iyah akan aku usahakan” jawabnya santai tanpa melihatku. Aku sedikit tidak rela membayangkan dia akan mencium gadis lain. Aku segera menarik kakiku yang sedang dia pijat “sebagai latihan coba lakukan padaku!” seruku. “apa???” Haru terkejut. “Coba lakukan padaku, latihan” sambungku saraya menjunjuk bibirku sambil tersenyum. Aku tau ini memalukan, tapi sudah terlanjur ku katakan. Haru masih terdiam, saat itu jantungku berdetak sangat kencang seperti akan melompat keluar tapi aku tetap berusaha bersikap biasa. Aku masih menatap kearah Haru, tapi dia keliahatan ragu untuk melakukannya. “saat kau akan melakukannya, bersikaplah biasa seperti ini” aku mendekatkan wajahku kearahnya. Aku bertingkah seolah tau cara melakukannya padahal sebenarnya ini juga yang pertama buatku. Dag dig dug dag dig dug… detak jantungku semakin kencang saat wajahku semakin dekat kearahnya, aku juga bisa dengar suara detak jantungnya yang cepat. Dia terlihat gugup tapi tak menghindar sampai akhirnya bibirku benar-benar menyentuh bibirnya. My first kiss! Akhirnya kuberikan pada Haru. Hari semakin malam, akhirnya Haru mengantarku pulang. Agak canggung, tapi sebisa mungkin aku bersikap biasa dengan terus mengajakknya ngobrol. Tidak terasa, kami sampai didepan rumahku. “masuklah!” serunya. “Um. Hati-hati. Salam sama ibumu” jawabku. “kau lebih tampan saat sedang tersenyum, jadi banyak-banyaklah tersenyum. Jangan terlalu serius dengan pelajaran, sek-sekali ajak Kido dan pergilah menghibur diri” sambungku. Haru tersenyum lalu mengangguk. “jaga kesehatan, dan makan tepat waktu” “iyaaahhh” spontan dia menarik pipiku. “kau banyak bicara seperti biasanya” sambungnya sambil tertawa. “sudah sana masuk!” katanya lagi, akupun berjalan masuk kedalam rumah. Itu akan jadi kali terakhir aku bertemu Haru sebelum berangkat ke swiss. Aku mencoba merelakan tempatku digantikan oleh Nana sebagai orang yang selalu ada disamping Haru. Dan besok, saat aku pergi dalam waktu yang bersamaan Haru akan mengatakan perasaannya pada Nana. Aku akan berdoa untuk kebahagiaan mereka, dan aku, sudah cukup bahagia pergi setelah berhasil mencuri ciuman pertama Haru.
Keeseokan harinya. Pukul 8 pagi, taxi sudah menunggu didepan rumah. Ayah dibantu supir taxi mulai memasukan tas dalam bagasi. Kido terlihat sedih. “Disana kau harus jaga kesehatan. Makan yang banyak biar badanmu lebih berbentuk. Kalau masih kurus seperti itu mana mungkin ada yang menyukaimu” seperti biasa saat aku akan pergipun dia masih sempat-sempatnya meledekku. Aku memeluknya dan mulai menangis. “Kau juga jaga kesehatanmu, perhatikan makananmu. Jangan suka makan sembarangan, dan tetap akurlah dengan Haru”. “iya pasti, kau jangan khawatir. Setelah disana, jangan sering menangis lagi” aku mengangguk mengiyakan. “Yuri, kita harus berangkat sekarang” panggil ibu. “iya bu” jawabku. “Kido, aku pergi yah. Aku akan kirim email J” akupun berjalan masuk kedalam Taxi yang kemudian melaju kencang semakin jauh dari rumahku, sampai akhirnya tidak lagi terlihat.
Tokyo, 7 Tahun kemudian. Saat kontrak ayahku telah berakhir akhirnya kami kembali lagi ke Tokyo, kerumah kami yang dulu. Begitu turun dari Taxi, aku terdiam sejenak menatap rumahku yang sudah 7 tahun kami tinggalkan. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Ingatanku melayang kemasa dimana aku, Haru dan Juga Kido sering mengerjakan tugas bersama dirumahku. Aku melangkah masuk, dan langsung menuju kekamarku. Tidak ada yang berubah, hanya saja sebagian perabotannya masih ditutupi kertas. Aku mengambil ponselku dan mengirim pesan ke Kido, mengajaknya bertemu di café diujung jalan. Sore harinya, aku menunggunya di café itu. Kurang lebih 10 menit menunggu, Kido datang. Dia terlihat lebih dewasa, dan lebih rapi. “Yuriiiiiiiiii” panggilnya lalu bergegas mengampiriku. Aku tertawa melihat tingkahnya, dia selalu heboh seperti biasanya. “Kido, aku hampir tidak mengenalimu. Kau banyak berubah, terlihat jauh lebih tampan”. “Aku juga hampir tidak mengenalimu. Kau terlihat lebih mirip wanita sekarang” kata Kido lalu mulai memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aku lagi-lagi hanya bisa tertawa. “oh iya, kau kerja dimana sekarang? tanyaku. “kerja diperusahaan ayahku” jawab Kido “kau sendiri?” “waktu di swiss aku punya butik, dan dalam waktu dekat aku berencana kembali buka butik disini”. “begitu yah. Kau sudah menghubungi Haru?” Tanya Kido. Aku menggeleng “Aku belum punya keberanian untuk bertemu dia lagi” jawabku. “Kau masih menyukainya” Tanya Kido lagi. Aku hanya diam tak menjawab sepatah katapun. Tapi seperti biasanya, Kido bisa tau tanpa aku harus mengatakannya. “Aku kagum kau bisa tahan menyukai seseorang selama itu. Apa di Swiss sana tidak ada yang mau mendekatimu” lagi-lagi dia mulai meledek, aku hanya mengkerling lalu tertawa bersama dia.
Saat sampai dirumah, aku merebahkan tubuhku di sofa kamarku. Aku terus memikirkan cerita Kido saat di café tadi, cerita bahwa sesaat setelah Aku pergi 7 tahun lalu Haru tiba-tiba kerumahku. Lalu Haru yang tiba-tiba menjauh dari Nana setelah Aku pergi tanpa menjelaskan alasannya. Aku penasaran, bukankah seharusnya Haru bertemu Nana dihari yang sama saat aku pergi? Kenapa dia tiba-tiba datang kerumahku? Cerita yang aku dengar dari Kido 7 tahun lalu, sesaat setelah aku pergi.
Flash Back 7 Tahun lalu!
Kido memandangi Taxi-ku yang semakin lama semakin menjauh, sampai akhirnya menghilang dipembelokan. Saat dia bermaksud akan pergi, tiba-tiba Haru datang sambil berlari, namun begitu sampai dia menyadari ada yang tidak beres. Dia mendobrak masuk kehalaman rumah, memencet bel berulang kali tapi tak ada yang mebuka pintu. Kido hanya memperhatikannya tanpa bicara. Lelah memencet bel Haru berlari menghampiri Kido “Kenapa rumahnya kosong?” tanya Haru. dengan perasaan bersalah Kido menjawab “mereka baru saja pergi”. “pergi kemana?” timpal Haru, dia terlihat emosi sampai mulai menarik baju Kido. kido membiarkannya dan tidak melawan sedikitpun. “Ayahnya dipindah tugaskan di Swiss jadi mereka sekeluarga pindah kesana”. “Apaaa???” Haru kaget mendengarnya, seperti ada penyesalan besar. “Maaf, Yuri memintaku untuk tidak memberitahumu. Dia bilang, dia tidak mau membuatmu sedih” jelas Kido. Haru hanya berdiri mematung tak mengatakan apapun lalu pergi dengan langkah gontai.
Aku beberapa kali mengotak-atik ponselku ingin menelpon Haru tapi selalu aku batalkan. Aku tidak tau harus bilang apa nanti saat bicara dengannya. Dia pasti akan sangat marah padaku. Aku kemudian memutuskan untuk mengirim pesan ke Kido, mengajaknya bertemu di perpustakaan umum yang dulu sering kami kunjungi bertiga dengan Haru.
Keesokan harinya, aku menunggu di perpustakaan itu. Tak banyak yang berubah, selain beberapa rak buku yang warnahnya berubah dari coklat menjadi biru. Hari ini tidak banyak pengunjung yang datang. Aku berjalan berkeliling disekitar rak, sambil mengenang saat-saat Aku, Haru dan juga Kido sering ,membaca ditempat ini. Hampir setengah jam aku menunggu, seperti biasa Kido selalu terlambat. Satu persatu buku aku perhatikan, sampai akhirnya mataku berhenti pada sebuah buku yang disampulnya tertulis Complicated Thing called love. Aku penasaran dengan buku itu, aku kemudian menariknya keluar dari rak namun saat menoleh ingin menuju bangku tempat membaca, langkahku terhenti setelah melihat sosok yang ada didepanku. Saking terkejutnya aku sampai menjatuhkan buku yang aku pegang. Itu Haru, dia berdiri hanya beberapa meter dihadapanku. Aku memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dia memakai kemeja berwarna putih dan jeans warna biaru. Gaya rambutnya juga berubah, dia keliahatan lebih ceria dan lebih tampan. “Haru…..” dia tersenyum. “Kau pergi tanpa bilang apapun padaku, saat kembali kau juga tidak ingin bilang apapun padaku?” aku diam tidak tau harus berbuat apa. Terus terang aku gugup, sampai lututku gemetar. Aku semakin yakin tidak ada yang berubah dengan perasaanku. Sampai sekarang, aku masih menyukainya. Kami duduk ngobrol. Seperti biasanya saat sedang diperpustakaan dibandingkan harus duduk dibangku yang disiapkan, dia lebih suka duduk disamping rak buku.  Kami duduk berdampingan, bersandar di rak disudut ruangan. Kido sempat bilang kalau setelah lulus SMA dia kuliah di jurusan Arsitek dan sekarang dia bekerja di perusahaan yang cukup terkenal di Tokyo. Aku masih membawa buku yang tadi aku ambil, dan masih memperhatikan tulisan yang ada disampulnya. Aku setuju dengan tulisan itu, bahwa cinta itu rumit. “waktu itu, kenapa kau pergi tanpa memberitahuku?” tanyanya. Aku merasa seperti sedang di introgasi karena kesalahan yang sudah 7 tahun berlalu. Suaranya sedikit berubah, Sedikit lebih berat dari dulu. “Mmm, maafkan aku. Waktu itu aku hanya berpikir tidak ingin merusak suasana hatimu” jawabku. Suasananya berubah canggung. “Aku dengar dari Kido kalau waktu itu, hari dimana aku berangkat, kau kerumahku. Bukannya seharusnya waktu itu kau menemui Nana?” Haru terlihat berpikir sebelum akhirnya menjawab “Malam itu, setelah kembali dari taman aku berpikir sepertinya aku tidak benar-benar menyukai Nana. Aku sadar, kalau mungkin itu hanya perasaan kagum.” Jelasnya. “oh ya? Kenapa bisa begitu?” aku sedikit terkejut mendengar jawabannya. “mungkin karena waktu itu aku kurang peka, sampai tidak menyadari perasaanku sendiri” sambungnya lagi. Aku masih memperhatikannya. Dia menoleh, menatapku, sampai membuatku salah tingkah. “itu salahmu!” “Apa?” aku tidak mengerti maksudnya. Wajahnya berubah serius, dan masih terus menatapku “di taman waktu itu, kau sengajakan?” sambungnya. Aku berpikir, ditaman waktu itu? Apa mungkin yang dia maksud ciuman itu? Telingaku seperti panas, aku yakin wajahku sekarang memerah. “Kau seharusnya tidak boleh pergi begitu saja, tanpa bilang apapun padaku. Apa lagi setelah apa yang kau lakukan waktu itu” sambungnya. aku benar-benar ditempatkan pada posisi terdakwa. Cara bicaranya seperti seolah-olah aku melecehkannya kemudian pergi begitu saja -___- “Aku tidak akan memaafakanmu!”. Waahh, bicaranya lebih terus terang dibandingkan dulu. “Aku…… aku minta maaf” aku melihatnya denga rasa bersalah. Sedangkan dia masih melihatku dengan wajah serius, namun tiba-tiba tersenyum dan dengan cepat menciumku dengan lembut. Speechless, aku tidak bisa berkata-kata. “7 tahun lalu setelah kau mencium dengan alasan sebagai latihan, lalu setelah itu kau pergi membawa setengah dari hatiku. Dan sekarang aku sudah mengambilnya kembali” aku mencoba mengerti maksudnya, tapi mungkinkah? “7 tahun ini aku sangat menderita, setelah ini jangan pergi tanpa mengatakan apapun lagi, tinggalah disisiku seperti dulu” sambungnya, kali ini sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya. Hal yang selalu dilakukannya waktu masih sekolah dulu. Aku sepertinya mulai mengerti maksudnya tapi aku belum yakin, hingga aku putuskan untuk bertanya “Haru, apa kau suka padaku?” Haru tersenyum. “Seharusnya aku yang bertanya. Kau suka padakukan?” dia malah balik bertanya. Bertahun-tahun diam, aku tak mau diam lagi. Aku mengangguk mengiyakan “Sejak kau menyelamatkanku dari pot waktu itu, sejak itulah aku mulai suka” jelasku. Haru mengelus kepalaku, “Aku salah karena tidak sensitif. Waktu itu aku bahkan rela mengorbankan diri demi kau seharusnya aku tau, itu bukan Cuma karena aku takut sahabtku terluka,  tapi sebenarnya sejak saat itu aku juga sudah menyukaimu lebih dari teman. Tapi aku butuh waktu yang sangat lama sampai menyadari itu”. Seperti mimpi mendengar Haru berkata seperti itu. Tenyata selama ini perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku berjalan keluar perpustakaan sambil menggandeng tangannya, seperti biasa. 7 tahun berlalu tangannya semakin kekar, dia juga sedikit bertambah tinggi. agak malu menggandengnya, karena dia bukan lagi anak SMA yang pendiam seperti dulu, melainkan seorang pria dewasa yang terlihat pintar dan juga lebih banyak bicara. Sosok lelaki yang ideal. Cinta itu kadang memang rumit. Tapi menurutku Cinta itu tidak pernah salah, hanya saja kadang manusianya yang salah memilih orang untuk dicintai. Selama ini aku memilih menutupi perasaanku karena merasa aku salah jatuh cinta pada sahabatku sendiri, tapi justru keputusan untuk diam itu yang membuat kami membutuhkan waktu yang sangat lama sampai kami menyadari perasaan masing-masing. Satu hal yang harus diingat, serumit apapun urusan percintaanmu, akan lebih baik jika kau mengungkapkan apa yang sebenarnya kau rasakan ketimbang menyimpannya sendiri. THE END.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar