Complicated
thing called love
(I’m fall in
love with my best friend)
By:
Indra Lestari
![]() |
| sumber gambar: google |
(Tokyo,
Musim panas)
Yang paling
aku sayangi didunia ini selain keluargaku adalah kedua sahabatku, Haru dan
Kido. Sejak duduk dibangku sekolah dasar sampai sekarang kami
selalu menghabiskan hari-hari bersama.
Mereka dua orang yang beda karakter yang membuat hari-hariku jadi lebih
seru. Haru, pribadi yang lembut, sikapnya penuh kehangatan dan sangat pintar.
Sejak duduk dibangku sekolah dasar dia selalu menjadi siswa dengan nilai
terbaik. Sedangkan Kido, anak yang periang, walaupun agak bodoh dan
uring-uringan tapi dia seperti malaikat pelindung bagiku. Berada diantara
mereka, dua cowok keren membuatku merasa beruntung, bahkan sampau membuat
cewek-cewek disekolah merasa iri J. Namaku Yuri,
18 Tahun siswa kelas 3 disalah satu SMU yang cukup popular di Tokyo, dan aku
sekelas dengan Haru dan Kido. Entah itu kebetulan atau takdir, tapi kami memang
selalu sekelas sejak dibangku sekolah dasar hingga sekarang.
Lari
uring-uringan, berebut makanan, bahkan menjadi korban kejahilan mereka berdua
sudah menjadi bagian dari keseharianku. Tapi sesering apapun mereka
menggangguku atau menjadikanku bahan ejekkan aku tetap suka karena aku tau itu
salah satu cara mereka menunjukan rasa sayang. “hey Yuri, sepertinya aku tidak
heran kalau sampai sekarang kau belum punya pacar. Dilihat dari sudut manapun
kau memang tidak punya daya tarik kewanitaan” seperti biasa saat sampai dikelas
Kido mulai mengataiku sambil mengunyah permen karet. Kebiasaannya memang suka
mengunyah permen karet bahkan saat pelajaran berlangsung. Aku mengkerling,
“makanya lihat pake mata, orang butapun akan tau kalau aku ini seksi” jawabku
lalu kembali fokus mengerjakan PR. Menyontek punya Haru tentunya. Haru
tersenyum “Hanya kau sendiri yang bilang kalau kau itu seksi. Seksi itu seperti
dia” Lanjut Kido sambil menunjuk Uehara Mika, salah satu siswi dikelasku yang
terkenal dengan bodinya yang aduhai, dada besar dan pinggul besar. “seperti
itulah gadis impianku” sambung Kido lagi, dengan ekspresi yang mulai berlebihan
(mata melotot memandangi satu arah dengan air liur yang mulai menetes) “Dasar
mesum!” teriaku lalu melemparkan pulpenku kearah Kido dan “aarrrrggghh…!!!” bingo!!! Mendarat tepat di jidatnya.
Kido meringis kesakitan. “Hah, rasakan itu” aku tertawa puas merasa menang,
sebelum akhirnya Haru menarik pipiku “cepat selesaikan tugasmu” Ujarnya, sambil
tersenyum. Senyum yang hangat seperti biasanya. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Berbeda sekali dengan Kido yang uring-uringan, kalau Haru pembawaannya lebih
tenang hingga terkesan berwibawa. “Aiiisssshhhh” Kido masih meringis kesakitan,
aku menoleh lalu menjulurkan lidah meledeknya kemudian kembali fokus ketugasku.
Pukul 4 sore,
bel panjang berdering menunjukan waktu pulang telah tiba. Rumahku, Rumah Haru
maupun Kido tidak begitu jauh dari sekolah hanya sekitar 15 menit berjalan kaki,
karena itu setiap pergi maupun pulang sekolah kami memilih untuk jalan kaki,
begitu juga sore ini. Lagi-lagi kido mulai jahil dengan cara sek-sekali
mengangkat ujung rok sekolahku dengan dahan kering yang dipungutnya dijalan.
“Kidoooooooooooooo….!!!” Teriakku kesal. “Hah! hampa tak ada apapun didalam”
ujar kido memasang tampang yang seolah kecewa. “isssshhhh” aku menatapnya
sinis. “Apa? Memang itu itu kenyataannya” Kido masih memasang wajah kecewa dan
itu membuatku sangat kesal. Tanpa ragu aku melepaskan sepatuku dan dengan cepat
melemparkannya kearah Kido, dan Bukkk! Tepat mengenai jidatnya. Kido meringis,
aku tertawa puas kemudian kembali mengambil sepatuku dan memakainya “hahah,
masih berani kau sekarang?” kataku, balas meledek kido. Haru tertawa melihat
tingkah kami “tadi itu hebat sekali” katanya tiba-tiba. Aku agak bingung
“lemparanmu” sambungnya yang kemudian membuatku mengerti apa yang dia maksud.
“hebat apanya? Wanita perkasa seperti dia tidak heran sampai sekarang belum
punya pacar” sambung Kido kembali menyindir. Aku hanya menatap sinis dan
kembali melanjutkan perjalanan dan tak memperdulikan perkataan Kido yang masih
saja terus meledek. 15 menit kemudian, sampailah aku di depan rumah. Rumah Kido
dan Haru masih beberapa blog lagi dari rumahku. “Aku duluan yah” pamitku ke
Haru, karena masih kesal aku tidak menegur Kido. “um, salam untuk ibumu” jawab
Haru, aku hanya mengangguk kemudian berjalan masuk kerumah. Begitu sampai
kamar, aku terdiam sejenak memandangi foto dimeja belajarku. Itu fotoku bersama
Haru dan Kido. Aku tersenyum, ada kebangaan tersendiri memiliki dua sahabat
yang tampan. :D
Aku duduk
ditaman sekolah, menatap kosong kearah lapangan. Diam-diam, sejak SD aku
memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat pada Haru, tapi tak pernah
kuceritakan pada siapapun. Ingatanku kembali melayang kemasa dimana pertama kali
aku mulai menyukai Haru, saat itu kelas 5 SD. Waktu itu aku dan Haru sedang
berada di kebun sekolah merawat beberapa bunga dan tanaman lainnya, sampai
tiba-tiba Pot yang letakknya sedikit lebih tinggi dari kami tiba-tiba terjatuh
dan nyaris mengenai kepala kepalaku tapi langsung di dorong oleh Haru sehingga
dialah yang terkena pot itu. Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya aku
melihat darah mulai mengalir dari kepalanya. Saat itu aku menangis histeris
melihat darah, tapi dia hanya tersenyum dan bilang “tidak apa-apa”. Saat itu
aku merasa dia sangat keren. “Sedang apa disini?” tanya seseorang, yang
langsung membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ternyata itu Haru. Aku tak mau
terlihat canggung, akupun berusaha bersikap biasa. “cari udara segar” jawabku.
Haru kemudian duduk disampingku. “Kido mana?” tanyaku kemudian. “Sedang sibuk
tebar pesona” jawab Haru sambil tertawa. Aku juga ikut tertawa, kali ini selera
humornya bagus. Mataku kemudian tertuju kebagian belakang kepalanya. Disana
masih terlihat bekas luka waktu itu. “Apa?” tanya Haru yang sepertinya
menyadari kalau aku sedang memperhatikan bagian kepalanya. “bekas luka itu,
seharusnya ada disini” jawabku sambil menunjuk bagian belakang kepalaku. Jujur
saja sampai sekarang masih ada sedikit rasa bersalah. “kau bicara apa?” Haru
tertawa, sepertinya merasa lucu dengan apa yang aku katakan. “bekas luka ini
keren, aku suka bekas luka ini” sambungnya masih sambil tersenyum. “benarkah?
Jujur saja, aku sedikit merasa bersalah. Kalau saja waktu itu aku lebih hati-hati”
belum sempat menyelesaikan kalimatku, Haru tiba-tiba mencubit pipiku dan
menariknya. Aku bisa merasakan kalau wajahku pasti terlihat aneh. “sudahlah,
tidak usah dibahas” katanya, kemudian kembali tertawa, sepertinya merasa lucu
melihat wajahku dengan pipi tertarik. Walaupun tidak seorangpun tau perasaanku
tapi aku sudah cukup senang dengan keadaan seperti ini, bisa selalu berada didekatnya
dan di sayangi walaupun cuma sebagai sahabat.
Liburan
musim panas sebentar lagi, dikepalaku di penuhi banyak rencana untuk liburan.
Aku berjalan menyusuri koridor sambil terus memikirkan tempat yang bagus untuk
liburan sambil mencari Haru dan Kido. Aku ingin membahas rencana liburan dengan
mereka berdua tapi tak satupun dari mereka yang kelihatan batang hidungnya. Aku
sampai dikelas, disana ada tas Haru. Itu artinya dia sudah ada disekolah. Aku
berpikir untuk mencarinya diperpustakaan, dan benar dia ada disana. Aku
bermaksud langsung mau menghampirinya tapi langkahku terhenti. Ternyata Haru
tidak sendirian. Dia bersama seorang cewek, dan mereka terlihat sangat akrab.
Aku mengurunkan niat, dan kembali ke kelas. Terus terang aku merasa sedikit
tidak suka saat melihat Haru begitu akrab dengan cewek lain, karena selama ini
dia tidak pernah sedekat itu dengan seorang cewek selain aku. “Selamat pagi”
Kido tiba-tiba datang dan langsung duduk dibangku tepat didepan tempat dudukku.
Aku tak menjawab. Kido menoleh, memperhatikanku “heiiiii,, kau kenapa? Kenapa
murung?” tanya Kido sambil mendorong jidatku dengan telunjuknya. Seperti biasa
dia mulai cari gara-gara lagi, tapi aku tetap tak menjawab. Wajah Kido berubah
serius “Ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya lagi. Aku tersenyum, kemudian
menggeleng. “Kau yakin?” Walaupun kadang menyebalkan tapi Kido ini sebenarnya orang
yang sangat peduli. Aku mengangguk meyakinkan. Haru tiba-tiba datang, sambil
tersenyum dia duduk dibangkunya yang berada tepat disampingku. “kau dari mana
saja?” tanyaku pura-pura tidak tau. “Tadi keperpustakaan mengembalikan buku,
tapi karena bertemu teman jadi ngobrol sebentar” jawab Haru. “teman wanita atau
pria?” timpal Kido dengan nada menggoda. Haru tersenyum tak menjawab. “Hah,
dari wajahmu jelas pasti dia wanita” sambung Kido lagi, dan Haru hanya
tersenyum. Aku tak bicara, hanya memperhatikan mereka berdua. Jelas sekali dari
wajahnya, Haru sepertinya sangat senang bertemu gadis itu.
Akhir-akhir
ini pikiranku terganggu dengan sosok gadis yang waktu itu bersama Haru di
perpustakaan. Aku tidak rela kalau sampai dia merebut perhatian Haru dariku.
Huffftt,, memikirkannya saja sudah membuatku marah, hingga reflek aku menutup
loker dengan sangat keras. Semua menoleh, aku jadi merasa tidak enak :p “Jangan
sampai lokernya rusak” suara yang tidak asing terdengar berasal dari belakangku.
Aku menoleh dan itu Haru. Aku tersenyum malu, lalu mengikutinya berjalan menuju
kelas. Ingin sekali aku menanyakan soal gadis yang waktu itu bersamanya di
perpustakaan tapi sedikit ragu. Aku menguatkan hati dan memutuskan untuk
bertanya. “oh ya, cewek yang waktu itu diperpustakaan,, siapa?” Akhirnya
perntanyaan itu keluar dari mulutku. Sambil terus melangkah Haru menjawab “oh Dia
anak kelas 1, aku mengenalnya karena kebetulan kami kursus ditampat yang sama”.
“ohh, begitu yah” jawabku datar. Haru tiba-tiba menoleh dengan wajah serius
“Bagaimana menurutmu?” kali ini gantian Haru yang bertanya. “apanya?” aku
sedikit bingung dengan maksud pertanyaannya. “bagaimana menurutmu tentang gadis
itu? Dia cantik tidak?” sambung Haru. Sepertinya aku mulai tau apa maksudnya,
dan ini menyakitkan. “Kenapa diam saja?” “dia,, cantik” jawabku singkat. “tapi
sepertinya kau tidak senang” kata-katanya tepat! Tapi tidak mungkin aku
mengakuinya. “Aku senang kalau kau senang” akhirnya aku menyangkal. “Kau suka
padanya?” Tanyaku. Senyumnya mengembang, aku tidak pernah melihat senyumnya
yang seperti itu. Itu seperti senyum malu bercampur senang “Entahlah” jawabnya
sepertinya kurang yakin. “Dia pintar, aku suka cewek pintar. Dia juga suka baca
buku sama sepertiku. Dan dia ceria sama sepertimu” sambugnya, dan dengan hanya
melihat senyum Haru aku bisa tau kalau dia mengangumi gadis itu. Aku terdiam,
dan bertanya-tanya apa aku benar-benar harus berbagi perhatian Haru dengan
gadis itu, gadis yang bahkan aku tidak tau namanya.
Aku sampai
rumah, dan langsung disambut oleh ibu. Aku bermaksud ingin langsung ke kamar
tapi ibu menghentikan, katanya ada yang ingin dibicarakan. Dengan masih
berseragam lengkap akupun duduk diruang keluarga bersama ibu. Wajahnya terlihat
serius “ada apa bu?” tanyaku. “Sepertinya dalam waktu dekat kita harus pindah”
Aku terkejut mendengar apa yang ibu katakan “Pindah? Maksudnya pindah kerumah
lain?” Aku masih sedikit bingung. “Ayahmu akan ditugaskan di kantor kedutaan di
swiss, jadi kita harus pindah kesana” sambung ibu “Swiss? Aku tidak mau pergi!”
aku bangkit dari kursi tempatku duduk dan langsung pergi menuju kamar. Ibu
tidak mencegah, sepertinya dia mengerti kalau aku butuh waktu untuk sendiri.
Begitu sampai dikamar aku langsung menjatuhkan tubuhku ditempat tidur. Swiss???
Tempat itu sangat jauh. Aku suka Tokyo, aku suka berada disini. Aku suka
rumahku yang sekarang, suka sekolahku yang sekarang dan dua sahabatku, aku
tidak bisa kalau harus jauh dari mereka. Tanpa sadar aku mulai menangis, aku
benar-benar tidak ingin pindah.
Hari berikutnya,
sebelum kesekolah seperti biasa aku sarapan bersama ayah dan ibu. Mereka saling
melihat sebelum akhirnya ayah mulai bicara “Ibu sudah bilangkan tentang rencana
untuk pindah?” Aku hanya mengangguk lalu mulai menyantap sarapanku. “Mulailah
persiapkan diri” sambung ayah. “berapa lama kita akan disana? Tanyaku. “sampai
kontrak ayah habis, sekitar 7 tahun.” Aku benar-benar tidak ingin ikut, tapi
aku tidak memiliki pilihan. Kata-kata ayah masih terus mengganggu pikiranku,
bahkan ketika aku sudah disekolah. 7 tahun itu bukan waktu yang singkat . Aku
duduk sendiri dikelas, dan berpikir untuk tidak memberitahu Haru ataupun Kido
soal rencana kepindahan itu. Tiba-tiba Haru datang “baguslah kau disini”
katanya. “ada apa?” tanyaku. Haru memperhatikan sekitar sebelum akhirnya mulai
bicara “Aku….Mmmm,, kaukan tau, sebelumnya aku tidak pernah sekalipun mendekati
seorang cewek. Jadi aku ingin meminta bantuanmu” aku mulai mengerti arah
pembicaraan Haru, dan ini menyakitkan. “cewek yang waktu itu yah? Tanyaku, Haru
hanya tersenyum. “Namanya Nana. Aku tidak tau bagaimana cara mendekatinya,
karena kau juga cewek aku ingin minta saran darimu”. Aku berusaha tersenyum,
lalu mengiyakan untuk membantunya. “cewek itu suka dilindungi, suka diberi
hadiah, cewek juga suka diperhatikan walaupun Cuma hal-hal kecil misalnya merapikan rambutnya yang berantakan
atau mungkin membenarkan dasinya yg miring” jelasku. Aku menjelaskan itu sambil
memikirkan hal-hal yang pernah dilakukan Haru padaku. Melindungiku dari pot bunga
yang jatuh, memberi hadiah saat aku ulang tahun, merapikan rambutku yang
sedikit berantakan dan membenarkan dasiku yang miring itu selalu dilakukan
Haru. “Yang terpenting bersikap baiklah padanya, dan tetap jadi dirimu sendiri.
Kau sangat baik, cewek manapun pasti akan menyukaimu”. Haru tersenyum, dan
mengelus kepalaku “terimakasih” katanya. Aku selalu suka setiap kali dia
mengelus kepalaku dan aku akan sangat merindukan hal itu ketika aku sudah pindah
nanti. Haru kemudian memperhatikan buku yang ada dimejanya, aku tau apa yang
dia pikirkan. Gadis itu pasti ada diperpustakaan “Pergilah, temui dia” seruku,
sambil terus berusaha tersenyum. Haru mengangguk lalu meraih buku dimejanya dan
langsung pergi. Walaupun tidak begitu rela, tapi sepertinya aku memang harus
belajar untuk melupakan Haru. Mungkin hubungan kami berdua cuma bisa sebatas
sahabat dan tidak lebih dari itu. Tiba-tiba Kido muncul dengan wajah datar
tanpa ekspresi. Dia tidak seperti biasanya, yang selalu langsung meledekku
begitu dia datang. “Heiiii,, kau kenapa?” tanyaku seraya menunjuk-nunjuk
punggungnya dengan telunjukku. Dia menoleh dengan wajah yang serius “seharusnya
aku yang tanya ada apa denganmu” aku bingung dengan perkataan Kido “Soal apa?”
tanyaku lagi. “tadi aku dengar apa yang kau bicarakan dengan Haru” Jawab Kido.
“trus,, apanya yang salah? Aku hanya memberi saran”. Hufttt,, Kido
mengehmbuskan nafas panjang. “Kau menyukai Haru kan?!” ujar Kido tiba-tiba.
“Aku sudah tau sejak lama”, Sambungnya. “apa? Ha ha, jangan bercanda, mana
mungkin” Aku mencoba mengelak tapi sepertinya tidak berhasil. “kau mungkin bisa
membongi orang lain, tapi kau tidak akan bisa bohong padaku”. Aku terdiam,
tidak tau harus bilang apa lagi. “sejak kapan kau tau itu?” tanyaku. “sejak
insiden pot bunga itu” jawab Kido. “Wahhh,, kau hebat. Ternyata kau tidak
sebodoh kelihatannya” aku mencoba mencairkan suasana dengan mengajaknya
bercanda, tapi tak ada respon darinya. Kido menatap seperti marah, kemudian
wajahnya berubah sedih “katakan saja pada Haru” “apa?” “katakan pada Haru kalau
kau menyukainya!” “itu tidak mungkin!” timpalku tegas. “aku tidak ingin merusak
persahabatan kita. Aku sudah cukup senang bisa dekat dengannya walau hanya
sebagai sahabat”. Sambungku. “Jadi kau akan membiarkannya dekat dengan gadis
lain?” sepertinya Kido mulai emosi. Aku mengangguk pelan “asal dia bahagia, aku
akan baik-baik saja. Aku mohon jangan beritau Haru tentang ini” “Asihhhh,, kau
ini” “Aku mohon!”. Walaupun awalnya sulit, tapi akhirnya Kido mengangguk dan
berjanji tidak akan memberitau siapapun tentang ini.
Hari demi
hari berlalu, Haru dan Nana kelihatan semakin akrab. Disekolah mereka banyak
menghabiskan waktu bersama. Mereka memiliki banyak kesamaan jadi pasti tidak
akan sulit menyesuaikan diri. Aku berjalan menuju lapangan basket untuk mencari
Kido sebelum akhirnya tak sengaja melihat Nana sedang menggadeng Haru. Cara dia
menggandenganya sama persis seperti aku biasa menggandeng Haru. Jauh didalam
hati aku tak rela, aku merasa seperti posisiku sebagai orang yang selalu
bersama Haru tergantikan. Rasanya sesak tapi aku berusaha agar tidak menangis.
aku membantalkan niat untuk kelapangan basket, dan memutar arah menuju taman
belakang sekolah. Aku duduk dibangku lalu menghembuskan nafas panjang, mengatur
perasaan sambil menatap kosong kearah lapangan. inilah yang ku inginkan. Aku
ingin Haru bahagiah, dan sepertinya dia cukup bahagia saat bersama Nana, dan
seharusnya itu melegahkan. Seseorang tiba-tiba datang dan duduk tepat
disampingku. Itu Kido. Aku menoleh kearahnya dan mencoba tersenyum. Seperti
biasanya dia selalu tau perasaanku tanpa aku harus menjelaskannya. Dia kemudian
menarik kepalaku dan menyandarkannya didadanya. “tidak usah ditahan,
menangislah” serunya. Dan tak ada kata-kata lagi, tangiskupun pecah dalam
pelukan Kido. Aku meluapkan semua perasaan sakit dan sesak yang selama ini aku
pendam. Aku bersyukur disaat-saat seperti ini masih ada Kido yang selalu bisa
diandalkan.
Malam
harinya, aku membantu ibu membersihkan beberapa perabotan rumah yang tidak akan
dibawa dan memasukannya kedalam kardus. Hanya tinggal seminggu lagi sebelum
keberangkatan kami ke swiss. Ting tong !
bel tiba-tiba berbunyi, ibupun langsung bangkit dan berjalan menuju pintu
sedangkan aku masih lanjut dengan pekerjaanku. Samar-samar aku mendengar suara
dari depan, itu seperti suara Kido. Akupun langsung bangkit dan berlari menjuju
depan. Kido menatapku, dia seperti marah. “Kido duduklah, tante akan ambilkan
minum” kata ibu lalu meninggalkan kami berdua. “Ibumu bilang kalian sedang sibuk
mengurus kepindahan. Apa maksudnya? Siapa yang mau pindah?” Kido mulai
menyerangku dengan banyak pertanyaan. Aku terdiam sesaat. Kido kelihatan
semakin marah. “Yuri ayo jawab!” sambungnya lagi. “Mmmm,, Sebenarnya, ayahku
akan ditugaskan di kantor kedutaan jepang di swiss, jadi kami harus pindah
kesana” dengan hati-hati aku mencoba menjelaskan. “maafkan aku, karena tidak
memberitahumu sebelumnya”. Kido kelihatan terkejut, dia kemudian duduk mencoba
meyakinkan diri dengan apa yang didengarnya. Akupun ikut duduk disampingnya. “Apa? Lalu, kenapa kau tidak
bilang sebelumnya?” Aku diam tak menjawab sepatah katapun. “kapan kau akan
pergi?” tanyanya lagi. “minggu depan” jawabku. “Ini serius? Lalu bagaimana
dengan sekolahmu? Bagaimana rencana liburan musim panas kita? Bagaimana dengan
Haru?” “jujur saja, sebenarnya aku juga
tidak ingin pergi, tapi tidak ada pilihan lain. Maaf tidak bisa melewatkan
liburan musim panas bersama kalian” L Kido
keliahatan sedih, tapi tak ada yang bisa aku lakukan. “Jangan katakan apapun
pada Haru” Pintaku. “Kenapa?”. “Aku tidak ingin mengganggu pikirannya. Biarkan
saja dia tau setelah aku berangkat nanti” jelasku. Walaupun awalnya ragu tapi
akhirnya Kido mengiyakan.
Sehari
sebelum keberangkatanku, Haru masih belum tau. Kido memang selalu bisa
dipercaya dalam hal menyimpan rahasia. Aku kembali memeriksa barang-barang yang
akan kubawa, dan memastikan tidak ada yang ketinggalan, temasuk fotoku saat
bersama Haru dan Kido. Kring kring! Ponselku
berdering, dan ternyata ada pesan dari Kido –Kau ceroboh, aku hanya ingin mengingatkan jangan sampai ada yang
ketinggalan- akupun langsung membalasnya –iyah aku tau. Jangan lupa besok pagi kerumahku, aku tidak mau kau
mengantarku kebandara, nanti aku akan sedih. dan jangan sampai Haru tau sebelum
aku berangkat – Beberapa menit berlalu, tapi belum ada balasan dari Kido.
Aku berpikir mungkin dia sedang menangis karena sedih aku akan pergi… hehe,,
aku akan sangat merindukan saat-saat dia meledekku. Dan Haru, aku akan sangat
merindukannya lebih dari kata-kata yang bisa aku ucapkan. Kriing kriing! Ponselku berdering lagi, aku pikir itu balasan pesan
dari Kido tapi ternyata itu pesan dari Haru. – Sepertinya aku butuh saran lagi darimu, malam ini kau punya waktu?-
walaupun aku tau dia pasti akan membahas soal Nana lagi tapi aku sangat senang
menerima pesan darinya. –ok, kerumahku
setelah jam makan malam J- balasku. Aku senang masih akan
bertemu dengannya sebelum aku berangkat. Setelah makan malam, aku menunggunya
didepan rumah. Aku tak mau membiarkannya masuk kerumah karena pasti dia akan
tau setelah melihat perabotan rumah yang sudah dipindahkan. Hanya sekitar 5
menit menunggu Haru muncul. Dia selalu terlihat lebih keren saat sedang tidak
mengenakan seragam sekolah. Dia sedikit bingung karena aku menunggunya didepan
rumah “Malam ini kau boleh minta saran tapi sambil mengajakku jalan-jalan”
jelasku. Haru tersenyum mengiyakan. Sudah lama sejak terakhir kali aku keluar
menikmati suasana kota dimalam hari, dan aku senang karena bisa merasakannya
kembali ditemani Haru. Kami duduk di bangku taman kota yang dipenuhi lampu
warna-warni. Ada banyak pasangan kekasih yang juga sedang duduk disana
menikmati suasan taman yang cukup menyenangkan. “Hmmm,, jadi bagaimana
kelanjutan antara kau dan Nana?” Aku mencoba membuka percakapan. “Kami sudah
cukup dekat, tapi aku belum bilang kalau aku menyukainya. Sepertinya aku belum
yakin” jawabnya. “Kenapa belum yakin? cewek itu tidak suka menunggu lama. Kalau
kau suka padanya kau harus cepat-cepat memberi tau dia”. Walaupun mungkin aku
tidak bisa memiliki Haru sebagai pacar, aku bahagia saat dia begitu bahagia.
Dia selalu tersenyum setiap kali berbicara tentang Nana, dan aku akan ikut
tersenyum bersama dia. “jadi begitu yah?!” Haru tersenyum lagi. “Kalau begitu Aku
akan bilang padanya besok” sambungnya. “saat akan mengutarakan perasaanmu
padanya, jangan lupa bawa coklat atau bunga. Dia pasti akan suka”. Haru
tersenyum malu kemudian mengangguk. Aku mengalihkan pandanganku darinya,
memandang keatas langit yang penuh bintang. Aku berdebar-berdebar, tidak
seperti biasanya. Aku kembali melihatnya dan bertanya “Apa kau berdebar-debar?”
Haru kelihatan bingung dengan pertanyaanku. “saat bersama Nana, apa kau
berdebar-bedebar? Orang bilang, kita akan berdebar-debar saat sedang bersama
orang yang kita suka” sambungku menjelaskan. “Hmmm,, entahlah. Aku senang kalau
bertemu dia, tapi sepertinya tidak sampai berdebar-debar”. “hmmm,, begitu yah.
Kau anehhh” Ledekku. Aku mengajaknya untuk keliling taman, duduk disatu tempat
cukup membosankan sementara taman kota ini sangat luas. Aku berjalan sambil
menggandenganya seperti biasa. Mungkin ini yang terakhir kali aku
menggadenganya, dia juga sek-sekali mengelus kepalaku seperti biasa. Hampir
setangah jam berkeliling kakiku pegal dan memutuskan untuk kembali duduk
dibangku dekat air mancur. “kau lelah?” tanyanya. “um, kakiku lumayan pegal”
jawabku. Lalu dengan cepat dia mengangkat kakiku kepangkuannya dan mulai
memijatnya. Hahhh,, tidak heran aku sampai jatuh cinta padanya, sikapnya yang
perhatian dan hangat seperti ini tidak akan bisa di tolak oleh gadis manapun. “Besok
kau harus semangat, jangan sampai terlihat gugup di hadapannya” kataku lagi
mencoba mengingatkan, namun tujuan sebenarnya aku berkata seperti itu adalah
agar tidak terlihat canggung. “iya, aku
tau” jawabnya sambil terus memijat kakiku. Suasana sempat hening beberapa
detik. “Haru…” panggilku kemudian. “Apa?” “Setauku kau belum pernah mencium
cewek, iyahkan?” beberapa detik Haru menghentikannya pijatannya, melihat
kearahku kemudian kembali memijat kakiku tanpa menjawab sepatah katapun. “Saat
menciumnya jangan sampai terlihat gugup” kataku lagi. “iyah akan aku usahakan”
jawabnya santai tanpa melihatku. Aku sedikit tidak rela membayangkan dia akan
mencium gadis lain. Aku segera menarik kakiku yang sedang dia pijat “sebagai
latihan coba lakukan padaku!” seruku. “apa???” Haru terkejut. “Coba lakukan
padaku, latihan” sambungku saraya menjunjuk bibirku sambil tersenyum. Aku tau
ini memalukan, tapi sudah terlanjur ku katakan. Haru masih terdiam, saat itu
jantungku berdetak sangat kencang seperti akan melompat keluar tapi aku tetap
berusaha bersikap biasa. Aku masih menatap kearah Haru, tapi dia keliahatan
ragu untuk melakukannya. “saat kau akan melakukannya, bersikaplah biasa seperti
ini” aku mendekatkan wajahku kearahnya. Aku bertingkah seolah tau cara
melakukannya padahal sebenarnya ini juga yang pertama buatku. Dag dig dug dag
dig dug… detak jantungku semakin kencang saat wajahku semakin dekat kearahnya,
aku juga bisa dengar suara detak jantungnya yang cepat. Dia terlihat gugup tapi
tak menghindar sampai akhirnya bibirku benar-benar menyentuh bibirnya. My first kiss! Akhirnya kuberikan pada
Haru. Hari semakin malam, akhirnya Haru mengantarku pulang. Agak canggung, tapi
sebisa mungkin aku bersikap biasa dengan terus mengajakknya ngobrol. Tidak
terasa, kami sampai didepan rumahku. “masuklah!” serunya. “Um. Hati-hati. Salam
sama ibumu” jawabku. “kau lebih tampan saat sedang tersenyum, jadi
banyak-banyaklah tersenyum. Jangan terlalu serius dengan pelajaran, sek-sekali
ajak Kido dan pergilah menghibur diri” sambungku. Haru tersenyum lalu
mengangguk. “jaga kesehatan, dan makan tepat waktu” “iyaaahhh” spontan dia
menarik pipiku. “kau banyak bicara seperti biasanya” sambungnya sambil tertawa.
“sudah sana masuk!” katanya lagi, akupun berjalan masuk kedalam rumah. Itu akan
jadi kali terakhir aku bertemu Haru sebelum berangkat ke swiss. Aku mencoba
merelakan tempatku digantikan oleh Nana sebagai orang yang selalu ada disamping
Haru. Dan besok, saat aku pergi dalam waktu yang bersamaan Haru akan mengatakan
perasaannya pada Nana. Aku akan berdoa untuk kebahagiaan mereka, dan aku, sudah
cukup bahagia pergi setelah berhasil mencuri ciuman pertama Haru.
Keeseokan
harinya. Pukul 8 pagi, taxi sudah menunggu didepan rumah. Ayah dibantu supir
taxi mulai memasukan tas dalam bagasi. Kido terlihat sedih. “Disana kau harus
jaga kesehatan. Makan yang banyak biar badanmu lebih berbentuk. Kalau masih
kurus seperti itu mana mungkin ada yang menyukaimu” seperti biasa saat aku akan
pergipun dia masih sempat-sempatnya meledekku. Aku memeluknya dan mulai
menangis. “Kau juga jaga kesehatanmu, perhatikan makananmu. Jangan suka makan
sembarangan, dan tetap akurlah dengan Haru”. “iya pasti, kau jangan khawatir.
Setelah disana, jangan sering menangis lagi” aku mengangguk mengiyakan. “Yuri,
kita harus berangkat sekarang” panggil ibu. “iya bu” jawabku. “Kido, aku pergi
yah. Aku akan kirim email J” akupun berjalan masuk kedalam
Taxi yang kemudian melaju kencang semakin jauh dari rumahku, sampai akhirnya
tidak lagi terlihat.
Tokyo, 7 Tahun kemudian. Saat
kontrak ayahku telah berakhir akhirnya kami kembali lagi ke Tokyo, kerumah kami
yang dulu. Begitu turun dari Taxi, aku terdiam sejenak menatap rumahku yang
sudah 7 tahun kami tinggalkan. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Ingatanku
melayang kemasa dimana aku, Haru dan Juga Kido sering mengerjakan tugas bersama
dirumahku. Aku melangkah masuk, dan langsung menuju kekamarku. Tidak ada yang
berubah, hanya saja sebagian perabotannya masih ditutupi kertas. Aku mengambil
ponselku dan mengirim pesan ke Kido, mengajaknya bertemu di café diujung jalan.
Sore harinya, aku menunggunya di café itu. Kurang lebih 10 menit menunggu, Kido
datang. Dia terlihat lebih dewasa, dan lebih rapi. “Yuriiiiiiiiii” panggilnya
lalu bergegas mengampiriku. Aku tertawa melihat tingkahnya, dia selalu heboh
seperti biasanya. “Kido, aku hampir tidak mengenalimu. Kau banyak berubah, terlihat
jauh lebih tampan”. “Aku juga hampir tidak mengenalimu. Kau terlihat lebih
mirip wanita sekarang” kata Kido lalu mulai memperhatikanku dari ujung kaki
sampai ujung rambut. Aku lagi-lagi hanya bisa tertawa. “oh iya, kau kerja
dimana sekarang? tanyaku. “kerja diperusahaan ayahku” jawab Kido “kau sendiri?”
“waktu di swiss aku punya butik, dan dalam waktu dekat aku berencana kembali
buka butik disini”. “begitu yah. Kau sudah menghubungi Haru?” Tanya Kido. Aku
menggeleng “Aku belum punya keberanian untuk bertemu dia lagi” jawabku. “Kau
masih menyukainya” Tanya Kido lagi. Aku hanya diam tak menjawab sepatah
katapun. Tapi seperti biasanya, Kido bisa tau tanpa aku harus mengatakannya. “Aku
kagum kau bisa tahan menyukai seseorang selama itu. Apa di Swiss sana tidak ada
yang mau mendekatimu” lagi-lagi dia mulai meledek, aku hanya mengkerling lalu
tertawa bersama dia.
Saat sampai
dirumah, aku merebahkan tubuhku di sofa kamarku. Aku terus memikirkan cerita
Kido saat di café tadi, cerita bahwa sesaat setelah Aku pergi 7 tahun lalu Haru
tiba-tiba kerumahku. Lalu Haru yang tiba-tiba menjauh dari Nana setelah Aku
pergi tanpa menjelaskan alasannya. Aku penasaran, bukankah seharusnya Haru
bertemu Nana dihari yang sama saat aku pergi? Kenapa dia tiba-tiba datang
kerumahku? Cerita yang aku dengar dari Kido 7 tahun lalu, sesaat setelah aku
pergi.
Flash Back 7 Tahun lalu!
Kido memandangi Taxi-ku yang semakin lama
semakin menjauh, sampai akhirnya menghilang dipembelokan. Saat dia bermaksud
akan pergi, tiba-tiba Haru datang sambil berlari, namun begitu sampai dia
menyadari ada yang tidak beres. Dia mendobrak masuk kehalaman rumah, memencet bel
berulang kali tapi tak ada yang mebuka pintu. Kido hanya memperhatikannya tanpa
bicara. Lelah memencet bel Haru berlari menghampiri Kido “Kenapa rumahnya
kosong?” tanya Haru. dengan perasaan bersalah Kido menjawab “mereka baru saja
pergi”. “pergi kemana?” timpal Haru, dia terlihat emosi sampai mulai menarik
baju Kido. kido membiarkannya dan tidak melawan sedikitpun. “Ayahnya dipindah
tugaskan di Swiss jadi mereka sekeluarga pindah kesana”. “Apaaa???” Haru kaget
mendengarnya, seperti ada penyesalan besar. “Maaf, Yuri memintaku untuk tidak
memberitahumu. Dia bilang, dia tidak mau membuatmu sedih” jelas Kido. Haru
hanya berdiri mematung tak mengatakan apapun lalu pergi dengan langkah gontai.
Aku beberapa
kali mengotak-atik ponselku ingin menelpon Haru tapi selalu aku batalkan. Aku
tidak tau harus bilang apa nanti saat bicara dengannya. Dia pasti akan sangat
marah padaku. Aku kemudian memutuskan untuk mengirim pesan ke Kido, mengajaknya
bertemu di perpustakaan umum yang dulu sering kami kunjungi bertiga dengan
Haru.
Keesokan
harinya, aku menunggu di perpustakaan itu. Tak banyak yang berubah, selain
beberapa rak buku yang warnahnya berubah dari coklat menjadi biru. Hari ini
tidak banyak pengunjung yang datang. Aku berjalan berkeliling disekitar rak,
sambil mengenang saat-saat Aku, Haru dan juga Kido sering ,membaca ditempat
ini. Hampir setengah jam aku menunggu, seperti biasa Kido selalu terlambat. Satu
persatu buku aku perhatikan, sampai akhirnya mataku berhenti pada sebuah buku
yang disampulnya tertulis Complicated
Thing called love. Aku penasaran dengan buku itu, aku kemudian menariknya
keluar dari rak namun saat menoleh ingin menuju bangku tempat membaca,
langkahku terhenti setelah melihat sosok yang ada didepanku. Saking terkejutnya
aku sampai menjatuhkan buku yang aku pegang. Itu Haru, dia berdiri hanya
beberapa meter dihadapanku. Aku memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Dia memakai kemeja berwarna putih dan jeans warna biaru. Gaya rambutnya juga
berubah, dia keliahatan lebih ceria dan lebih tampan. “Haru…..” dia tersenyum.
“Kau pergi tanpa bilang apapun padaku, saat kembali kau juga tidak ingin bilang
apapun padaku?” aku diam tidak tau harus berbuat apa. Terus terang aku gugup,
sampai lututku gemetar. Aku semakin yakin tidak ada yang berubah dengan
perasaanku. Sampai sekarang, aku masih menyukainya. Kami duduk ngobrol. Seperti
biasanya saat sedang diperpustakaan dibandingkan harus duduk dibangku yang
disiapkan, dia lebih suka duduk disamping rak buku. Kami duduk berdampingan, bersandar di rak
disudut ruangan. Kido sempat bilang kalau setelah lulus SMA dia kuliah di
jurusan Arsitek dan sekarang dia bekerja di perusahaan yang cukup terkenal di
Tokyo. Aku masih membawa buku yang tadi aku ambil, dan masih memperhatikan
tulisan yang ada disampulnya. Aku setuju dengan tulisan itu, bahwa cinta itu
rumit. “waktu itu, kenapa kau pergi tanpa memberitahuku?” tanyanya. Aku merasa
seperti sedang di introgasi karena kesalahan yang sudah 7 tahun berlalu. Suaranya
sedikit berubah, Sedikit lebih berat dari dulu. “Mmm, maafkan aku. Waktu itu
aku hanya berpikir tidak ingin merusak suasana hatimu” jawabku. Suasananya
berubah canggung. “Aku dengar dari Kido kalau waktu itu, hari dimana aku
berangkat, kau kerumahku. Bukannya seharusnya waktu itu kau menemui Nana?” Haru
terlihat berpikir sebelum akhirnya menjawab “Malam itu, setelah kembali dari
taman aku berpikir sepertinya aku tidak benar-benar menyukai Nana. Aku sadar,
kalau mungkin itu hanya perasaan kagum.” Jelasnya. “oh ya? Kenapa bisa begitu?”
aku sedikit terkejut mendengar jawabannya. “mungkin karena waktu itu aku kurang
peka, sampai tidak menyadari perasaanku sendiri” sambungnya lagi. Aku masih
memperhatikannya. Dia menoleh, menatapku, sampai membuatku salah tingkah. “itu
salahmu!” “Apa?” aku tidak mengerti maksudnya. Wajahnya berubah serius, dan
masih terus menatapku “di taman waktu itu, kau sengajakan?” sambungnya. Aku
berpikir, ditaman waktu itu? Apa mungkin yang dia maksud ciuman itu? Telingaku seperti
panas, aku yakin wajahku sekarang memerah. “Kau seharusnya tidak boleh pergi
begitu saja, tanpa bilang apapun padaku. Apa lagi setelah apa yang kau lakukan
waktu itu” sambungnya. aku benar-benar ditempatkan pada posisi terdakwa. Cara
bicaranya seperti seolah-olah aku melecehkannya kemudian pergi begitu saja
-___- “Aku tidak akan memaafakanmu!”. Waahh, bicaranya lebih terus terang
dibandingkan dulu. “Aku…… aku minta maaf” aku melihatnya denga rasa bersalah. Sedangkan
dia masih melihatku dengan wajah serius, namun tiba-tiba tersenyum dan dengan
cepat menciumku dengan lembut. Speechless,
aku tidak bisa berkata-kata. “7 tahun lalu setelah kau mencium dengan alasan
sebagai latihan, lalu setelah itu kau pergi membawa setengah dari hatiku. Dan
sekarang aku sudah mengambilnya kembali” aku mencoba mengerti maksudnya, tapi
mungkinkah? “7 tahun ini aku sangat menderita, setelah ini jangan pergi tanpa
mengatakan apapun lagi, tinggalah disisiku seperti dulu” sambungnya, kali ini
sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya. Hal yang selalu dilakukannya
waktu masih sekolah dulu. Aku sepertinya mulai mengerti maksudnya tapi aku
belum yakin, hingga aku putuskan untuk bertanya “Haru, apa kau suka padaku?”
Haru tersenyum. “Seharusnya aku yang bertanya. Kau suka padakukan?” dia malah
balik bertanya. Bertahun-tahun diam, aku tak mau diam lagi. Aku mengangguk
mengiyakan “Sejak kau menyelamatkanku dari pot waktu itu, sejak itulah aku
mulai suka” jelasku. Haru mengelus kepalaku, “Aku salah karena tidak sensitif.
Waktu itu aku bahkan rela mengorbankan diri demi kau seharusnya aku tau, itu
bukan Cuma karena aku takut sahabtku terluka,
tapi sebenarnya sejak saat itu aku juga sudah menyukaimu lebih dari teman.
Tapi aku butuh waktu yang sangat lama sampai menyadari itu”. Seperti mimpi
mendengar Haru berkata seperti itu. Tenyata selama ini perasaanku tidak
bertepuk sebelah tangan. Aku berjalan keluar perpustakaan sambil menggandeng
tangannya, seperti biasa. 7 tahun berlalu tangannya semakin kekar, dia juga
sedikit bertambah tinggi. agak malu menggandengnya, karena dia bukan lagi anak
SMA yang pendiam seperti dulu, melainkan seorang pria dewasa yang terlihat
pintar dan juga lebih banyak bicara. Sosok lelaki yang ideal. Cinta itu kadang
memang rumit. Tapi menurutku Cinta itu tidak pernah salah, hanya saja kadang
manusianya yang salah memilih orang untuk dicintai. Selama ini aku memilih
menutupi perasaanku karena merasa aku salah jatuh cinta pada sahabatku sendiri,
tapi justru keputusan untuk diam itu yang membuat kami membutuhkan waktu yang
sangat lama sampai kami menyadari perasaan masing-masing. Satu hal yang harus
diingat, serumit apapun urusan percintaanmu, akan lebih baik jika kau
mengungkapkan apa yang sebenarnya kau rasakan ketimbang menyimpannya sendiri. THE END.
