ARTIKEL

Selamat datang

follow blog-ku yach,,, dan jangan lupa beri komentar ... thanks ^_^

Kamis, 03 Desember 2009

Yuki's Winter


Tokyo ,,, Desember (musim dingin)

Udara musim dingin terasa menusuk sampai ketulang. Namun hal tersebut tak mengurunkan niatku untuk pergi ke lapangan tempat Ryu berlatih sepak bola. Aku Yuki,, 17 thn.
Entah kenapa, hanya dengan melihatnya dari kejauhan, sudah cukup membuatku merasa senang. Seperti biasa, wajahnya berseri saat sedang bermain bola. Dia tak begitu peduli dengan hal lain yang terjadi disekitarnya,, termaksud tak memperdulikan Aku yang telah lama menyukainya. Mungkin baginya, sepak bola adalah hidupnya.

Ryuzaki,, adalah kapten tim sepak bola di sekolah kami. Keahliannya dalam bermain bola,, dan di dukung oleh kesempurnaan secara fisik membuatnya banyak dikagumi para gadis.

Keesokkan harinya,, hari ke sepuluh di bulan desember bertepatan dengan ulang tahun Ryu yg ke-18.
Begitu sampai di kelas semua siswi nampak sedang sibuk memperbicangkan masalah ulang tahun Ryu. Masing-masing dari mereka mulai memamerkan bingkisan yang akan mereka berikan padanya. Beberapa menit kemudian,, akhirnya Ryu sampai dikelas masih dengan sikapnya yang dingin dan tak ketinggalan,, syal hijau mencolok yang menjadi ciri khasnya melingkar tepat dilehernya. Melihat Ryu, gadis-gadis itu langsung berebut mengucapkan selamat ulang tahun dan menyerahkan kado. Masing-masing dari mereka seolah mengeluarkan seluruh kemampuan mereka untuk menarik perhatian Ryu. Namun hatinya terlalu beku untuk ditaklukan. Ekspresinya datar,, dan tak ada satupun kado diterimanya. "hey, Ryu... Kenapa kadonya tidak diterima? Kan sayang". Tanya Yuji sahabatnya, yang berjalan tepat dibelakangannya. "kalau kau mau,, ambil saja!". Jawab Ryu lirih lalu berjalan menuju tempat duduknya yang berada tepat di samping jendela.
Gadis-gadis itu tampak kecewa dengan sikap Ryu, namun seperti biasa dia sama skali tak peduli dengan hal itu.
Aku terdiam mematung seraya menggenggam erat sebuah gelang yang kubuat sendiri. Aku sudah tak punya keberanian untuk memberikan gelang itu padanya. Aku tak ingin nasibku berakhir sama seperti gadis-gadis itu. Rasanya sesak jika membayangkan akan mendapatkan penolakan darinya. Aku bingung harus membuat apa.
"kalau tidak mencoba bagaimana kau bisa tau hasilnya". ujar sahabatku keiko yang baru saja datang dan langsung duduk tepat disampingku. "Maksudnya?".
"Berikan saja padanya,, diterimat atau tidak itu urusan belakangan, yang penting kau sudah berusaha". Jelasnya, seakan tau apa yang Aku pikirkan. Yang dikatakan Keiko mungkin ada benarnya. Memang sudah saatnya mengungkapkan apa yang aku rasakan. Dua tahun lebih aku menyimpan perasaan ini,,dan rasanya Aku tak akan sanggup lagi jika harus lebih lama dari itu.

Saat jam makan siang tiba,, akhirnya Aku memberanikan diri untuk mengajaknya bertemu ditaman belakang sekolah. Suasana sepi,, dan hening. Aku bisa mendengar suasa angin sepoi yang sek-sekali datang. Aku berdiri dengan jarak satu meter tepat didepannya. Dia menatap tajam kearahku seraya memasukkan kedua tangannya dalam sakunya. Syal hijaunya tak pernah Ia lepaskan,,masih tetap terpasang rapi di lehernya.
Aku terdiam sejenak, sebelum akhirnya mulai berbicara dengan suara yang bergetar.
"Selamat ulang tahun Ryu". Kalimat itu yang pertama ku ucapkan. Dia terdiam, sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Terimakasih!!. Kalau sudah selesai, Aku pergi sekarang".
"Tunggu!" Cegatku.
Aku menarik nafas dalam-dalam,, inilah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.
"Maaf, mungkin ini akan terdengar bodoh". Kataku,,lalu berhenti sejenak. Ryu pun tampak begitu serius menyimak apa yang akan Aku katakan.
"Aku.....Suka kamu,, Ryu!". Akhirnya kalimat itu keluar dari mulutku. Lututku bergetar seolah tak mampu lagi menopang tubuhku. Namun, Aku berusaha keras untuk tidak tumbang dihadapannya.
" Aku suka cara kau berlari, Aku suka cara kau berbicara, Aku suka cara kau berjalan, Aku suka matamu, hidungmu, mulutmu, Aku suka tingkahmu yang angkuh, dan Aku suka melihat kau mengenakan syal hijau itu". Sambungku,,seperti setengah sadar.

Suasana hening sejenak,, suara angin sepoi kembali terdengar,, dan menerbangkan beberapa helai daun kering yang berserakan di tanah. Tak ada reaksi apapun darinya, hingga mendorongku untuk kembali berbicara.
"Walaupun kata orang, Syal hijau yang kau kenakan itu warnanya terlalu mencolok, tapi Aku suka. Selama ini,diam-diam tiap hari setiap pulang sekolah Aku selalu berjalan tepat di belakangmu. Memandangi punggungmu yang kekar dan syal hijau yang melingkar di lehermu. Syal hijau itu seolah membuat musim dingin bernuansa hijau".
"Aku tau !". Ujarnya tiba-tiba.
"Apa??".
"Aku tau, kalau tiap hari kau selalu berjalan tepat di belakangku." Sambungnya, seraya melangkah menghampiriku.
"Ayo pasang !!." Serunya, seraya mengulurkan tangan kirinya padaku dengan ekspresi datar.
"Apa??." Tanyaku tak mengerti.
"Gelang ditanganmu itu,, untuk Aku kan? ayo Cepat pasang!!."
Ternyata dia tau tentang gelang itu. Dan tanpa pikir panjang, Aku pun langsung memasangkan gelang hijau yang bertuliskan Namanya itu di tangan kirinya.
"Thanks!! . Udara disini sangat dingin,, Ayo kembali ke kelas!!." Ujarnya,, Lalu berjalan kembali ke kelas seraya menarikku ikut bersamanya.
Sama sekali tak ada penjelasan darinya,, apakah aku ditolak atau di terima. Namun Aku sudah cukup merasa senang kerena Aku menjadi gadis pertama yang digandengnya. Dia bahkan tak canggung melakukannya di depan teman-teman yang lain...
Ini baru awal, dan Aku harap masih ada kisah-kisah menyenangkan lainnya yang akan terjadi di musim dingin kali ini. ~^_^~

1 komentar:

  1. Yah,,, krisiz komentar d'blog,, jd komen sndiri dech. Hehe :p
    wktu lg nulis cerpen ini, otakq lg blank, , jd endingx kurang bguz... :-|

    BalasHapus